INVERSI.ID – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Teuku Riefky Harsya mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif sebagai solusi atas sulitnya mencari pekerjaan dan meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dalam acara edukasi digitalisasi dan inklusi keuangan bertajuk Gen Matic di Bali, Sabtu (14/6), Riefky mengatakan bahwa industri kreatif dapat menjadi jalan keluar yang relevan dan berkelanjutan di tengah perubahan tren global.
“Bagaimana kita mendapatkan pekerjaan yang lebih berkualitas? Salah satunya dengan mendukung berkembangnya industri kreatif. Dunia saat ini sedang bergeser dan tren ini harus dicermati bersama,” jelas Riefky.
50 Persen Generasi Muda Minat Terjun ke Industri Kreatif
Riefky mengungkapkan bahwa lebih dari 50 persen generasi muda Indonesia—khususnya yang berada di usia produktif di bawah 40 tahun—memiliki ketertarikan untuk berkarya di sektor industri kreatif. Mulai dari fesyen, musik, gim, film, animasi, hingga konten digital menjadi bidang yang paling banyak diminati.
Dalam lima tahun terakhir, menurut data Kementerian Parekraf, sebanyak 1 juta hingga 2,5 juta orang telah terserap ke dalam sektor industri kreatif. Banyak di antaranya berasal dari kalangan muda yang memanfaatkan teknologi digital dalam proses berkarya dan berinovasi.
“Gunakan keunikan dan kreativitas lokal, seperti kearifan budaya Bali, sebagai inspirasi dalam menciptakan konten yang relevan dengan pasar,” tambahnya.
Dari Konsumen Menjadi Kreator dan Wirausaha Digital
Riefky menegaskan pentingnya pergeseran peran generasi muda, dari sekadar pengguna teknologi menjadi pencipta atau kreator. Ia juga mendorong mereka untuk menjadi inovator dan wirausahawan digital yang bisa bersaing di level nasional maupun global.
Namun, ia mengingatkan bahwa terjun ke dunia industri kreatif tidak selalu mulus. Konsistensi, keberlanjutan, serta kemauan untuk belajar dari kegagalan menjadi kunci penting bagi pelaku UMKM di sektor ini.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat, saat ini terdapat 20 subsektor ekonomi kreatif yang potensial dikembangkan. Di antaranya adalah pengembangan gim, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film, animasi, fotografi, seni pertunjukan, hingga teknologi mutakhir seperti Web3 dan kecerdasan buatan (AI).
Sektor ekonomi kreatif sendiri telah menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Nilai tambah ekonomi kreatif Indonesia pada 2024 diproyeksikan mencapai Rp1.502,7 triliun—naik dari Rp1.417,6 triliun pada 2023.
Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini diperkirakan menyerap 26,47 juta tenaga kerja pada 2024, meningkat dari 24,92 juta orang di tahun sebelumnya.
“UMKM dan ekonomi kreatif adalah tulang punggung masa depan. Mari kita dukung bersama dengan ide-ide segar dari anak muda,” tutup Riefky.***