By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Gaji Tinggi dan Aman dari AI, Pekerjaan Pertukangan Jadi Primadona Baru
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Gaji Tinggi dan Aman dari AI, Pekerjaan Pertukangan Jadi Primadona Baru

Terkini

Gaji Tinggi dan Aman dari AI, Pekerjaan Pertukangan Jadi Primadona Baru

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Persaingan di dunia pekerjaan saat ini makin ketat, terutama dengan kehadiran teknologi Artificial Intelligence (AI) yang kian masif mengambil alih sejumlah pekerjaan kantoran. Banyak profesi yang dulunya aman kini mulai tergantikan mesin cerdas, membuat para pekerja harus memutar otak untuk mencari jalan keluar. Menariknya, salah satu solusi yang kini dilirik adalah kembali ke pekerjaan pertukangan, yang justru kembali populer di tengah perkembangan zaman.

Contents
Sekolah di AS Ajarkan Pertukangan dengan Teknologi TinggiGaji Tinggi Jadi Daya Tarik UtamaDampak AI pada Pekerjaan Kantoran Jadi PemicuTeknologi dan Keterampilan Bisa Jalan BeriringanPekerjaan Manual Bukan Lagi Pilihan Terakhir

Fenomena ini terlihat jelas di Amerika Serikat (AS), di mana beberapa sekolah mulai mengajarkan keterampilan seperti pengelasan, pertukangan kayu, hingga manufaktur. Meski terdengar seperti profesi lama, pengajarannya kini sudah disesuaikan dengan teknologi modern dan menggunakan peralatan canggih, seperti lengan robot berbasis komputer.

Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap ketakutan banyak pihak bahwa AI bisa menggantikan pekerjaan manusia di perkantoran. Di sisi lain, profesi pertukangan justru dinilai lebih aman dari disrupsi teknologi sekaligus menawarkan gaji yang cukup tinggi.

Sekolah di AS Ajarkan Pertukangan dengan Teknologi Tinggi

Salah satu contoh nyata tren ini datang dari SMA Middleton di AS. Sekolah ini menggelontorkan dana besar hingga US\$90 juta atau sekitar Rp1,4 triliun untuk memperbarui laboratorium manufakturnya. Fasilitas baru ini memungkinkan para siswa belajar keterampilan pertukangan dengan cara yang lebih modern, memanfaatkan lengan robot yang dikendalikan lewat komputer dan berbagai mesin berteknologi tinggi.

Di balik jendela kaca besar, para siswa bisa menyaksikan langsung cara kerja robot saat merakit dan memproduksi berbagai komponen. Kelas ini juga mengajarkan mata pelajaran klasik yang sempat populer pada era 1990–2000-an, seperti konstruksi, manufaktur, dan pertukangan kayu.

Upaya ini rupanya cukup berhasil menarik minat siswa. Dalam beberapa tahun terakhir, tercatat lebih dari 2.300 siswa mendaftar untuk mengikuti kelas keterampilan ini

Gaji Tinggi Jadi Daya Tarik Utama

Pekerjaan.

Salah satu cara efektif yang digunakan untuk menarik minat generasi muda belajar pertukangan adalah dengan menunjukkan potensi penghasilannya. Quincy Millerjohn, guru bahasa Inggris sekaligus instruktur pengelasan di SMA Middleton, mengatakan bahwa pekerja di pabrik baja bisa mendapatkan upah sekitar US\$41 ribu hingga US\$52 ribu per tahun, setara Rp670 ribu hingga Rp849 ribu per jam jika dirinci secara rata-rata.

Angka ini cukup kompetitif jika dibandingkan dengan beberapa pekerjaan kantoran level entry yang kerap membutuhkan gelar sarjana. Gaji yang besar serta keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan di dunia nyata membuat banyak siswa akhirnya tertarik mendalami keahlian ini.

Dampak AI pada Pekerjaan Kantoran Jadi Pemicu

Kembalinya tren keterampilan pertukangan di sekolah tak lepas dari kekhawatiran para pekerja terhadap teknologi AI yang terus berkembang. John Mihm, konsultan pendidikan pemerintah negara bagian Wisconsin, menyebut bahwa AI menjadi alasan utama kenapa keahlian pertukangan kembali menarik minat banyak orang.

Baca Juga :

Ernest Prakasa dan Soleh Solihun Buka Suara Soal Program Tapera, Penghitungannya Tak Masuk Akal
Wapres Gibran Tenangkan Korban Banjir Bandang di Agam: Warga Sumatera Tidak Sendiri

Menurut Mihm, masyarakat mulai melihat adanya pergeseran paradigma: pekerjaan manual yang dulu dianggap “kasar” kini justru dipandang sebagai profesi dengan keterampilan tinggi dan gaji tinggi.

“[Pekerjaan tangan] kini adalah pekerjaan dengan keahlian tinggi dan gaji tinggi sehingga menarik buat banyak orang, karena mereka langsung melakukan segalanya sendiri,” ujarnya.

Teknologi dan Keterampilan Bisa Jalan Beriringan

Meski terdengar seperti kembali ke masa lalu, cara belajar keterampilan pertukangan di era sekarang jelas berbeda dengan dekade sebelumnya. Para siswa tidak hanya diajari cara memotong kayu atau mengelas secara manual, tetapi juga cara mengoperasikan robot, membaca desain digital, dan memanfaatkan software untuk manufaktur.

Artinya, keterampilan ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan industri modern, yang tetap mengandalkan manusia untuk kreativitas, presisi, dan kemampuan pengambilan keputusan sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dilakukan AI.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa manusia tetap punya tempat di dunia kerja, selama mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pekerjaan Manual Bukan Lagi Pilihan Terakhir

Kembalinya tren belajar pekerjaan pertukangan menunjukkan bahwa profesi manual kini bukan lagi sekadar pilihan terakhir bagi mereka yang tidak kuliah, tetapi sudah menjadi pilihan karier yang menjanjikan.

Dengan gaji yang kompetitif, keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri, serta peluang yang lebih aman dari disrupsi AI, tak heran jika banyak anak muda mulai melirik jalur karier ini.

Bagi generasi muda di Indonesia, fenomena ini bisa menjadi inspirasi bahwa penting untuk memiliki keterampilan praktis yang selaras dengan teknologi, sekaligus siap menghadapi perubahan dunia kerja yang cepat. Teknologi bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dimanfaatkan bersama dengan kemampuan manusia.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:aikerjaPekerjaan
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Gaya Fashion Anak Skena dan Starboy yang Viral di Media Sosial, Ekspresi Unik Remaja Masa Kini
Next Article Anak Muda Harus Tahu, Daftarin Ide ke HAKI Itu Investasi, Bukan Formalitas
1 Comment
  • Pingback: Remaja Lebih Nyaman Curhat ke AI daripada Manusia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

5 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

6 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index