Hai Inversi! Kalau ada yang nanya, “Makanan khas Indonesia apa sih?” pasti banyak dari kita yang jawabnya beda-beda. Ada yang bilang nasi goreng, karena bisa ditemuin hampir di semua sudut kota.
Ada juga yang langsung nyebut rendang, apalagi setelah sempat dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak di dunia versi CNN. Tapi jangan salah, soto juga nggak kalah populer, dengan varian rasa yang beda-beda di setiap daerah, mulai dari Soto Lamongan sampai Soto Banjar.
Nah, muncul pertanyaan penting: bener nggak sih Indonesia punya satu cita rasa nasional? Atau justru kekayaan kuliner kita nggak bisa disempitkan ke satu menu doang?
Kuliner Bukan Cuma Urusan Perut
Kuliner Indonesia itu lahir dari sejarah panjang dan pertemuan banyak budaya. Setiap resep punya cerita. Contohnya:
- Rendang lahir dari budaya merantau orang Minangkabau, jadi mereka butuh makanan yang awet untuk dibawa dalam perjalanan jauh.
- Soto hadir dalam banyak versi—Betawi, Kudus, Lamongan, Banjar—setiap daerah bikin ciri khasnya sendiri.
- Nasi goreng punya akar dari tradisi Tionghoa, tapi sekarang sudah jadi makanan rakyat sejuta umat.
Antropolog makanan Sidney Mintz pernah bilang, makanan bukan cuma soal kenyang, tapi juga simbol identitas. Dari makanan, kita tahu siapa diri kita dan dari mana asal kita. Jadi, makanan itu bukan sekadar tren, tapi bagian dari budaya yang hidup.
Seperti kata Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, dosen sejarah dari Universitas Airlangga:
“Yang abadi itu adalah yang punya akar kuat di tradisi akhirnya menjadi kuliner tradisional. Kalau tidak ada basis kulturalnya, itu hanya sekadar branding artifisial.”
Artinya, makanan yang bener-bener bisa bertahan dan jadi identitas adalah yang lahir dari tradisi, bukan cuma karena populer sesaat.
Perlu Satu Ikon atau Cukup Keberagaman?
Negara lain punya ikon kuliner yang gampang diingat. Jepang dengan sushi, Korea dengan kimchi, Thailand dengan pad thai. Indonesia? Hmm, agak susah kalau cuma pilih satu. Dari Aceh sampai Papua, tiap daerah punya rasa khas dan kebanggaannya sendiri.
Kalau cuma pilih satu, pasti ada yang merasa tersisih. Nah, di sinilah uniknya Indonesia. Identitas kuliner kita justru ada di keragamanrasa, bukan satu menu tunggal.
Sekarang, kuliner juga jadi alat diplomasi budaya. Lewat program Indonesian Spice Up the World, pemerintah coba ngenalin kuliner Nusantara ke dunia. Tantangannya, makanan mana yang cocok dijadikan ikon?
Mungkin jawaban yang pas bukan satu menu, tapi justru semua kekayaan rasa Nusantara. Inilah kekuatan kita: ribuan cita rasa dari tradisi dan budaya yang berbeda-beda.
Makanan Medium Penyatu Bangsa
Pertanyaan “Apa makanan nasional kita?” mungkin nggak perlu dijawab dengan satu nama. Karena sebenarnya, setiap rasa lokal adalah bagian dari rasa nasional.
Di meja makan, semua bisa bersatu. Nggak peduli latar belakang budaya, sosial, atau etnis. Waktu kita makan sate Madura di Jogja, pempek di Jakarta, atau papeda di Surabaya, kita sebenarnya lagi menjelajahi wajah Indonesia yang beragam.
Seperti semboyan kita, Bhinneka Tunggal Ika, kuliner Indonesia hidup dari perbedaan yang dirayakan bersama. Nasi goreng, rendang, soto, dan ribuan makanan lainnya bukan cuma sekadar hidangan. Mereka adalah penanda sejarah, identitas, dan perjalanan bangsa.
Jadi, mungkin Indonesia nggak perlu menetapkan satu makanan nasional. Karena sejatinya, rasa nasional itu sudah ada di setiap dapur, aroma bumbu, dan di setiap gigitan yang kita nikmati bareng-bareng.