BEIJING – Di tengah serbuan kamera digital dan smartphone dengan kualitas foto sempurna, tren fotografi lawas justru kembali digemari anak muda Tiongkok. Film peel-apart yang rumit, manual, dan penuh ketidakpastian kini menjadi simbol gaya hidup nostalgia yang unik, bahkan rela dibayar mahal oleh para penggemarnya.
Meski prosesnya ribet dan hasilnya tak selalu sempurna, popularitas film peel-apart melonjak berkat rekomendasi selebriti dan media sosial. Dalam beberapa bulan terakhir, jutaan unggahan di platform seperti Weibo dan Xiaohongshu menampilkan foto-foto klasik dengan sentuhan vintage khas film peel-apart.
Fenomena ini membuktikan bahwa di balik perkembangan teknologi fotografi, ada kerinduan akan sentuhan analog yang penuh kejutan. Bisnis fotografi di Tiongkok pun ikut memanfaatkan tren ini dengan menawarkan jasa foto film peel-apart dengan harga premium.
Ketidakpastian yang Justru Memikat
Film instan jenis peel-apart, juga dikenal sebagai packfilm, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Edwin Land, pendiri Polaroid. Berbeda dengan film integral yang otomatis berkembang di dalam kamera, film peel-apart membutuhkan sentuhan manual. Setelah diambil, film ditarik keluar, lalu lapisan positif dan negatifnya dipisahkan secara manual untuk melihat hasil jepretan.
Proses ini menuntut ketelitian karena kesalahan sekecil apa pun bisa merusak hasil foto secara permanen. Tak heran, ketidakpastian menjadi ciri khas sekaligus daya tariknya.
Estetika vintage yang dihasilkan juga memberi kesan berbeda dibanding foto digital yang terlalu bersih dan seragam. Inilah yang membuat banyak anak muda rela membayar mahal demi merasakan pengalaman klasik tersebut.
Harga Selangit, Antusiasme Tak Surut
Fenomena ini dimanfaatkan oleh bisnis fotografi di berbagai kota besar Tiongkok. Studio-studio foto berlomba menawarkan layanan foto peel-apart lengkap dengan penataan rambut, rias wajah, hingga properti khusus bernuansa retro.
Meski harga sekali sesi bisa mencapai ratusan bahkan ribuan yuan, peminatnya tak surut. Salah satunya Hu Wengji, 20 tahun, mahasiswa di Shenzhen yang mencoba tren ini pada Januari lalu.
“Saya mengambil tiga foto—satu untuk saya, satu untuk teman, dan satu foto bersama. Tiga foto itu menghabiskan lebih dari 900 yuan (sekitar Rp2 juta),” ujar Hu kepada CNA.
Biaya yang relatif tinggi justru dianggap sebanding dengan pengalaman unik yang diperoleh, terutama bagi mereka yang mengutamakan nilai sentimental dibanding sekadar hasil foto.
Media Sosial dan Selebriti Picu Tren
Popularitas film peel-apart di kalangan anak muda tak lepas dari pengaruh media sosial dan selebriti papan atas. Dalam bahasa Mandarin, istilahnya dikenal sebagai si la pian, yang kini viral di Weibo dan Xiaohongshu dengan jutaan tampilan dan unggahan.
Aktris sekaligus penyanyi Ju Jingyi, yang memiliki lebih dari 31 juta pengikut di Weibo, mengunggah hasil foto peel-apart miliknya pada April lalu. Postingan itu disukai lebih dari 1 juta kali.
Selebriti lain seperti Liu Shishi dan artis Taiwan Ouyang Nana juga ikut memamerkan foto-foto klasik mereka dengan film peel-apart, memicu gelombang minat di kalangan penggemar mereka.
Unggahan para selebriti tersebut menambah citra eksklusif dan keren pada tren ini, membuatnya bukan sekadar hobi fotografi biasa tetapi juga pernyataan gaya hidup.
Antara Gaya Hidup dan Bisnis
Studio-studio foto di Tiongkok melihat tren ini sebagai peluang bisnis yang menjanjikan. Selain menyewakan kamera peel-apart dan menyediakan stok film yang semakin langka, mereka juga menawarkan layanan dengan nilai tambah seperti dekorasi klasik, properti vintage, hingga sesi photo shoot bertema tertentu.
“Kelangkaan film ini justru jadi daya tarik utama. Kami sengaja memasok jumlah terbatas untuk mempertahankan kesan eksklusif,” kata salah satu pemilik studio di Shanghai.
Selain itu, para pemilik studio juga rajin mempromosikan jasa mereka di media sosial, memanfaatkan tagar populer seperti #FilmPeelApart dan #VintagePhotography untuk menjangkau audiens muda yang haus pengalaman baru.
Nostalgia Digital: Mengapa Anak Muda Suka?
Lalu, mengapa anak muda yang tumbuh di era digital justru tertarik dengan cara lama yang ribet dan mahal ini? Sosiolog budaya di Beijing menyebut fenomena ini sebagai “nostalgia digital,” yakni kerinduan generasi muda terhadap pengalaman otentik di tengah dunia yang serba instan.
“Anak muda saat ini sudah terlalu terbiasa dengan foto digital yang bisa dihapus, diulang, dan diedit sesuka hati. Foto peel-apart justru memberi pengalaman sekali tembak yang penuh makna,” ujarnya.
Momen menunggu hasil foto sambil berharap-harap cemas menjadi bagian dari daya tariknya. Hasil foto yang tidak sempurna justru dianggap lebih jujur dan personal, jauh dari kesan palsu yang sering ditemui di media sosial.
Tren yang Akan Bertahan?
Meski saat ini tengah populer, banyak pengamat ragu apakah tren ini bisa bertahan lama. Tingginya harga film yang semakin langka serta terbatasnya pasokan kamera lama menjadi tantangan tersendiri.
Namun, bagi banyak anak muda, pengalaman sekali seumur hidup berfoto dengan film peel-apart sudah cukup berkesan.
“Di tempat kerja, semua orang hanya melihat hasil akhir. Tapi di sini, prosesnya yang penting,” ungkap salah satu pelanggan studio foto di Chengdu.
Tips Jika Ingin Coba Foto Peel-Apart
- Cari studio terpercaya dengan stok film asli dan kondisi kamera terawat.
- Siapkan budget ekstra karena biayanya cukup tinggi.
- Pastikan sudah berdandan atau gunakan layanan rias studio untuk hasil maksimal.
- Nikmati prosesnya dan jangan berharap hasil yang sempurna.