INVERSI.ID – Aktivitas olahraga selama masa kehamilan ternyata memiliki banyak manfaat bagi kesehatan ibu maupun janin. Namun, pelaksanaannya tetap harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter kandungan.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Natasya Prameswari, Sp.OG, menjelaskan bahwa ibu hamil tetap diperbolehkan melakukan aktivitas olahraga selama tidak ditemukan masalah atau komplikasi kehamilan dalam pemeriksaan medis sebelumnya.
“Bumil (ibu hamil) boleh berolahraga apabila tidak ada penyulit dari pemeriksaan dokter obgyn sebelumnya,” kata dokter Natasya yang berpraktik di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), di Depok, Jawa Barat, Senin.
Menurut Natasya, tidak ada aturan khusus yang menentukan usia kehamilan tertentu sebagai waktu wajib untuk mulai berolahraga. Meski demikian, trimester kedua umumnya dianggap sebagai periode yang lebih ideal dibandingkan trimester pertama.
Pada awal kehamilan, tubuh masih beradaptasi dengan berbagai perubahan hormon dan kondisi fisik. Akibatnya, sejumlah keluhan seperti mual, muntah, hingga rasa tidak nyaman pada perut sering kali membuat ibu hamil kesulitan menjalani aktivitas fisik secara optimal.
“Ibu hamil juga diperbolehkan melakukan olahraga yang lebih intens di trimester 3. Olahraga yang sudah dilakukan sebelumnya, misalnya jalan lebih sering, agar mempermudah jalan lahirnya secara enggak langsung. Tapi memang untuk ngepel jongkok itu sebenarnya mitos,” imbuh dia.
Ia menyarankan agar ibu hamil tetap menjalankan jenis olahraga yang sudah biasa dilakukan sebelum masa kehamilan. Dengan begitu, tubuh lebih mudah beradaptasi dan risiko cedera dapat diminimalkan.
Sebagai contoh, perempuan yang sebelumnya rutin menjalani latihan kekuatan atau strength training dengan pendampingan profesional masih dapat melanjutkan aktivitas tersebut selama kondisi kehamilan memungkinkan.
“Lari diperbolehkan kalau sebelumnya sudah sering lari sebelum hamil. Lari juga harus gradual (bertahap), kita lihat adaptasi tubuh terhadap peningkatan heart rate (denyut jantung) dan panas tubuh,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Natasya menyebutkan bahwa ibu hamil dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 150 menit setiap minggu. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa olahraga selama kehamilan memiliki berbagai manfaat, mulai dari membantu mengontrol tekanan darah hingga mengurangi risiko preeklamsia dan diabetes gestasional.
Selain itu, olahraga juga berperan dalam menjaga kenaikan berat badan agar tetap sesuai kebutuhan selama masa kehamilan.
“Beberapa penelitian juga menunjukkan pada ibu hamil yang beraktivitas lebih banyak, berolahraga rutin, itu lebih mudah dalam melakukan persalinan normal,” tutur dia.
Tak hanya olahraga, keseimbangan nutrisi juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan selama kehamilan. Menurut Natasya, ibu hamil perlu meningkatkan konsumsi protein dan berbagai zat gizi penting lainnya, namun bukan berarti harus mengonsumsi kalori secara berlebihan.
Asupan makanan selama kehamilan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan perkembangan janin. Pola makan yang tepat akan membantu menjaga kesehatan ibu sekaligus mendukung tumbuh kembang bayi secara optimal.
“Seringkali ibu hamil menambah kalori dengan karbohidrat dan lemak saja, tapi protein dan mikronutriennya tidak diperhatikan,” kata dia.
Dengan kombinasi antara aktivitas fisik yang teratur dan pemenuhan nutrisi yang seimbang, ibu hamil dapat menjalani masa kehamilan dengan lebih sehat serta mempersiapkan proses persalinan yang lebih baik.