Jakarta, inversi.id – Sektor ekonomi Indonesia kembali diterpa dinamika besar. Bank Indonesia (BI) melaporkan terjadinya aliran modal asing keluar (capital outflow) sebesar Rp 3,79 triliun hanya dalam sepekan (10–13 November 2025).
Lonjakan outflow ini memicu perhatian serius, mengingat tekanan investor asing dapat berimbas pada kestabilan pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.
Data BI menunjukkan pola mengkhawatirkan, yakni meski ada dana masuk ke pasar saham, tekanan dari penarikan dana di instrumen lain jauh lebih besar. Kondisi ini menciptakan saldo modal asing mingguan yang negatif.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pergerakan investor asing minggu lalu menunjukkan kontras yang signifikan antara jenis aset.
Pertama, pasar saham: mencatat inflow sebesar Rp 3,92 triliun. Kedua, Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow tajam hingga Rp 6,33 triliun. Ketiga, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah melepas dana asing sebesar Rp 1,39 triliun.
Data resmi ini dipublikasikan BI melalui keterangan pers dan dikonfirmasi oleh Inversi.id yang mencatat total outflow pekan ini mencapai Rp 3,79 triliun.
Ramdan menegaskan, BI terus memonitor kondisi pasar secara intensif agar outflow tersebut tidak mengguncang ekonomi nasional.
“Bank Indonesia memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makro, terutama menghadapi dinamika aliran modal asing yang terus berubah,” ujarnya, Jumat (14/11) di Jakarta.
Ekonom menilai terdapat tiga faktor utama yang mendorong keluarnya dana asing dari pasar Indonesia pekan ini. Pertama, Tekanan pada yield SBN dan risiko rupiah. Ketika yield SBN bergerak naik atau dinilai kurang menarik dibanding negara lain, investor asing cenderung melepas kepemilikan mereka. Hal ini diperparah oleh kekhawatiran terhadap potensi pelemahan rupiah.
Kedua, ketidakpastian kebijakan makro. Di tengah pembahasan kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai belum memberi sinyal kuat jangka panjang, investor memilih mengurangi risiko dengan menarik dana dari instrumen obligasi.
Ketiga, sentimen global yang berubah cepat.
Kenaikan suku bunga global, tensi geopolitik, dan perubahan arus modal internasional membuat pasar berkembang seperti Indonesia menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap hot money.
Para analis memperingatkan bahwa capital outflow besar dapat menimbulkan tiga tekanan utama. Meningkatkan volatilitas pasar keuangan, termasuk pergerakan imbal hasil SBN, menekan nilai tukar rupiah jika aksi jual mata uang berlanjut, dan mengurangi kepercayaan investor asing, baik portofolio maupun jangka panjang (FDI).
Jika pola ini bertahan lebih dari satu pekan, tekanan ke sektor fiskal dan keuangan bisa semakin besar.
Bank Indonesia menyatakan, pihaknya akan menggunakan seluruh instrumen bauran kebijakan untuk meredam dampak outflow, termasuk penguatan operasi moneter, stabilisasi nilai tukar, dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah.
Ramdan kembali menegaskan BI akan terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga agar perekonomian tetap stabil dan menarik bagi investor asing.