By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Gelar Sarjana Bukan Lagi Jaminan Sukses? Ini Fakta dan Tantangan yang Dihadapi Gen Z
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Gelar Sarjana Bukan Lagi Jaminan Sukses? Ini Fakta dan Tantangan yang Dihadapi Gen Z

Terkini

Gelar Sarjana Bukan Lagi Jaminan Sukses? Ini Fakta dan Tantangan yang Dihadapi Gen Z

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
4 Min Read
Ilustrasi beasiswa (Foto: Pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Selama bertahun-tahun, kuliah dianggap sebagai kunci kesuksesan fase “empat tahun terbaik dalam hidup” yang penuh janji dan harapan masa depan cerah. Namun, seiring berjalannya waktu, pandangan ini mulai bergeser, terutama di kalangan Generasi Z.

Contents
Biaya Tinggi, Imbal Hasil Rendah?Dunia Kerja Tak Lagi Fokus pada IjazahApakah Gelar Masih Penting?Ketika AI Menguji Relevansi PendidikanMasa Depan: Belajar Seumur Hidup, Bukan Hanya Empat Tahun

Sebuah survei terbaru dari Indeed mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat menganggap gelar mereka sebagai “pemborosan uang”. Penyesalan ini paling terasa di kalangan Gen Z, di mana 51% dari mereka menyatakan kecewa terhadap investasi waktu dan biaya kuliah yang telah mereka habiskan.

Sikap serupa juga ditemukan di kalangan generasi milenial (41%), sementara hanya 20% baby boomer yang merasa demikian. Data ini menunjukkan adanya pergeseran sikap besar terhadap nilai pendidikan tinggi.

Biaya Tinggi, Imbal Hasil Rendah?

Menurut Kyle MK, pakar tren karier dari Indeed, banyak lulusan kini mulai mempertanyakan imbal hasil (return on investment/ROI) dari gelar yang mereka peroleh. Hal ini tak mengherankan, mengingat biaya kuliah di AS telah melonjak dua kali lipat dalam dua dekade terakhir dan kini mencapai rata-rata lebih dari US\$38.000. Sementara itu, total utang pinjaman mahasiswa di negara tersebut telah mendekati angka US\$2 triliun.

Selain beban finansial, tekanan psikologis dan hambatan karier juga mulai terasa. Sebanyak 38% responden menyatakan bahwa utang pendidikan justru menghalangi mereka untuk berkembang dalam karier.

Dunia Kerja Tak Lagi Fokus pada Ijazah

Seiring perkembangan zaman, perusahaan-perusahaan mulai bergeser dari syarat formal seperti ijazah ke kualifikasi yang lebih praktis. Faktanya, sekitar 52% lowongan kerja di platform Indeed saat ini tidak lagi mencantumkan pendidikan formal sebagai syarat utama.

Namun, realita ini belum banyak disadari para lulusan muda. Saat ini, sekitar 4,3 juta anak muda Gen Z di AS tergolong NEET (Not in Education, Employment, or Training) mereka tidak bekerja, tidak kuliah, dan tidak mengikuti pelatihan.

Apakah Gelar Masih Penting?

Meski gelombang skeptisisme terhadap pendidikan tinggi semakin besar, sejumlah pakar mengingatkan bahwa gelar sarjana bukan hanya soal pekerjaan pertama.

Christine Cruzvergara, Chief Education Strategy Officer di Handshake, menegaskan bahwa kampus juga berfungsi sebagai ruang untuk menemukan jati diri, membangun jaringan, dan mengasah kepemimpinan.

Baca Juga :

BNI Kucurkan Rp1,5 Triliun Untuk Program Makan Bergizi Gratis
Gestur Hormat Prabowo kepada Emil Salim, Simbol Penghormatan Kepada Senior

“Banyak orang mengira universitas hanya tempat belajar teori, padahal kampus juga tempat bertemu orang-orang yang satu visi, yang kelak bisa jadi partner bisnis atau karier,” katanya menyebutkan.

Contoh nyatanya adalah Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, yang bertemu co-founder-nya saat masih kuliah di Harvard, meskipun ia akhirnya drop out.

Walaupun hampir 70% lulusan muda merasa bisa bekerja tanpa gelar, pengalaman sosial dan jaringan yang diperoleh dari bangku kuliah sering kali menjadi pintu masuk ke peluang besar.

Ketika AI Menguji Relevansi Pendidikan

Kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), juga turut memicu keraguan akan nilai sebuah gelar. Sekitar 30% lulusan merasa AI membuat gelar mereka kurang relevan, dan angka ini bahkan melonjak menjadi 45% di kalangan Gen Z.

Namun menurut Kyle MK, AI bukanlah pengganti, melainkan penguat keterampilan manusia.

“AI tidak akan menggantikan pendidikan yang kokoh. Justru, mereka yang terbiasa belajar dan beradaptasi akan lebih unggul,” katanya.

Bidang-bidang seperti programming dasar, analisis data, dan produksi konten otomatis memang rawan tergantikan AI. Namun, sektor seperti keperawatan, manajemen proyek, hingga strategi kreatif masih sangat membutuhkan sentuhan manusia.

Masa Depan: Belajar Seumur Hidup, Bukan Hanya Empat Tahun

Di tengah ketidakpastian dunia kerja dan transformasi teknologi, satu hal menjadi semakin jelas, gelar saja tidak cukup. Yang dibutuhkan oleh generasi muda saat ini adalah kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan bertumbuh mengikuti perubahan zaman.

Pendidikan tinggi mungkin bukan lagi satu-satunya jalur menuju sukses, tetapi nilai dari proses pembelajaran, jaringan sosial, dan soft skill yang terbentuk tetap tak ternilai harganya.***

You Might Also Like

Fakta PHK Samarinda ! Disnaker: Proyek Tambang Berakhir, Bukan Sebab RKAB
DPK Tembus Rp47,9 Triliun! Kepercayaan Pengusaha ke CIMB Niaga Makin Kuat
Menlu Iran Ancam Tindak Lanjut Serangan Ukraina terhadap Kapal Dagang di Laut Kaspia
Pemerintah Rusia Tahan Ekspor Bensin Sampai Akhir Tahun demi Stabilkan Pasokan Dalam Negeri
Kolaborasi Jepang-Inggris-Italia Kembangkan Jet Tempur Berteknologi AI dan Stealth
TAGGED:gen zSarjana
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article SCG Sharing The Dream 2025: Beasiswa Keren Buat Anak Muda Bikin Dampak Nyata!
Next Article Emas Digital, Cara Cerdas Gen Z Membangun Masa Depan Finansial
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI karena Alasan Pribadi, Pemerintah Siapkan Keppres Pemberhentian

BRIvolution Berbuah Manis! Transformasi BRI Diakui Masuk Daftar Bank Terbesar Dunia

Proyek Gas Raksasa North Hub Siap Tembus 1.000 MMSCFD dan Buka 8.000 Lowongan

Mensesneg: Prabowo Terima Pengunduran Diri Perry Warjiyo Sesuai Mekanisme Undang-Undang

Destry Damayanti Resmi Jadi Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Usai Perry Warjiyo Mundur

Kepala Staf Kepresidenan, Minta Kasus Pengeroyokan Terduga Pencuri Ayam di Tabanan Diusut Tuntas

Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Istana Sampaikan Penghargaan atas Dedikasi 7 Tahun

Bahlil Proaktif Dorong TransJakarta Pakai Hidrogen demi Kemandirian Energi

Korlantas Tegaskan Denda Ban Gundul Rp250 Ribu Bukan Aturan Baru, Informasi Viral Dipastikan Hoaks

Tak Sekadar Sepak Bola, Piala Presiden 2026 Buka Peluang Bisnis bagi 100 UMKM

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Presiden AS Donald Trump marah pada CNN dan New York Times yang bikin berita tak sesuai harapan soal situs nuklir Iran. (Foto : Reuters)
Internasional

Donald Trump Tegaskan China dan Rusia Tak Memasok Senjata ke Iran

4 days ago
Internasional

Rusia Klaim Serang Pusat Logistik dan Fasilitas Drone Ukraina dalam Operasi Terbaru

4 days ago
PolitikTerkini

Nama Bahlil Disoraki Kader PKB, Komen Cak Imin : “Gawat, Banyak Penggemarnya!”

4 days ago
InternasionalKesehatan

Kasus Campak di Amerika Serikat Tembus 2.300, Lampaui Rekor Sepanjang 2025

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index