INVERSI.ID – Doom spending, kini menjadi topik hangat di kalangan anak muda. Pernahkah kamu merasa stres lalu tiba-tiba checkout belanjaan online dalam jumlah banyak? Atau saat gajian, rasanya ingin langsung jajan makanan fancy, beli skincare terbaru, atau outfit kekinian demi menaikkan mood?
Jika iya, kamu perlu berhati-hati. Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending. Istilah ini merujuk pada kebiasaan belanja berlebihan sebagai pelarian dari rasa cemas atau stres, khususnya yang dipicu oleh ketidakpastian masa depan. Daripada menghadapi masalah, sebagian orang justru memilih “menenangkan” diri lewat belanja impulsif.
Fenomena doom spending belakangan booming di kalangan gen Z dan milenial. Data dari USA Today dan CNBC Africa menunjukkan banyak anak muda saat ini merasa dunia semakin tidak pasti, baik dari sisi ekonomi, iklim, hingga isu sosial. Akibatnya, banyak yang mencari jalan pintas kebahagiaan instan dengan menghamburkan uang untuk belanja yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan.
Kenapa Doom Spending Banyak Dialami Gen Z?
Tren doom spending di kalangan gen Z bukan tanpa alasan. Menurut survei International Your Money Financial Security dari CNBC, sekitar 42,8 persen orang dewasa di seluruh dunia merasa kondisi keuangan mereka saat ini lebih buruk dibanding generasi orang tua mereka. Banyak yang merasa kecil kemungkinan mereka bisa mencapai pencapaian finansial seperti generasi sebelumnya, sehingga lebih memilih untuk menikmati hidup “sekarang” lewat belanja.
Ada beberapa alasan utama mengapa banyak anak muda terjebak dalam pola konsumsi ini:
1. Pelarian Emosional
Belanja kerap dijadikan cara cepat untuk membuat diri sendiri senang. Saat barang datang atau transaksi berhasil, ada rasa puas yang membuat kita lupa sejenak dengan masalah hidup.
2. Tekanan Sosial dan FOMO
Media sosial memunculkan tekanan sosial yang besar. Melihat orang lain pamer OOTD, liburan mewah, atau gadget terbaru sering kali membuat kita ingin ikut-ikutan supaya tidak merasa ketinggalan.
3. Akses Belanja yang Mudah
Di era digital, cukup satu klik sudah cukup untuk belanja. Ditambah lagi dengan promo, flash sale, dan gratis ongkir, membuat siapa pun semakin mudah tergoda membeli barang yang bahkan sebenarnya tidak begitu dibutuhkan.
Dampak Buruk Doom Spending
Doom spending yang tidak terkendali bukan hanya berdampak pada dompet, tetapi juga kesehatan mental. Rasa bersalah dan stres setelah belanja kadang justru memperburuk kondisi emosional yang ingin “disembuhkan” sejak awal. Di sisi lain, kebiasaan ini membuat kita kehilangan kesempatan untuk menabung, berinvestasi, atau mempersiapkan keuangan untuk hal-hal penting di masa depan.
Inilah mengapa penting bagi generasi muda untuk belajar lebih mindful spending, yaitu lebih sadar dan bijak dalam setiap pengeluaran.
Cara Menghindari Doom Spending
Supaya tidak semakin terjerumus dalam kebiasaan buruk ini, ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan mulai hari ini:
1. Buat Catatan Keuangan
Disiplinlah membuat anggaran bulanan. Tulis semua pemasukan dan pengeluaran supaya kamu lebih sadar mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya keinginan sesaat.
2. Cari Cara Lain untuk Healing
Ganti kebiasaan belanja impulsif dengan kegiatan yang lebih sehat seperti olahraga, journaling, memasak, atau hangout bareng teman. Aktivitas-aktivitas ini terbukti mampu memperbaiki mood tanpa menguras kantong.
3. Kurangi Paparan Pemicu
Kalau kamu sering tergoda melihat konten orang lain di media sosial, tidak ada salahnya untuk unfollow atau mute akun-akun yang membuatmu lapar mata. Ini akan membantu mengendalikan keinginan belanja yang tidak perlu.
Mindful Spending, Jalan Tengah untuk Bahagia
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan sesekali memanjakan diri. Membeli barang yang kita suka atau makan di restoran favorit kadang memang perlu untuk menyenangkan diri sendiri. Namun, jika sudah menjadi kebiasaan dan membuat finansial berantakan, saatnya belajar mengontrol diri.
Mindful spending mengajarkan kita untuk mengeluarkan uang dengan lebih bijak, penuh pertimbangan, dan tetap memperhatikan prioritas masa depan. Dengan begitu, kebahagiaan yang kita rasakan tidak hanya sesaat, tetapi juga memberi rasa tenang karena kondisi keuangan tetap sehat.
Jangan Sampai Menyesal
Doom spending bisa terasa menyenangkan di awal, tapi penyesalannya datang kemudian. Daripada menyesal karena saldo tabungan habis atau utang menumpuk, lebih baik ubah pola belanjamu mulai sekarang.
Kendalikan keinginan konsumtifmu, belajar memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting, dan tetap ingat bahwa masa depanmu lebih berharga dari sekadar memuaskan hasrat belanja sesaat.
Jadi, apakah kamu termasuk yang suka doom spending? Kalau iya, yuk mulai belajar mindful spending sekarang juga. Ingat, keuangan yang sehat adalah salah satu kunci hidup yang lebih tenang dan bahagia.***