By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Luka yang Tak Terlihat, Dampak Bullying Bisa Buka Jalan Menuju Paham Ekstrem
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Luka yang Tak Terlihat, Dampak Bullying Bisa Buka Jalan Menuju Paham Ekstrem

Kesehatan

Luka yang Tak Terlihat, Dampak Bullying Bisa Buka Jalan Menuju Paham Ekstrem

Jack
By
Jack
7 months ago
Share
6 Min Read
Ilustrasi Bullying
Ilustrasi Bullying
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena perundungan atau bullying di kalangan remaja kini tak bisa dipandang sebelah mata. Selain merusak kesehatan mental dan hubungan sosial, bullying juga berpotensi membuka jalan bagi paparan ideologi ekstrem. Peringatan ini datang dari psikolog klinis Kasandra Putranto, yang menyoroti bagaimana pengalaman menjadi korban perundungan dapat meninggalkan luka psikologis mendalam dan berujung pada kerentanan terhadap paham berbahaya.

Contents
Dari Luka Sosial ke Kerentanan PsikologisSinyal Bahaya yang Sering DiabaikanMembangun Lingkar Aman untuk Remaja

“Pengalaman menjadi korban bullying dapat menimbulkan rasa dendam, penolakan sosial, dan kehilangan makna diri, yang dapat membuat remaja lebih rentan terhadap pengaruh ideologi ekstrem,” kata Kasandra di Jakarta, Selasa (11/11).

Peringatan tersebut muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya keterlibatan anak muda dalam perilaku ekstrem dan kekerasan yang berakar dari rasa frustasi atau pencarian jati diri. Dalam situasi seperti itu, perundungan bisa menjadi titik awal yang memicu proses pencarian makna hidup yang salah arah.

Dari Luka Sosial ke Kerentanan Psikologis

Kasandra, yang merupakan anggota Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK), menjelaskan bahwa radikalisasi pada remaja tidak terjadi begitu saja. Menurutnya, proses ini merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor mulai dari kepribadian, kondisi sosial, hingga paparan ideologi di lingkungan sekitar atau dunia maya.

“Artinya, bullying dapat menjadi salah satu pintu masuk, tetapi tidak selalu menyebabkan dampak langsung,” ujar Kasandra.

Ia menekankan, ketika remaja mengalami perundungan, mereka cenderung merasakan keterasingan, kehilangan harga diri, dan menumbuhkan emosi negatif seperti dendam atau rasa ingin membalas. Kondisi emosional yang rapuh ini bisa dimanfaatkan oleh kelompok atau pihak yang membawa ideologi ekstrem sebagai bentuk “pelarian” atau jalan pembenaran diri.

Kasandra menambahkan, selain faktor bullying, kondisi keluarga juga berperan besar dalam membentuk daya tahan psikologis remaja. Lingkungan rumah yang tidak suportif atau komunikasi yang renggang antara orang tua dan anak dapat memperparah luka psikologis akibat perundungan.

“Radikalisasi atau tindakan kekerasan pada remaja melibatkan sejumlah faktor lain seperti kondisi keluarga, lingkungan sosial, akses terhadap ideologi ekstrem di dunia maya yang juga memiliki kontribusi besar terhadap proses radikalisasi remaja,” jelasnya.

Dampak perundungan sendiri tidak berhenti pada aspek psikologis. Kasandra menegaskan bahwa bullying juga bisa memicu berbagai gangguan emosional dan sosial, bahkan meningkatkan risiko depresi yang cukup berat pada remaja.

Baca Juga :

Gelar Karya Inovasi Guru Meriahkan Hari Guru Nasional 2025 di Magetan: Momentum Kreativitas dan Transformasi Pendidikan
Video CCTV Dante Ditenggelamkan oleh Yudha Arfandi

Sinyal Bahaya yang Sering Diabaikan

Menurut Kasandra, ada sejumlah tanda yang dapat menjadi peringatan dini bahwa seorang anak sedang menjadi korban perundungan. Gejala ini sering kali tampak sederhana, namun jika dibiarkan, bisa berkembang menjadi masalah serius.

“Anak juga bisa mengalami gangguan tidur, menarik diri dari pergaulan, takut pada lawan jenis, sering sakit kepala atau pencernaan, malas ke sekolah, sering terlambat, atau bolos,” tutur Kasandra.

Ia juga menyebutkan penurunan nilai akademik secara drastis, perubahan suasana hati, hingga menurunnya semangat belajar dapat menjadi indikator lain.

“Anak menjadi murung, kehilangan nafsu makan, pendiam, mudah tersinggung, enggan membicarakan pertemanan, atau mudah terpicu emosi,” tambahnya.

Bagi sebagian orang tua, tanda-tanda tersebut mungkin terlihat sebagai perubahan wajar di masa remaja. Namun, Kasandra menegaskan bahwa justru di sinilah peran penting orang tua untuk lebih peka dan tidak menyepelekan setiap perubahan yang terjadi pada anak.

“Karena itu, orang tua harus peka terhadap setiap perubahan sikap anak agar dapat memberikan dukungan dan perlindungan yang tepat,” ujarnya.

Kasandra menilai, banyak kasus perundungan berujung parah karena minimnya komunikasi dan kepercayaan antara anak dan orang tua. Anak yang merasa tidak didengar atau tidak memiliki tempat bercerita cenderung menyimpan masalahnya sendiri, yang pada akhirnya bisa memicu stres berkepanjangan.

“Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak penting untuk membangun rasa percaya serta membantu anak mengekspresikan perasaannya secara jujur,” katanya.

Membangun Lingkar Aman untuk Remaja

Melihat kompleksitas masalah perundungan, Kasandra menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam pencegahan — tidak hanya di rumah, tapi juga di sekolah dan komunitas. Sekolah sebagai lingkungan sosial utama bagi remaja, menurutnya, memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk budaya anti-bullying yang nyata, bukan sekadar slogan.

Ia menyarankan agar sekolah memiliki sistem pelaporan yang aman bagi korban, serta program pendampingan psikologis yang konsisten. Guru dan konselor sekolah harus mampu mengenali gejala awal korban perundungan dan memberikan ruang aman bagi siswa untuk berbicara tanpa rasa takut dihakimi.

Selain itu, dunia digital juga harus menjadi perhatian. Remaja saat ini hidup di era media sosial yang bisa menjadi ladang subur bagi perundungan virtual. Cyberbullying sering kali meninggalkan luka yang sama dalamnya dengan perundungan fisik, bahkan lebih sulit dilacak.

Kasandra menegaskan bahwa dunia maya juga menjadi tempat paling mudah bagi kelompok ekstrem untuk menyebarkan ideologi mereka. Ketika remaja merasa terasing atau kehilangan arah, mereka bisa dengan cepat terpapar narasi-narasi berbahaya yang menawarkan “makna” atau “tempat diterima”.

Untuk mencegah hal itu, Kasandra mengimbau agar orang tua lebih aktif mendampingi aktivitas digital anak. “Orang tua perlu tahu dengan siapa anak berinteraksi di dunia maya, konten apa yang mereka konsumsi, dan bagaimana mereka mengekspresikan diri di sana,” ujarnya.

Membangun lingkar aman bagi remaja berarti memastikan mereka memiliki lingkungan yang suportif, baik secara emosional maupun sosial. Dukungan dari keluarga, sekolah, hingga teman sebaya menjadi kunci untuk membangun rasa percaya diri dan ketahanan mental mereka.

Kasandra menutup dengan pesan penting bahwa pencegahan perundungan bukan hanya soal menghentikan kekerasan, tapi juga tentang menciptakan ekosistem yang peduli dan empatik terhadap sesama. Karena setiap bentuk kekerasan, sekecil apa pun, bisa meninggalkan luka yang berpotensi mengubah jalan hidup seseorang.

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek
TAGGED:BullyingKesehatan Mental
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Nightlife Bergeser ke Fitlife, Gaya Hidup Sehat Jadi Tren Sosial Gen Z
Next Article SMA Kemala Taruna Bhayangkara, Sekolah Masa Depan Pencetak Generasi Emas
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Psikolog Ungkap Penyebab Pelaku Taufik Hidayat Nekat Menyekap dan Menyiksa Korban

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil

4 weeks ago
Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index