By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Bukan Takut Komitmen, Tapi Ini Alasan Anak Muda Jakarta Tunda Menikah
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Bukan Takut Komitmen, Tapi Ini Alasan Anak Muda Jakarta Tunda Menikah

LifeStyle

Bukan Takut Komitmen, Tapi Ini Alasan Anak Muda Jakarta Tunda Menikah

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
5 Min Read
Ilustrasi pernikahan remaja. (Foto: Pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Bagi sebagian anak muda menikah kini tak lagi sekadar menjadi pencapaian sosial yang wajib diraih setelah memasuki usia dewasa. Fenomena menunda pernikahan kian terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana tekanan ekonomi, kebutuhan karier, hingga kesadaran akan pentingnya kesiapan mental menjadi faktor utama di balik keputusan tersebut.

Contents
Menikah Tak Lagi Soal Umur, Tapi KesiapanPerempuan Juga Punya Hak Menentukan Waktu yang TepatRealitas Hidup Bikin Banyak Anak Muda Belum SiapMenunda Pernikahan Bukan Tanda Takut Berkomitmen

Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, hingga tahun 2025, tercatat sebanyak 2.098.685 penduduk Jakarta berusia 19 tahun ke atas belum menikah. Rinciannya, terdapat 1.201.827 laki-laki dan 896.858 perempuan yang masih lajang. Jumlah ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir di kalangan generasi muda yang kini lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan hidup jangka panjang seperti menikah.

Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, menyampaikan bahwa alasan utama penundaan pernikahan ini adalah tekanan ekonomi dan dinamika kehidupan perkotaan.

“Aktivitas yang tinggi di Jakarta karena tuntutan ekonomi, persaingan kerja, pendidikan, hingga kebutuhan gaya hidup, menjadikan banyak warga menunda pernikahan,” ujarnya kepada media, Jumat (25/7).

Menikah Tak Lagi Soal Umur, Tapi Kesiapan

Bagi Bernath (24), karyawan swasta asal Jakarta, pernikahan adalah komitmen jangka panjang yang tidak bisa diputuskan hanya karena umur sudah dianggap matang. Ia secara sadar menunda pernikahan karena ingin lebih siap secara finansial dan psikologis.

“Target menikah saya di usia 27 sampai 29 tahun. Saya ingin ekonomi sudah mapan, punya bekal ilmu parenting, dan siap menjadi kepala keluarga,” katanya Rabu (23/7).

Baginya, kesiapan mental dan finansial jauh lebih penting dibanding memenuhi ekspektasi sosial semata. Biaya hidup di kota besar menjadi pertimbangan utama.

“Saat ini biaya hidup makin tinggi, jadi harus pintar mengatur keuangan. Menikah tanpa perencanaan bisa memunculkan masalah baru,” lanjutnya.

Perempuan Juga Punya Hak Menentukan Waktu yang Tepat

Putri (24), juga seorang karyawan swasta, mengamini pentingnya menunda pernikahan hingga benar-benar siap. Baginya, menikah bukanlah jalan keluar dari kesepian, melainkan awal dari perjalanan hidup yang penuh tanggung jawab.

Baca Juga :

Lirik Lagu Doa untuk Pemimpin Negeri, Dukung Prabowo-Gibran
Biodata dan Profil Pemain Drama Thailand Love at First Night

“Saat ini aku masih ingin fokus membangun diri dan karier. Aku percaya bahwa fondasi keluarga yang kuat itu dimulai dari kesiapan pribadi masing-masing,” ujar Putri saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/7).

Menurutnya, kemandirian finansial adalah syarat utama sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Ia tidak ingin menjadi pasangan yang hanya bergantung pada suami, apalagi jika kondisi ekonominya belum stabil.

“Kalau belum mapan, justru bisa memicu konflik dalam hubungan,” jelasnya.

Realitas Hidup Bikin Banyak Anak Muda Belum Siap

Desy (23), pekerja paruh waktu di Jakarta, mengaku bahwa pernikahan belum menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Meski usianya sudah dianggap cukup, namun ia merasa masih banyak yang harus dipelajari dan disiapkan.

“Aku masih harus belajar cara mengelola rumah tangga, mengatur keuangan, dan memahami cara mendidik anak. Selain itu, kondisi keuangan juga belum stabil,” ungkapnya jujur.

Ia mengakui masih dalam tahap mencari pekerjaan yang lebih baik dan belum memiliki target waktu untuk menikah.

“Yang penting saat nanti menikah, aku sudah benar-benar siap, enggak tergesa-gesa hanya karena usia,” tambah Desy.

Desy pun menegaskan bahwa dirinya tidak takut menikah. Namun, ia tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai solusi instan untuk mengatasi tekanan sosial atau rasa kesepian.

“Aku ingin menikah dalam kondisi yang sehat secara emosional dan stabil secara ekonomi, bukan karena terpaksa,” tuturnya.

Menunda Pernikahan Bukan Tanda Takut Berkomitmen

Cerita Bernath, Putri, dan Desy menunjukkan bahwa menunda pernikahan bukan berarti takut akan komitmen. Justru karena menyadari bahwa menikah membutuhkan persiapan matang, mereka memilih untuk menunggu saat yang tepat.

Generasi muda hari ini semakin menyadari bahwa pernikahan bukan sekadar seremoni atau status sosial, tapi soal kesiapan menghadapi tantangan hidup bersama pasangan. Mereka tidak ingin tergesa-gesa hanya demi menyenangkan keluarga atau mengikuti tren teman seumuran.

Dalam era modern seperti sekarang, pernikahan tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kesuksesan hidup. Banyak anak muda memilih untuk lebih dulu mengejar mimpi pribadi, membangun karier, dan memperkuat pondasi emosional serta finansial, sebelum akhirnya membentuk keluarga.

Fenomena menunda pernikahan di kalangan anak muda bukanlah sesuatu yang negatif. Sebaliknya, hal ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya tanggung jawab dan kesiapan dalam membangun keluarga. Di tengah kompleksitas hidup modern, keputusan untuk menikah harus melalui pertimbangan matang, baik dari sisi ekonomi, psikologis, maupun spiritual.

Jika dahulu menikah di usia 20-an dianggap ideal, kini banyak anak muda justru melihat usia bukanlah penentu utama. Mereka menempatkan kesiapan pribadi di atas segalanya. Dan itulah bentuk cinta paling dewasa memilih untuk menanti hingga benar-benar siap, agar perjalanan rumah tangga bisa berjalan lebih harmonis dan berkelanjutan.

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:Anak MudaMenikah
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Gaya Hidup ‘Manusia Tikus’ yang Jadi Tren Baru Anak Muda China, Tidur Larut dan Hidup Menyendiri
Next Article Legenda Sepak Bola Indonesia, Kurniawan Ajak Masyarakat Bogor Ramaikan TurunMinum Grassroots Football Festival 2025
1 Comment
  • Pingback: Program GAUL'S Ajak Anak Muda Selamatkan Bumi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

1 week ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index