INVERSI.ID – Generasi Z tumbuh dan berkembang di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital. Mereka dikenal paling melek internet dan aktif di berbagai platform digital sejak usia dini. Namun, di balik kemahiran itu, Gen Z juga memiliki sejumlah kebiasaan online yang bisa menjadi celah empuk bagi para penjahat siber.
Menurut pakar privasi Kaspersky, Anna Larkina, peretas kini semakin cerdas dalam mengeksploitasi tren digital yang sedang digandrungi anak muda. Mulai dari oversharing hingga kegemaran terhadap mode Y2K, semua bisa dimanfaatkan untuk aksi phishing, pencurian data, hingga penipuan daring.
Berikut lima kebiasaan daring Gen Z yang perlu diwaspadai:
1. Oversharing di Media Sosial
Bagi Gen Z, berbagi momen hidup di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat sudah menjadi rutinitas. Mulai dari swafoto, update kegiatan harian, hingga lokasi terkini, semua dibagikan secara publik.
Masalahnya, jejak digital ini dapat dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk melancarkan serangan rekayasa sosial atau pencurian identitas. Informasi yang tampak sepele, seperti foto hewan peliharaan atau latar belakang rumah, bisa menjadi petunjuk untuk menjawab pertanyaan keamanan akun atau merancang penipuan yang meyakinkan.
2. Fear of Missing Out (FOMO)
FOMO atau rasa takut tertinggal membuat Gen Z mudah tergoda dengan berbagai konten promosi, peluncuran produk baru, atau event populer. Keinginan untuk menjadi yang pertama sering kali membuat mereka gegabah dalam mengeklik tautan yang tidak jelas sumbernya.
Penjahat siber memanfaatkan kelemahan ini dengan membuat tautan clickbait yang menjanjikan akses eksklusif. Padahal, tautan tersebut bisa saja berisi malware atau form palsu untuk mencuri informasi pribadi.
3. Demam Nostalgia Y2K
Tren fashion dan budaya awal 2000-an kembali booming di kalangan Gen Z. Mereka menghidupkan kembali game klasik seperti The Sims 2, Barbie Fashion Designer, dan Bratz Rock Angelz yang dulu populer saat era Y2K.
Sayangnya, banyak dari mereka yang mencari versi bajakan game atau aplikasi di situs tidak resmi. Ini membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk menyisipkan malware dalam file unduhan, yang bisa merusak perangkat atau mencuri data pribadi.
4. Kecanduan Fast Fashion
Gen Z menyukai kebebasan berekspresi lewat pakaian dan gaya yang unik. Tren fast fashion yang cepat berubah dan mudah diakses membuat mereka rentan terjebak dalam situs belanja palsu atau kode promo bodong.
Penjahat siber kerap membuat tiruan situs brand ternama untuk mencuri data kartu kredit dan informasi pribadi. Semakin aktif berbelanja online, semakin tinggi pula risiko terkena penipuan.
5. iDisorder dan Ketergantungan Teknologi
Istilah iDisorder merujuk pada kondisi ketika penggunaan teknologi secara berlebihan mulai memengaruhi kesehatan mental dan sosial. Gen Z kini semakin banyak yang melaporkan gangguan seperti kecemasan, stres, dan depresi akibat intensitas digital yang tinggi.
Sebagai solusi, mereka beralih ke layanan teleterapi atau aplikasi pelacak kesehatan mental. Namun, data yang tersimpan di platform ini sangat sensitif. Jika diretas, informasi tersebut bisa disalahgunakan untuk pemerasan atau penipuan berbasis psikologis.
Menjadi generasi yang paling melek digital bukan berarti kebal dari risiko siber. Justru karena kedekatan Gen Z dengan dunia maya, penting bagi mereka untuk memahami potensi ancaman yang mengintai dari kebiasaan sehari-hari. Bijak berbagi, cermat mengeklik, dan sadar akan keamanan data pribadi adalah langkah awal untuk tetap aman di dunia digital.***