Inversi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Inggris melalui kerja sama strategis di bidang maritim dan pendidikan. Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat berbincang dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam pertemuan resmi yang berlangsung di Kantor Perdana Menteri Inggris, 10 Downing Street, London, Selasa.
Pertemuan yang berlangsung di lantai dua kantor resmi PM Inggris itu menjadi momentum penting bagi kedua negara untuk memperdalam kemitraan di sektor-sektor yang dinilai memiliki nilai strategis jangka panjang. Presiden Prabowo menyambut baik rencana penandatanganan sejumlah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang dijadwalkan dilakukan pada hari yang sama.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menilai sektor maritim dan pendidikan merupakan dua pilar utama yang dapat mendorong kemajuan bersama Indonesia dan Inggris. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan besar dalam penguatan sektor kelautan dan perikanan, sementara Inggris memiliki pengalaman dan teknologi maju di bidang maritim. Di sisi lain, kerja sama pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.
Salah satu bentuk konkret kerja sama maritim yang akan disepakati adalah MoU pembuatan kapal tangkap ikan. Kerja sama ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas armada nelayan nasional sekaligus memperkuat pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan. Kapal-kapal tangkap ikan yang direncanakan akan dibangun melalui kemitraan ini diharapkan dapat membantu nelayan meningkatkan produktivitas dan keselamatan kerja di laut.
Presiden Prabowo menilai bahwa penguatan armada perikanan nasional tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan nelayan, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan kedaulatan ekonomi nasional. Dengan armada yang memadai, potensi kekayaan laut Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Selain kerja sama maritim, Indonesia dan Inggris juga akan memperluas kemitraan di bidang pendidikan tinggi. Pemerintah Indonesia dijadwalkan menandatangani kerja sama dengan Russell Group, yaitu konsorsium yang beranggotakan 24 universitas papan atas di Inggris. Kelompok ini dikenal memiliki reputasi global dalam bidang riset, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kerja sama pendidikan ini mencakup berbagai bentuk kolaborasi, mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen, penguatan riset bersama, hingga pengembangan institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Presiden Prabowo menekankan pentingnya menjalin kemitraan hanya dengan institusi pendidikan terbaik agar transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berjalan secara maksimal.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam pertemuan tersebut menyampaikan apresiasi atas hubungan erat yang telah terjalin antara Indonesia dan Inggris. Ia mengungkapkan rasa bahagianya atas meningkatnya intensitas kerja sama kedua negara dan menyatakan komitmen Inggris untuk terus menjadi mitra strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam pertemuan di London tersebut, Presiden Prabowo didampingi sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Mereka antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kehadiran para menteri tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam merealisasikan kerja sama lintas sektor.
Di kesempatan terpisah, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang juga menjabat sebagai Juru Bicara Presiden RI menjelaskan bahwa MoU pembuatan kapal tangkap ikan memiliki tujuan strategis. Kerja sama tersebut diharapkan dapat membantu nelayan, menggerakkan perekonomian lokal, serta melindungi potensi kekayaan ikan nasional agar dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh bangsa Indonesia.
Prasetyo menegaskan bahwa sekitar dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan, sehingga kebutuhan akan kapal tangkap ikan diperkirakan mencapai puluhan ribu unit. Oleh karena itu, pemerintah membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, guna mempercepat pemenuhan kebutuhan armada perikanan nasional.
“Kita membuka kerja sama dengan siapa pun, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk memperbanyak kepemilikan kapal-kapal tangkap ikan,” ujar Prasetyo saat menjawab pertanyaan wartawan.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan bahwa kerja sama pendidikan dengan Inggris dilakukan secara selektif. Menurutnya, Presiden Prabowo hanya ingin bermitra dengan universitas-universitas terbaik yang memiliki reputasi internasional.
Stella menjelaskan bahwa Russell Group merupakan kumpulan universitas paling bergengsi di Inggris, sehingga kerja sama dengan kelompok tersebut diharapkan mampu membawa standar pendidikan dan riset kelas dunia ke Indonesia. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia nasional di tingkat global.
Dengan penguatan kerja sama di bidang maritim dan pendidikan, hubungan Indonesia dan Inggris diharapkan tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Pemerintah Indonesia optimistis kemitraan strategis ini akan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.