Pesawat ATR (Avions de Transport Regional) sudah lama menjadi tulang punggung penerbangan perintis di Indonesia. Hemat bahan bakar dan mampu mendarat di landasan pendek menjadikan pesawat ini primadona di wilayah kepulauan. Namun, data mencatat sisi lain yang kelam.
Baru-baru ini, insiden ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung (Januari 2026) kembali membuka luka lama dunia penerbangan kita. Dengan medan pegunungan yang ekstrem dan cuaca yang cepat berubah, risiko Controlled Flight Into Terrain (CFIT) menjadi momok menakutkan bagi para pilot di rute perintis.
Naskah : Isharrudin
Dsign : Nugraha