INVERSI.ID – Fenomena perundungan atau bullying di kalangan remaja kini tak bisa dipandang sebelah mata. Selain merusak kesehatan mental dan hubungan sosial, bullying juga berpotensi membuka jalan bagi paparan ideologi ekstrem. Peringatan ini datang dari psikolog klinis Kasandra Putranto, yang menyoroti bagaimana pengalaman menjadi korban perundungan dapat meninggalkan luka psikologis mendalam dan berujung pada kerentanan terhadap paham berbahaya.
“Pengalaman menjadi korban bullying dapat menimbulkan rasa dendam, penolakan sosial, dan kehilangan makna diri, yang dapat membuat remaja lebih rentan terhadap pengaruh ideologi ekstrem,” kata Kasandra di Jakarta, Selasa (11/11).
Peringatan tersebut muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya keterlibatan anak muda dalam perilaku ekstrem dan kekerasan yang berakar dari rasa frustasi atau pencarian jati diri. Dalam situasi seperti itu, perundungan bisa menjadi titik awal yang memicu proses pencarian makna hidup yang salah arah.
Dari Luka Sosial ke Kerentanan Psikologis
Kasandra, yang merupakan anggota Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK), menjelaskan bahwa radikalisasi pada remaja tidak terjadi begitu saja. Menurutnya, proses ini merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor mulai dari kepribadian, kondisi sosial, hingga paparan ideologi di lingkungan sekitar atau dunia maya.
“Artinya, bullying dapat menjadi salah satu pintu masuk, tetapi tidak selalu menyebabkan dampak langsung,” ujar Kasandra.
Ia menekankan, ketika remaja mengalami perundungan, mereka cenderung merasakan keterasingan, kehilangan harga diri, dan menumbuhkan emosi negatif seperti dendam atau rasa ingin membalas. Kondisi emosional yang rapuh ini bisa dimanfaatkan oleh kelompok atau pihak yang membawa ideologi ekstrem sebagai bentuk “pelarian” atau jalan pembenaran diri.
Kasandra menambahkan, selain faktor bullying, kondisi keluarga juga berperan besar dalam membentuk daya tahan psikologis remaja. Lingkungan rumah yang tidak suportif atau komunikasi yang renggang antara orang tua dan anak dapat memperparah luka psikologis akibat perundungan.
“Radikalisasi atau tindakan kekerasan pada remaja melibatkan sejumlah faktor lain seperti kondisi keluarga, lingkungan sosial, akses terhadap ideologi ekstrem di dunia maya yang juga memiliki kontribusi besar terhadap proses radikalisasi remaja,” jelasnya.
Dampak perundungan sendiri tidak berhenti pada aspek psikologis. Kasandra menegaskan bahwa bullying juga bisa memicu berbagai gangguan emosional dan sosial, bahkan meningkatkan risiko depresi yang cukup berat pada remaja.
Sinyal Bahaya yang Sering Diabaikan
Menurut Kasandra, ada sejumlah tanda yang dapat menjadi peringatan dini bahwa seorang anak sedang menjadi korban perundungan. Gejala ini sering kali tampak sederhana, namun jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi masalah serius.
“Anak juga bisa mengalami gangguan tidur, menarik diri dari pergaulan, takut pada lawan jenis, sering sakit kepala atau pencernaan, malas ke sekolah, sering terlambat, atau bolos,” tutur Kasandra.
Ia juga menyebutkan penurunan nilai akademik secara drastis, perubahan suasana hati, hingga menurunnya semangat belajar dapat menjadi indikator lain.
“Anak menjadi murung, kehilangan nafsu makan, pendiam, mudah tersinggung, enggan membicarakan pertemanan, atau mudah terpicu emosi,” tambahnya.
Bagi sebagian orang tua, tanda-tanda tersebut mungkin terlihat sebagai perubahan wajar di masa remaja. Namun, Kasandra menegaskan bahwa justru di sinilah peran penting orang tua untuk lebih peka dan tidak menyepelekan setiap perubahan yang terjadi pada anak.
“Karena itu, orang tua harus peka terhadap setiap perubahan sikap anak agar dapat memberikan dukungan dan perlindungan yang tepat,” ujarnya.
Kasandra menilai, banyak kasus perundungan berujung parah karena minimnya komunikasi dan kepercayaan antara anak dan orang tua. Anak yang merasa tidak didengar atau tidak memiliki tempat bercerita cenderung menyimpan masalahnya sendiri, yang pada akhirnya bisa memicu stres berkepanjangan.
“Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak penting untuk membangun rasa percaya serta membantu anak mengekspresikan perasaannya secara jujur,” katanya.
Membangun Lingkar Aman untuk Remaja
Melihat kompleksitas masalah perundungan, Kasandra menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam pencegahan — tidak hanya di rumah, tapi juga di sekolah dan komunitas. Sekolah sebagai lingkungan sosial utama bagi remaja, menurutnya, memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk budaya anti-bullying yang nyata, bukan sekadar slogan.
Ia menyarankan agar sekolah memiliki sistem pelaporan yang aman bagi korban, serta program pendampingan psikologis yang konsisten. Guru dan konselor sekolah harus mampu mengenali gejala awal korban perundungan dan memberikan ruang aman bagi siswa untuk berbicara tanpa rasa takut dihakimi.
Selain itu, dunia digital juga harus menjadi perhatian. Remaja saat ini hidup di era media sosial yang bisa menjadi ladang subur bagi perundungan virtual. Cyberbullying sering kali meninggalkan luka yang sama dalamnya dengan perundungan fisik, bahkan lebih sulit dilacak.
Kasandra menegaskan bahwa dunia maya juga menjadi tempat paling mudah bagi kelompok ekstrem untuk menyebarkan ideologi mereka. Ketika remaja merasa terasing atau kehilangan arah, mereka bisa dengan cepat terpapar narasi-narasi berbahaya yang menawarkan “makna” atau “tempat diterima”.
Untuk mencegah hal itu, Kasandra mengimbau agar orang tua lebih aktif mendampingi aktivitas digital anak. “Orang tua perlu tahu dengan siapa anak berinteraksi di dunia maya, konten apa yang mereka konsumsi, dan bagaimana mereka mengekspresikan diri di sana,” ujarnya.
Membangun lingkar aman bagi remaja berarti memastikan mereka memiliki lingkungan yang suportif, baik secara emosional maupun sosial. Dukungan dari keluarga, sekolah, hingga teman sebaya menjadi kunci untuk membangun rasa percaya diri dan ketahanan mental mereka.
Kasandra menutup dengan pesan penting bahwa pencegahan perundungan bukan hanya soal menghentikan kekerasan, tapi juga tentang menciptakan ekosistem yang peduli dan empatik terhadap sesama. Karena setiap bentuk kekerasan, sekecil apa pun, bisa meninggalkan luka yang berpotensi mengubah jalan hidup seseorang.