INVERSI.ID – Osteoporosis pada anak muda kini mulai menjadi perhatian serius di dunia kesehatan. Selama ini, penyakit pengeroposan tulang ini sering dikaitkan dengan kelompok lansia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus osteoporosis juga ditemukan pada kalangan usia produktif bahkan remaja. Kondisi ini dikenal dengan istilah osteoporosis sekunder, yaitu osteoporosis yang muncul bukan semata-mata karena faktor usia, melainkan akibat penyebab tertentu seperti obat-obatan, gangguan hormon, hingga gaya hidup tidak sehat.
Fenomena osteoporosis pada anak muda semakin menegaskan bahwa penyakit ini bukan lagi ancaman eksklusif bagi orang tua. Menurut Ketua Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), Tirza Z Tamin, salah satu penyebab utama osteoporosis yang terjadi lebih cepat adalah efek samping penggunaan obat steroid dalam jangka panjang. Selain itu, masalah hormon, gangguan tiroid, dan masalah kesuburan juga bisa memicu penurunan kepadatan tulang di usia muda.
Penting untuk dipahami bahwa osteoporosis pada anak muda bisa berkembang tanpa gejala berarti. Inilah yang disebut sebagai silent disease, karena banyak penderita baru menyadari tulangnya rapuh setelah mengalami patah tulang meskipun hanya karena jatuh ringan.
Apa Penyebab Osteoporosis Pada Anak Muda?
Menurut dr. Tirza, faktor penyebab osteoporosis pada anak muda sangat beragam. Tidak hanya berkaitan dengan masalah medis seperti hormon atau konsumsi obat, tetapi juga erat dengan gaya hidup yang kurang sehat.
- Penggunaan obat-obatan tertentu
Konsumsi obat steroid dalam jangka panjang terbukti dapat mengganggu metabolisme tulang, sehingga membuatnya lebih cepat rapuh. - Gangguan hormon
Masalah tiroid atau hormon reproduksi bisa mempercepat pengeroposan tulang, meskipun penderita masih berusia muda. - Kurang aktivitas fisik
Anak muda yang terbiasa dengan gaya hidup sedenter (minim aktivitas fisik) lebih berisiko mengalami osteoporosis. Tulang, sama seperti otot, memerlukan latihan agar tetap kuat dan padat. - Pola makan tidak sehat
Konsumsi makanan cepat saji, minuman bersoda, serta kurang asupan kalsium dan vitamin D menjadi pemicu turunnya kualitas tulang.
Osteoporosis: Penyakit Senyap yang Sering Terlambat Disadari
Banyak anak muda yang tidak menyadari bahwa dirinya berisiko terkena osteoporosis. Saat datang ke dokter dengan keluhan nyeri punggung, sering kali sudah ditemukan adanya patah tulang akibat pengeroposan.
“Kalau pasien sudah mengeluh nyeri tulang belakang, biasanya itu tanda bahwa tulangnya rapuh. Padahal sebelumnya tidak ada keluhan. Inilah yang disebut osteoporosis sebagai silent disease,” jelas Tirza.
Pentingnya Edukasi Sejak Dini
Edukasi tentang osteoporosis pada anak muda seharusnya dimulai sejak masa anak-anak. Menurut Tirza, pencegahan osteoporosis pada nak muda tidak bisa dilakukan hanya saat usia dewasa, tetapi harus ditanamkan sejak kecil melalui gaya hidup sehat.
- Asupan nutrisi kaya kalsium dan vitamin D
Anak-anak perlu diperkenalkan pada makanan bergizi seimbang, terutama yang kaya akan kalsium seperti susu, ikan, dan sayuran hijau. Vitamin D dari sinar matahari pagi juga penting untuk membantu penyerapan kalsium. - Aktivitas fisik rutin
Bermain di luar ruangan, olahraga ringan, hingga permainan aktif bisa membantu memperkuat tulang sejak dini. - Mengurangi junk food dan minuman bersoda
Konsumsi berlebihan makanan cepat saji dan minuman manis dapat memengaruhi metabolisme tubuh dan kesehatan tulang.
“Kalau dari kecil anak terbiasa aktif dan tidak sering makan junk food, itu akan sangat membantu mencegah osteoporosis di usia muda,” tambah Tirza.
Dampak Gaya Hidup Minim Aktivitas
Ketua Fragility Fracture Network (FFN), Prof. Zairin Noor, menjelaskan bahwa tulang manusia memiliki kemampuan adaptasi seperti otot. Jika jarang digunakan, kepadatan tulang akan berkurang, sehingga lebih mudah rapuh.
“Kalau orang jatuh ringan saja lalu tulangnya patah, itu artinya tulangnya sudah fragile atau rapuh. Sama halnya dengan otot, kalau tidak dilatih, tulang juga bisa mengecil dan kehilangan kekuatannya,” ujar Prof. Zairin.
Ancaman Osteoporosis Pada Anak Muda
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2030, sekitar 15 persen penduduk Indonesia akan berusia di atas 60 tahun. Jika sejak muda tidak ada upaya pencegahan, jumlah penderita osteoporosis pada anak muda di masa depan akan semakin tinggi.
Kementerian Kesehatan RI sendiri diharapkan tidak hanya fokus pada penyakit kardiovaskular atau infeksi, tetapi juga memberi perhatian lebih pada penyakit degeneratif seperti osteoporosis.
Jika tidak dicegah, osteoporosis bisa berdampak serius, terutama pada usia lanjut. Risiko patah tulang pada lansia memiliki tingkat mortalitas yang cukup tinggi karena komplikasi medis setelah cedera sering kali sulit diatasi.
Cara Mencegah Osteoporosis Sejak Muda
Agar terhindar dari osteoporosis di usia muda, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Rutin berolahraga
Minimal 30 menit setiap hari, baik dengan jalan kaki, jogging, maupun olahraga ringan lainnya. - Konsumsi makanan bergizi
Perbanyak asupan susu, ikan, kacang-kacangan, serta sayuran hijau. - Cukup sinar matahari
Paparan sinar matahari pagi sekitar pukul 7–9 sangat bermanfaat untuk sintesis vitamin D alami. - Hindari rokok dan alkohol
Dua kebiasaan buruk ini terbukti mempercepat kerusakan tulang. - Cek kesehatan tulang
Jika sering mengalami nyeri tulang atau memiliki riwayat keluarga dengan osteoporosis, sebaiknya melakukan pemeriksaan kepadatan tulang sejak dini.
Osteoporosis tidak lagi bisa dianggap sebagai penyakit khusus lansia. Fakta bahwa osteoporosis pada anak muda kian meningkat menjadi peringatan agar gaya hidup sehat diterapkan sejak dini. Faktor penyebabnya bukan hanya medis, tetapi juga kebiasaan sehari-hari seperti pola makan, aktivitas fisik, dan paparan sinar matahari.
Pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan. Edukasi sejak kecil, nutrisi yang tepat, serta gaya hidup aktif menjadi kunci untuk melindungi generasi muda Indonesia dari ancaman osteoporosis di masa depan.