INVERSI.ID – Generasi Z lagi-lagi bikin Hollywood geleng kepala. Setelah berhasil mengguncang industri musik, fashion, sampai media sosial, kini giliran dunia film yang mereka ubah total. Sebuah studi besar yang dirilis UCLA’s Center for Scholars & Storytellers (via Variety, 24 Oktober) mengungkapkan hasil mencengangkan: Gen Z ternyata lebih tertarik nonton film dan serial yang menonjolkan cerita tentang persahabatan, keberagaman, dan kedalaman karakter—bukan drama romansa yang penuh adegan seksual.
Basically, mereka udah capek sama formula lama Hollywood. “Cinta, patah hati, dan adegan ranjang” bukan lagi jualan utama buat generasi digital ini. Mereka mencari tontonan yang lebih relatable, jujur, dan punya makna emosional yang kuat.
Hasil riset yang melibatkan ribuan anak muda usia 10–24 tahun ini jadi tamparan keras buat para pembuat film. Mayoritas responden merasa bahwa adegan seksual sering kali tidak perlu dan justru mengganggu alur cerita. Mereka pengen karakter yang lebih manusiawi dan kisah yang bisa mereka lihat sebagai refleksi hidup sehari-hari.
Lebih dari separuh responden (sekitar 51%) bilang mereka lebih suka cerita tentang hubungan platonis—persahabatan yang murni tanpa embel-embel cinta—atau kisah keluarga yang punya dinamika emosional. Bahkan sekitar 39% berharap bisa melihat lebih banyak karakter aromantik (yang tidak tertarik pada romansa) dan aseksual (yang tidak tertarik pada aktivitas seksual) di layar. Itu sinyal jelas: representasi manusia dalam film harus berkembang sejalan dengan nilai dan keberagaman yang Gen Z anut.
Hollywood Harus Move On dari Formula Lama
Kalau kita mundur sedikit, Hollywood punya sejarah panjang dalam menjual “seksualitas” sebagai elemen utama tontonan remaja. Dari era “Where The Boys Are” di tahun 1960-an, “Porky’s” di 1980-an, “American Pie” di 1999, sampai “Superbad” di 2007—semuanya dibangun dengan satu benang merah: makin vulgar, makin laku.
Namun, kini tren itu terbalik. Ketika ditanya soal film atau serial favorit, jawaban anak muda justru nyentuh ranah yang berbeda: “Stranger Things,” “Wednesday,” “Spongebob Squarepants,” hingga “Spider-Man.” Gak ada yang menjual romansa murahan. Sebaliknya, semua menonjolkan tema tentang persahabatan, jati diri, dan perjuangan menghadapi tantangan.
Fenomena ini menunjukkan perubahan mendasar dalam selera generasi muda. Mereka gak lagi terpesona oleh hal-hal yang dianggap “dewasa” secara superfisial. Gen Z tumbuh di era internet yang serba terbuka—mereka tahu kapan sesuatu terasa genuine dan kapan itu cuma upaya murahan untuk cari sensasi.
Bahkan, banyak dari mereka mulai mengkritik keras produksi yang memaksakan unsur seksual tanpa relevansi. Media sosial jadi wadah baru buat mereka menyuarakan opini itu. Dari TikTok sampai X (Twitter), komentar seperti “ngapain sih adegan ini ada?” atau “ini malah ganggu ceritanya” udah jadi pemandangan biasa.
Popularitas besar serial dan film animasi di platform streaming pun memperkuat tren ini. Bukan cuma karena visualnya menarik, tapi karena genre ini menawarkan kebebasan berekspresi tanpa batas. Animasi bisa membahas tema yang kompleks—tentang identitas, trauma, dan penerimaan diri—tanpa harus terjebak dalam ekspektasi realisme.
Ambil contoh film seperti Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023) yang sukses besar di kalangan Gen Z. Film ini bukan cuma soal aksi keren dan multiverse, tapi juga tentang hubungan antara anak dan orang tua, perjuangan memahami jati diri, serta arti pengorbanan dalam persahabatan.
Dari Sekadar Hiburan ke Cermin Kehidupan
Studi UCLA ini menegaskan sesuatu yang selama ini mungkin diremehkan oleh industri: Gen Z adalah generasi yang haus akan keaslian. Mereka tumbuh dalam dunia yang serba cepat, penuh tekanan sosial, dan banjir informasi. Jadi ketika menonton, mereka mencari pelarian yang wholesome—cerita yang bisa bikin mereka merasa terhubung, bukan terguncang.
“Industri hiburan harus sadar, Gen Z sudah menentukan standar. Mereka menuntut keaslian. Jika adegan seks tidak esensial untuk perkembangan karakter atau cerita, mereka akan skip atau bahkan mengkritiknya habis-habisan di media sosial,” ujar Dr. Sarah Miller, peneliti utama dari UCLA.
Generasi ini tidak menolak romansa atau kedekatan emosional. Mereka hanya ingin semuanya terasa nyata dan punya alasan kuat dalam cerita. Buat Gen Z, hubungan manusia lebih luas daripada sekadar urusan cinta atau seks. Mereka peduli pada persahabatan, keluarga, komunitas, bahkan hubungan antar generasi.
Di sisi lain, Hollywood mulai pelan-pelan beradaptasi. Film dan serial seperti Heartstopper, The Mitchells vs. The Machines, hingga Turning Red mulai jadi simbol perubahan arah industri. Ketiganya membuktikan bahwa cerita dengan kehangatan emosional, tanpa eksploitasi seksual, bisa sama kuat dan bahkan lebih mengena bagi penonton muda.
Pada akhirnya, yang dicari Gen Z bukan sekadar tontonan, tapi representasi. Mereka ingin melihat karakter yang mencerminkan dunia mereka—beragam, kompleks, dan autentik. Dan selama industri hiburan masih berpikir bahwa “seks menjual,” mereka akan terus kehilangan audiens paling berpengaruh di planet ini.
Generasi Z telah berbicara lewat klik, share, dan komentar mereka: keaslian lebih seksi daripada sensualitas. Dan mungkin, inilah awal dari revolusi baru di Hollywood—bukan revolusi erotika, tapi revolusi empati.