INVERSI.ID – Tradisi makan bersama saat Lebaran di Indonesia menjadi momen yang tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri. Beragam hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, dan aneka lauk disajikan dalam satu meja untuk dinikmati bersama keluarga, menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Konsep ini memiliki keterkaitan dengan budaya rijsttafel yang mulai dikenal sejak abad ke-19 pada masa kolonial. Rijsttafel merupakan cara penyajian makanan dalam porsi kecil namun beragam, yang awalnya menjadi simbol status sosial kalangan Belanda di Hindia. Seiring waktu, konsep ini berkembang sebagai representasi kekayaan kuliner Nusantara dalam satu meja.
Dalam perkembangannya, konsep rijsttafel kini mulai diadaptasi dengan pendekatan yang lebih sederhana dan relevan. Head Chef Sheraton Bandung Hotel & Towers, Tri Julianto, mengembalikan esensi konsep tersebut menjadi simbol kebersamaan, bukan kemewahan. “Terminologi rijsttafel itu sebenarnya seperti makan tengah. Semua hidangan sudah disiapkan, lalu dinikmati bersama dalam satu meja,” kata Tri Julianto yang pernah menjadi Commis Chef di JW Marriot Marquis Hotel Dubai.
Pada momen Idul Fitri 1447 Hijriah, konsep ini dihadirkan kembali melalui sajian khas Lebaran yang akrab di lidah masyarakat. Menu seperti ketupat, opor ayam, semur daging, sambal goreng kentang, hingga telur balado disajikan dalam satu paket untuk dinikmati bersama. Hidangan ini tidak hanya menonjolkan cita rasa, tetapi juga mengangkat nilai kebersamaan yang menjadi inti perayaan Lebaran.
Tri menegaskan bahwa kehangatan suasana keluarga menjadi fokus utama dalam penyajian menu tersebut, meski dikemas dalam konsep modern. “Jadi kehangatan saat Lebaran bisa dirasakan keluarga dengan menu yang sudah kita siapkan spesial,” kata Head Chef lulusan NHI tahun 2012 itu.