INVERSI.ID – Di era digital saat ini, banyak remaja yang mencari cara baru untuk bersosialisasi, berbagi cerita, dan mencari saran. Tak jarang, mereka memilih bicara dengan teman sebaya untuk menggoda, berbagi masalah serius, atau sekadar ngobrol ringan. Namun, sebuah studi nasional terbaru menemukan fakta mengejutkan, hampir tiga perempat remaja di Amerika Serikat pernah menggunakan AI companion sistem percakapan berbasis kecerdasan buatan untuk melakukan hal-hal tersebut.
Sistem AI companion seperti CHAI, Character.AI, Nomi, hingga Replika semakin populer di kalangan remaja karena menawarkan pengalaman mengobrol yang unik, peran bermain, hingga dukungan terkait kesehatan mental. Data ini berasal dari laporan terbaru Common Sense Media, organisasi nonprofit yang fokus pada media anak muda. Studi ini dirilis pada Rabu, 16 Juni 2025, dengan fokus pada fenomena “teman digital” yang berbeda dari asisten AI, generator gambar, atau chatbot untuk tugas sekolah.
Lebih dari separuh responden sekitar 52% mengaku menggunakan AI companion secara rutin, bahkan beberapa kali dalam sebulan.
“Mereka pakai karena penasaran, untuk hiburan, atau sekadar mencoba,” kata Michael, kepala divisi riset Common Sense Media.
“Mereka tetap lebih puas berbicara dengan manusia, tapi ada hal-hal yang patut dikhawatirkan di balik tren ini,” tambahnya.
Apakah Remaja Lebih Percaya AI daripada Teman Nyata?
Studi ini mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga remaja yang disurvei pernah berbagi cerita serius kepada AI companion alih-alih kepada teman sungguhan. Bahkan, proporsi yang hampir sama merasa obrolan dengan AI terasa sama memuaskan—atau bahkan lebih baik—dibanding percakapan dengan manusia.
Masa remaja adalah tahap penting untuk mengasah keterampilan sosial, berpikir kritis, hingga regulasi emosi. Namun, fakta bahwa remaja rata-rata menghabiskan waktu hingga delapan jam 39 menit per hari di depan layar memicu kekhawatiran para ahli tentang efek jangka panjang. AI companion, yang dirancang untuk mengumpulkan data pengguna, juga menimbulkan risiko privasi.
Dalam studi ini, sekitar seperempat remaja mengaku pernah memberikan informasi pribadi seperti nama lengkap atau lokasi kepada AI companion. Padahal, banyak platform AI companion yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi pengguna 18 tahun ke atas, namun remaja bisa dengan mudah melewati sistem verifikasi usia yang lemah. Tak hanya itu, sepertiga responden bahkan mengaku merasa tidak nyaman terhadap sesuatu yang dikatakan atau dilakukan AI saat berinteraksi.
AI Companion: Teman Digital atau Alat Pengumpul Data?
Meski banyak risiko, hasil studi menunjukkan remaja umumnya bersikap realistis terhadap AI. Sekitar setengah responden menyatakan mereka tidak mempercayai sepenuhnya informasi atau saran dari AI companion. Namun, remaja yang lebih muda cenderung lebih mudah percaya, dengan selisih sekitar tujuh poin persentase dibanding remaja yang lebih tua.
Mayoritas besar, sebanyak 80%, juga menegaskan bahwa mereka tetap memprioritaskan persahabatan dengan manusia ketimbang hubungan dengan AI. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa meskipun teknologi semakin canggih, nilai hubungan antar manusia tetap penting di mata remaja.
Namun, Common Sense Media tetap merekomendasikan agar penggunaan AI companion dibatasi, bahkan melarang pengguna di bawah usia 18 tahun untuk mengaksesnya. Alasannya bukan hanya risiko privasi, tetapi juga desain platform yang sering kali memicu adiksi.
“Saya tidak yakin perusahaan-perusahaan pembuat AI companion benar-benar peduli pada kesejahteraan remaja,” ujar Robb dari Common Sense Media.
Menurut Robb, jika AI companion benar-benar dirancang untuk mendukung kesehatan mental secara etis, transparan, dan tanpa motif komersial yang berlebihan, situasinya bisa berbeda. Sayangnya, saat ini AI companion lebih sering digunakan sebagai alat komersial untuk menarik perhatian, membangun keterikatan, dan mengumpulkan data sebanyak mungkin dari pengguna muda.
Tantangan Baru di Era Digital
Fenomena AI companion menjadi tantangan baru dalam dunia digital. Di satu sisi, AI companion bisa membantu remaja yang merasa kesepian atau butuh tempat curhat tanpa takut dihakimi. Namun di sisi lain, interaksi berlebihan dengan AI bisa menghambat kemampuan mereka untuk membangun relasi sosial nyata, serta meningkatkan risiko kecanduan teknologi dan kebocoran data.
Para pakar menyarankan agar orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan lebih proaktif memberikan edukasi digital pada remaja. Mereka juga perlu mengawasi penggunaan AI companion agar tetap dalam batas wajar, sambil memberi ruang aman bagi remaja untuk berbicara dengan orang dewasa tepercaya ketika mengalami masalah.
“Teknologi bisa jadi teman, tapi jangan sampai jadi satu-satunya teman,” pesan Michael.
Interaksi sosial dengan manusia tetap penting untuk pertumbuhan psikologis dan emosional remaja.
Pesan untuk Generasi Muda
Bagi para remaja, penting untuk tetap berhati-hati dalam berinteraksi dengan AI companion. Berikut beberapa tips sederhan
- Jangan pernah membagikan data pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, atau lokasi sekolah.
- Gunakan AI hanya sebagai hiburan atau pelengkap, bukan pengganti teman sungguhan.
- Jika merasa tidak nyaman dengan interaksi AI, segera hentikan percakapan dan bicarakan dengan orang dewasa.
- Ingat bahwa AI hanyalah program, bukan manusia yang benar-benar memahami perasaanmu.
Tren AI companion di kalangan remaja menjadi pengingat bahwa teknologi sebaiknya digunakan dengan bijak. Meski bisa membantu mengurangi rasa kesepian atau memberi dukungan awal terkait kesehatan mental, hubungan dengan manusia tetap tak tergantikan. Orang tua, sekolah, dan komunitas perlu berperan aktif untuk memastikan remaja tidak terjebak dalam interaksi yang tidak sehat dengan teknologi.
Sebagai generasi digital, remaja punya tantangan sekaligus tanggung jawab untuk menggunakan teknologi secara cerdas. Jangan sampai teman digital menggantikan teman nyata. Karena pada akhirnya, hubungan antar manusia adalah yang paling berharga.***