By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Waspada, 5 Kebiasaan Digital Gen Z Ini Rentan Dimanfaatkan Penjahat Siber
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Waspada, 5 Kebiasaan Digital Gen Z Ini Rentan Dimanfaatkan Penjahat Siber

Terkini

Waspada, 5 Kebiasaan Digital Gen Z Ini Rentan Dimanfaatkan Penjahat Siber

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Generasi Z tumbuh dan berkembang di tengah pesatnya kemajuan teknologi digital. Mereka dikenal paling melek internet dan aktif di berbagai platform digital sejak usia dini. Namun, di balik kemahiran itu, Gen Z juga memiliki sejumlah kebiasaan online yang bisa menjadi celah empuk bagi para penjahat siber.

Contents
1. Oversharing di Media Sosial2. Fear of Missing Out (FOMO)3. Demam Nostalgia Y2K4. Kecanduan Fast Fashion5. iDisorder dan Ketergantungan Teknologi

Menurut pakar privasi Kaspersky, Anna Larkina, peretas kini semakin cerdas dalam mengeksploitasi tren digital yang sedang digandrungi anak muda. Mulai dari oversharing hingga kegemaran terhadap mode Y2K, semua bisa dimanfaatkan untuk aksi phishing, pencurian data, hingga penipuan daring.

Berikut lima kebiasaan daring Gen Z yang perlu diwaspadai:

1. Oversharing di Media Sosial

Bagi Gen Z, berbagi momen hidup di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat sudah menjadi rutinitas. Mulai dari swafoto, update kegiatan harian, hingga lokasi terkini, semua dibagikan secara publik.

Masalahnya, jejak digital ini dapat dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk melancarkan serangan rekayasa sosial atau pencurian identitas. Informasi yang tampak sepele, seperti foto hewan peliharaan atau latar belakang rumah, bisa menjadi petunjuk untuk menjawab pertanyaan keamanan akun atau merancang penipuan yang meyakinkan.

2. Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO atau rasa takut tertinggal membuat Gen Z mudah tergoda dengan berbagai konten promosi, peluncuran produk baru, atau event populer. Keinginan untuk menjadi yang pertama sering kali membuat mereka gegabah dalam mengeklik tautan yang tidak jelas sumbernya.

Penjahat siber memanfaatkan kelemahan ini dengan membuat tautan clickbait yang menjanjikan akses eksklusif. Padahal, tautan tersebut bisa saja berisi malware atau form palsu untuk mencuri informasi pribadi.

3. Demam Nostalgia Y2K

Tren fashion dan budaya awal 2000-an kembali booming di kalangan Gen Z. Mereka menghidupkan kembali game klasik seperti The Sims 2, Barbie Fashion Designer, dan Bratz Rock Angelz yang dulu populer saat era Y2K.

Sayangnya, banyak dari mereka yang mencari versi bajakan game atau aplikasi di situs tidak resmi. Ini membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk menyisipkan malware dalam file unduhan, yang bisa merusak perangkat atau mencuri data pribadi.

Baca Juga :

Jokowi Pilih Tinggalkan Istana Jakarta dan Panen Jagung Saat May Day 2024
Kemacetan Parah di Tol Jakarta Pagi Ini Akibat Volume Kendaraan Meningkat

4. Kecanduan Fast Fashion

Gen Z menyukai kebebasan berekspresi lewat pakaian dan gaya yang unik. Tren fast fashion yang cepat berubah dan mudah diakses membuat mereka rentan terjebak dalam situs belanja palsu atau kode promo bodong.

Penjahat siber kerap membuat tiruan situs brand ternama untuk mencuri data kartu kredit dan informasi pribadi. Semakin aktif berbelanja online, semakin tinggi pula risiko terkena penipuan.

5. iDisorder dan Ketergantungan Teknologi

Istilah iDisorder merujuk pada kondisi ketika penggunaan teknologi secara berlebihan mulai memengaruhi kesehatan mental dan sosial. Gen Z kini semakin banyak yang melaporkan gangguan seperti kecemasan, stres, dan depresi akibat intensitas digital yang tinggi.

Sebagai solusi, mereka beralih ke layanan teleterapi atau aplikasi pelacak kesehatan mental. Namun, data yang tersimpan di platform ini sangat sensitif. Jika diretas, informasi tersebut bisa disalahgunakan untuk pemerasan atau penipuan berbasis psikologis.

Menjadi generasi yang paling melek digital bukan berarti kebal dari risiko siber. Justru karena kedekatan Gen Z dengan dunia maya, penting bagi mereka untuk memahami potensi ancaman yang mengintai dari kebiasaan sehari-hari. Bijak berbagi, cermat mengeklik, dan sadar akan keamanan data pribadi adalah langkah awal untuk tetap aman di dunia digital.***

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026
Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal
TAGGED:gen zPenjahat Siber
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Menparekraf Ajak Anak Muda Garap Peluang Ekonomi Kreatif di Tengah Tantangan Dunia Kerja
Next Article Ratusan Siswa SMA Labschool Gelar Long March Promosikan PENSI LABS PROJECT 2025 di CFD Jakarta
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

3 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

3 days ago
Pildun 2026Terkini

Mbappe Cs Tampil Super Attacking, Les Bleus Makin Difavoritkan Juara

3 days ago
Pildun 2026Terkini

Messi, Mbappe, Haaland atau Kane? Siapa yang Akan Raih Sepatu Emas Piala Dunia 2026

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index