INVERSI.ID – Bitcoin bukan prioritas utama bagi anak muda yang ingin membangun kekayaan dari nol. Pesan ini disampaikan miliarder properti dan motivator bisnis Grant Cardone, yang memiliki portofolio bisnis senilai US\$4 miliar atau sekitar Rp64,7 triliun. Menurutnya, fokus awal generasi muda seharusnya bukan pada aset kripto, melainkan pada pengembangan diri, personal branding, dan membangun bisnis yang mampu menghasilkan arus kas stabil.
Berbicara dalam acara TheStreet Roundtable bersama pembawa acara Scott Melker, Cardone menegaskan bahwa langkah pertama dalam perjalanan finansial adalah investasi pada diri sendiri.
“Kamu adalah bisnisnya. Mau kamu sadar atau tidak, kamu sedang menjalankan bisnis bernama ‘kamu’. Kalau orang tidak melihat kamu sebagai sosok yang konsisten, bisa diandalkan, dan berorientasi solusi, uang tidak akan datang. Kesempatan tidak akan datang,” ujarnya, mengutip The Street.
Menurut Cardone, Bitcoin bukan prioritas utama ketika fondasi keuangan belum terbentuk. Ia menyarankan agar anak muda lebih dulu membangun satu sumber pendapatan yang jelas dan konsisten sebelum menyebarkan modal ke berbagai instrumen investasi. Fokus ini, kata dia, akan membuat mereka lebih tangguh menghadapi risiko keuangan.
Dalam pandangan Cardone, membangun kekayaan adalah proses bertahap. Bitcoin bukan prioritas utama bukan berarti ia menolak kripto sepenuhnya, melainkan menempatkannya pada urutan yang tepat dalam strategi keuangan pribadi.
“Mulailah dari sesuatu yang memberi arus kas, lalu konversi arus kas itu ke Bitcoin. Karena kalau Bitcoin jatuh, kamu tetap punya sumber untuk bayar tagihan. Saya tidak bisa makan Bitcoin,” jelasnya.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa volatilitas aset digital seperti Bitcoin dapat menjadi risiko tinggi, terutama bagi mereka yang belum memiliki fondasi finansial kuat. Tanpa arus kas yang stabil, investor muda bisa terjebak dalam kerugian besar jika harga kripto anjlok.
Pentingnya Personal Branding
Grant Cardone menekankan bahwa sebelum memikirkan diversifikasi aset, anak muda perlu membangun personal brand yang kuat.
“Kalau orang tidak mengenal kamu, mereka tidak akan membeli produkmu atau mempercayaimu,” ujarnya.
Personal branding tidak hanya soal citra di media sosial, tetapi juga reputasi dalam hal profesionalisme, keandalan, dan keahlian.
Personal branding yang solid membuka peluang kerja sama, kemitraan bisnis, hingga pendanaan. Dalam era digital saat ini, membangun citra positif bisa dilakukan melalui konten edukasi, partisipasi aktif di komunitas, atau menunjukkan keahlian melalui proyek nyata.
Grant Cardone adalah pendiri Cardone Capital, perusahaan investasi properti yang mengelola miliaran dolar aset di sektor hunian multifamily di Amerika Serikat. Selain dunia properti, ia membangun merek global lewat buku-buku motivasi bisnis, program pelatihan penjualan, dan konferensi berskala besar.
Pria kelahiran 21 Maret 1958 ini dikenal dengan filosofi “10X Rule” – menetapkan target 10 kali lebih besar dari biasanya dan mengambil aksi masif untuk mencapainya. Pendekatan ini membuatnya menjadi sosok yang disegani, meski juga menuai kritik karena gaya komunikasi yang blak-blakan dan strategi bisnis yang agresif.
Pandangan Terhadap Aset Kripto
Cardone tidak menutup mata terhadap potensi Bitcoin dan aset kripto lainnya. Namun, ia menempatkan kripto sebagai langkah lanjutan, bukan awal. Baginya, investasi harus dimulai dari aset yang menghasilkan pendapatan berulang, seperti properti, bisnis, atau usaha berbasis layanan.
Menurut Cardone, Bitcoin bisa menjadi alat lindung nilai terhadap inflasi atau pelemahan mata uang, tetapi hanya jika digunakan sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
“Kalau kamu sudah punya cash flow yang aman, barulah masuk ke Bitcoin. Jangan kebalik,” katanya.
Pendapat Cardone ini mendapat tanggapan beragam. Sebagian setuju bahwa anak muda perlu membangun fondasi keuangan terlebih dahulu sebelum berinvestasi di aset berisiko tinggi. Namun, ada juga yang menilai pendekatan tersebut terlalu konservatif, mengingat potensi pertumbuhan nilai Bitcoin yang besar dalam jangka panjang.
Meski begitu, rekam jejak Cardone di dunia bisnis membuat sarannya patut dipertimbangkan. Ia membangun kekayaan dari nol, memulai dari industri penjualan mobil, lalu merambah ke properti, pelatihan bisnis, hingga menjadi figur publik internasional.
Relevansi Bagi Anak Muda Indonesia
Bagi anak muda di Indonesia, pesan Bitcoin bukan prioritas utama relevan di tengah tren investasi yang kian populer. Data dari berbagai platform menunjukkan lonjakan pengguna muda di pasar kripto dalam tiga tahun terakhir. Meski ini menandakan minat yang tinggi, risiko kerugian tetap besar jika dilakukan tanpa perencanaan matang.
Langkah realistis yang bisa diambil antara lain:
- Mengembangkan keterampilan yang bisa mendatangkan penghasilan.
- Membangun jaringan profesional untuk memperluas peluang kerja dan bisnis.
- Mengelola keuangan pribadi dengan disiplin, termasuk menyiapkan dana darurat.
- Berinvestasi di instrumen berisiko rendah hingga menengah sebelum mencoba kripto.
Pesan Grant Cardone bahwa Bitcoin bukan prioritas utama adalah pengingat penting bagi generasi muda yang ingin membangun kekayaan dari nol. Investasi terbaik di awal karier adalah pada diri sendiri, mengasah keterampilan, membangun personal brand, dan menciptakan arus kas yang stabil. Setelah fondasi kokoh, barulah aset seperti Bitcoin bisa menjadi bagian dari strategi investasi jangka panjang.
Dengan pendekatan ini, anak muda tidak hanya mengejar keuntungan instan, tetapi juga membangun kekuatan finansial yang tahan uji dalam jangka panjang.