INVERSI.ID – Bandara sering dianggap hanya sebagai tempat singgah sementara sebelum memulai perjalanan. Tapi tahukah kamu? Bandara pun bisa menjadi galeri terbuka, ruang di mana karya seni tampil di tengah rutinitas bepergian. Di bawah pengelolaan InJourney Airports, beberapa bandara di Indonesia kini dihiasi oleh instalasi seni yang tak hanya mempercantik suasana, tetapi juga menyimpan cerita budaya dan nilai-nilai lokal.
Yuk, kita jelajahi instalasi seni menarik yang bisa kamu sambangi sambil menunggu penerbangan:
1. Palihan – Bandara Internasional Yogyakarta (YIA)
Karya ini merupakan wujud penghormatan kepada Desa Palihan di Kulon Progo. Palihan dibuat oleh Duvrart Angelo dan Lulus Setio Wantono, menggunakan media campuran (mixed media).
Cerita di balik karya ini adalah kisah legenda bahwa pasukan Pangeran Diponegoro pernah singgah di desa tersebut untuk menyusun strategi. Nama “Palihan” juga dikaitkan dengan kata Sanskrit pali/pepali yang bermakna “pesan” atau “wejangan”. Karya ini diletakkan di ruang kedatangan mezzanine sisi timur YIA, dan menjadi salah satu ikon favorit untuk foto penumpang.
2. Tanah Api, Jejak Jiwa – Bandara Internasional Soekarno–Hatta (CGK)
Instalasi arsitektural ini resmi dipajang di Terminal 3 CGK sejak 14 Agustus 2025, sebagai bagian dari rangka menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia. Karya ini berbentuk kerucut setinggi sekitar delapan meter, dan terinspirasi dari rumah adat Wae Rebo (NTT). Materialnya memadukan tanah, batu, logam, rotan, dan serat alam, menggambarkan perpaduan unsur alam dan budaya.
Secara konseptual, Tanah Api, Jejak Jiwa memiliki tiga elemen utama:
- Ring of Fire — melambangkan posisi Indonesia di kawasan cincin api dan ketangguhan alam bangsa
- Wae Rebo — rumah adat berbentuk kerucut, mewakili kehangatan budaya dan spiritual
- Pradaksina — inspirasi dari ritual berjalan melingkar (misalnya di Candi Borobudur), menyiratkan perjalanan kontemplatif manusia dalam mencari makna hidup.
Kehadiran karya ini tak sekadar estetika — ia menjadi medium untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada penumpang mancanegara.
3. Paradise Scape – Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (DPS)
Diciptakan oleh Wayan Upadana, Paradise Scape bertindak sebagai medium bercerita tentang harmonisasi budaya Bali dengan dunia luar. Karya ini berupaya menampilkan hubungan manusia dengan alam, Tuhan, dan sesama sebuah refleksi prinsip Tri Hita Karana.
Kehadirannya memperkaya lanskap seni bandara Bali sekaligus mengajak penumpang menyelami nilai-nilai lokal.
4. Bedhaya Kinjeng Wesi – YIA
Patung ini adalah simbol gerakan pesawat dan visualisasi Tari Bedhaya Kinjeng Wesi, sebuah tarian ikonis Yogyakarta. Dengan kombinasi unsur budaya lokal dan estetika modern, karya seniman Ichwan Noor ini memancarkan nilai hibriditas menghubungkan masa lalu dan masa kini.
5. Patung Garuda Kembar – CGK
Terinspirasi dari burung Garuda, simbol kebangsaan Indonesia, Nyoman Nuarta merancang Patung Garuda Kembar sebagai landmark ikonik di area bandara CGK. Patung ini tidak hanya memperkuat identitas nasional, tetapi juga menjadi bagian dari “wajah” bandara bagi pengunjung dan penumpang.
6. Tree of Life – DPS
Seniman Gus Ari menyajikan karya bergaya pohon kelapa di DPS yang tak hanya sebagai elemen dekoratif tetapi juga menyimbolkan manfaat besar pohon dalam kehidupan masyarakat Bali dan Indonesia secara umum. Karya ini mengajak kita menyadari kedekatan budaya lokal dengan alam sekitar.
7. Konstruksi Semesta – DPS
Lewat medium relief dan lukisan pada kanvas, Valasara menghadirkan Konstruksi Semesta sebagai potret kehidupan komunal dan ritual masyarakat Hindu Bali. Karya ini menekankan keseimbangan hidup — manusia, alam, dan spiritualitas — dalam bingkai kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
8. Wana Rupa Segara Gunung – DPS
Kadek Armika meramu berbagai elemen budaya Bali dalam satu karya utuh. Lewat Wana Rupa Segara Gunung, ia menghadirkan adegan Upacara Ngaben, Tari Barong, jukung nelayan, Ogoh-Ogoh, hingga Tari Kecak. Karya ini seperti “ringkasan visual” perjalanan budaya Bali dari hulu ke hilir.
Kenapa Instalasi Seni di Bandara Penting?
Karya seni seperti Palihan dan Patung Garuda Kembar membantu bandara menyampaikan identitas daerah maupun nasional kepada pengunjung. Alih-alih merasa ruang tunggu hambar, penumpang dapat menikmati seni, berfoto, atau sekadar merenung sambil menanti penerbangan.
Of course, tantangan menampilkan karya tradisional di ruang publik modern—namun yang dihadirkan di bandara ini berhasil menggabungkan estetika kontemporer dengan akar budaya. Bagi wisatawan asing, karya seni di bandara menjadi “etape pertama” pengenalan ragam budaya Indonesia.