INVERSI.ID – Rumah produksi Falcon Pictures kembali membuat gebrakan dengan menghadirkan sekuel terbaru dari waralaba legendaris Comic 8. Film yang kali ini diberi judul “Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t” diklaim sebagai proyek paling berani dan unik dari sang sutradara, Fajar Bustomi, yang berusaha memadukan empat genre sekaligus: aksi, politik, komedi, dan horor.
Film ini menjadi lanjutan semangat “revolusi komedi aksi Indonesia” setelah kesuksesan besar Comic 8 (2014) dan Comic 8: Casino Kings (2015–2016). Keduanya dikenal berhasil membawa humor khas anak muda Indonesia ke layar lebar dengan sentuhan laga dan satire sosial yang cerdas. Kini, Falcon Pictures mencoba menghidupkan kembali semangat itu dengan cara yang lebih gila, lebih berani, dan tentu saja lebih lucu.
Fajar Bustomi Kembali Eksperimen dengan Genre Gila-Gilaan
“Bayangkan film aksi, film politik, film horor, dan stand up comedy semua dicampur dalam satu panci besar,” ujar Fajar Bustomi dalam keterangan pers yang diterima, Selasa (6/10).
“Hasilnya? Ledakan, tawa, dan mantra-mantra aneh bersatu padu. Kalau biasanya film santet bikin merinding, kali ini bikin ngakak sambil merinding.”
Pernyataan Fajar tersebut menggambarkan konsep unik yang diusung film ini. Ia ingin menciptakan pengalaman sinematik yang tak hanya menghibur secara visual, tetapi juga menyentil fenomena sosial-politik Indonesia dengan pendekatan satir yang ringan.
Sebagai sutradara yang sebelumnya sukses menggarap film Dilan 1990, Milea, dan Bukan Cinderella, Fajar dikenal lihai memainkan emosi penonton. Kini, ia mencoba membawa formula itu ke ranah komedi aksi horor — kombinasi yang jarang dieksplor di perfilman nasional.
Kisah Absurd Tentang Kabinet yang Kena Santet
Cerita Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t berpusat pada sekelompok orang biasa yang tak sengaja terlibat dalam misteri besar: sebuah kabinet pemerintahan diduga terkena santet massal. Dari sinilah kekacauan dimulai.
Sekelompok karakter “pasukan kocak” yang baru direkrut lewat audisi Comic 8 Revolution akan mencoba membongkar kasus ganjil tersebut. Dalam prosesnya, mereka akan berhadapan dengan pejabat aneh, dukun politik, intel mistik, hingga rahasia kelam di balik kekuasaan yang penuh tawa dan teror.
“Film ini bukan hanya lucu, tapi juga penuh simbol. Kami ingin bercerita bahwa politik di Indonesia kadang memang terasa seperti dunia mistik—penuh intrik, doa, dan santet,” kata Fajar sambil tertawa.
Wajah Baru, Energi Baru
Berbeda dari film sebelumnya yang menampilkan deretan komika ternama seperti Ernest Prakasa, Babe Cabita, dan Mongol, kali ini Falcon Pictures memperkenalkan generasi baru hasil audisi besar-besaran bertajuk Comic 8 Revolution Audition.
Deretan komika baru yang berhasil lolos antara lain Bagas Sianipar, Bayu Wibowo, Fadholi Ambar, Felix Seda, Johan Juling, Jerry Libing, Aep Sutisna, Sardhol, Andro, dan Bayu Terimakasih.
Mereka inilah yang akan menjadi tulang punggung humor segar di film ini. Para komika muda tersebut membawa gaya komedi yang lebih cepat, satir, dan relevan dengan kehidupan digital anak muda zaman sekarang.
“Generasi baru ini punya energi yang luar biasa. Mereka bukan hanya lucu di panggung, tapi juga punya kemampuan akting yang natural. Kami ingin menciptakan regenerasi komika layar lebar lewat Comic 8 Revolution,” tambah Fajar.
Kolaborasi Komedian Senior dan Pendatang Baru
Meski diisi oleh wajah baru, Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t tetap menghadirkan para komedian dan aktor senior yang sudah akrab di dunia hiburan Indonesia. Beberapa nama besar yang akan tampil di film ini antara lain Indro Warkop, Andre Taulany, Hesti Purwadinata, Oki Rengga, dan Mo Sidik.
Kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan keseimbangan antara pengalaman dan spontanitas di layar. Indro Warkop, misalnya, dikenal sebagai ikon komedi Indonesia yang mampu menjembatani gaya humor klasik dengan selera milenial.
“Buat saya, ini seperti reuni lintas generasi komedi. Ada semangat Warkop di sana, tapi juga ada napas baru yang segar dari anak muda,” ujar Indro dalam wawancara singkat.
Gabungan Aksi, Komedi, dan Horor dalam Balutan Satir Politik
Dari sisi konsep, film ini bukan hanya menjual tawa. Ada pesan sosial dan kritik halus yang dikemas lewat humor dan absurditas. Fajar Bustomi mengatakan bahwa unsur politik di film ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak mana pun, melainkan untuk mengajak penonton tertawa sambil merenung.
“Kalau di dunia nyata kita sering lihat politik yang bikin stres, di film ini kami bikin politik jadi bahan ketawa. Tapi tetap ada pesan tentang kekuasaan, keserakahan, dan manusia yang selalu ingin lebih,” ungkapnya.
Elemen horor dan santet yang biasanya menjadi pusat ketakutan, kini justru menjadi sumber kelucuan. Adegan-adegan mistik dikemas dengan efek visual yang dramatis, tapi disusupi dialog komedi absurd khas Fajar Bustomi.
“Bayangkan ritual santet tapi pakai laptop dan WiFi, itu kira-kira suasananya,” ujar Fajar sambil bercanda.
Falcon Pictures Siapkan Produksi Besar
Sebagai salah satu rumah produksi terbesar di Indonesia, Falcon Pictures memastikan bahwa proyek ini dikerjakan dengan skala besar dan serius. Produksi film dilakukan dengan teknologi sinematografi terbaru serta melibatkan tim efek visual yang sebelumnya mengerjakan film-film aksi populer.
Salah satu daya tarik film ini adalah bagaimana Falcon berani mengambil risiko besar dengan menggabungkan genre-genre yang selama ini dianggap “tabrakan”. Namun, justru di situlah letak daya tariknya.
“Kami ingin memberikan sesuatu yang beda untuk penonton Indonesia. Film ini gila, tapi di situlah keseruannya,” kata perwakilan Falcon Pictures.
Film yang Siap Jadi Hiburan Akhir Tahun
Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t dijadwalkan tayang di bioskop pada akhir tahun 2025. Film ini diproyeksikan menjadi salah satu tontonan paling ramai menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru, dengan target penonton lintas generasi—mulai dari penggemar film laga hingga pecinta stand up comedy.
Promosi film ini juga dilakukan secara masif di media sosial, termasuk melalui konten humor pendek di TikTok dan Instagram yang menampilkan interaksi lucu para pemain. Strategi ini diharapkan mampu menarik minat penonton muda yang menjadi segmen utama Falcon Pictures.
Dengan kombinasi aksi, horor, dan tawa tanpa henti, film ini berpotensi menjadi momentum kebangkitan film komedi Indonesia yang segar dan berani.
“Film ini seperti pesta besar. Semua orang bisa datang, tertawa, dan lupa sejenak dengan hiruk-pikuk dunia nyata,” tutup Fajar Bustomi.