CHONBURI
Tambahan dua medali perak di SEA Games Thailand 2025 bukan sekadar menambah angka di papan klasemen medali. Bagi cabang woodball Indonesia, hasil ini menjadi penanda prospek cerah dan sinyal kuat pembinaan yang dijalankan mulai menghasilkan konsistensi di level Asia Tenggara.
Pada hari kedua pertandingan di Royal Thai Fleet Golf Course, Sabtu (13/12) Tim Woodball Indonesia meraih perak dari nomor men’s team stroke dan women’s team stroke. Hasil ini menunjukkan kedalaman tim dan kesiapan atlet menghadapi persaingan ketat, terutama dari tuan rumah Thailand yang tampil dominan.
Di nomor men’s team stroke, Indonesia yang diperkuat Ahris Sumariyanto, Ahmad Yopi Solpianda, Muhammad Indaka Pia Ramadhan, Ariska, Marga Nugraha Susilo, dan I Putu Ari Kuncoro mengumpulkan total 938 pukulan. Thailand keluar sebagai peraih emas dengan 830 pukulan, sementara Malaysia berada tepat di bawah Indonesia dengan 945 pukulan.
Sementara itu, sektor women’s team stroke yang dihuni Aileen Christabel Melati Putri, Siti Masithah, Falisha Galiana Noya, Celsy Silviana, Febriyanti, dan Finda Tri Setianingrum membukukan 954 pukulan. Thailand kembali menjadi yang terbaik dengan 914 pukulan, sedangkan Malaysia tertinggal jauh di posisi ketiga dengan 1.054 pukulan.
Bagi atlet-atlet muda Indonesia, SEA Games 2025 menjadi panggung pembuktian awal. Falisha Galiana Noya dan Finda Tri Setianingrum, yang melakoni SEA Games perdananya, menilai perak ini sebagai titik awal untuk capaian yang lebih tinggi ke depan. “Alhamdulillah, SEA Games pertama ini kita dapat medali perak, mungkin agak greget karena tidak dapat emas,” ucap Noya.
Senada, Finda menegaskan tekad untuk menjadikan pengalaman ini sebagai pemicu peningkatan performa. “Rasanya terharu, belum bisa mencapai ekspektasi, tapi selanjutnya kita akan berjuang lebih keras. Harapan saya besok bisa berupaya lebih jauh dari hari-hari sebelumnya, semoga besok saya bisa masuk dalam 3 besar dan bisa mendapatkan medali,” sahut Finda.
Ketua Umum Indonesia Woodball Association (IWbA), Aang Sunadji, menilai capaian dua perak ini sebagai gambaran nyata bahwa mental bertanding atlet Indonesia semakin matang. Ia menyebut permainan yang lebih lepas menjadi faktor penting dalam menjaga peluang emas tetap terbuka.
“Hari ini teman-teman mainnya jauh lebih lepas, banyak banget mulai naik ke atas. Bahkan tadinya tim putra bertanding untuk tim harusnya dapat perunggu, cuman tadi mereka lepas banget hari ini bisa merebut perak lagi,” ujar Aang.
Menurut Aang, tren positif ini membuka optimisme besar untuk nomor individu yang akan menjadi penentu selanjutnya. “Karena tadi mulai lepas mainnya, dan mulai ada di top three semoga besok kita bisa mencuri emas,” tutupnya.