INVERSI.ID – Pemerintah Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama di sektor pendidikan dengan menitikberatkan pada pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), peningkatan kompetensi tenaga pendidik, pembaruan nota kesepahaman (MoU), hingga perluasan akses pendidikan bagi peserta didik.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dengan Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee yang berlangsung sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral kedua negara di bidang pendidikan.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan di Jakarta Pusat, Minggu, Abdul Mu’ti mengatakan Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menyediakan layanan pendidikan yang merata. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 50 juta peserta didik, masih banyak anak yang tinggal di daerah terpencil sehingga membutuhkan dukungan teknologi untuk memperoleh akses belajar yang setara.
Menurutnya, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, pemerintah terus mengembangkan sistem pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang lebih fleksibel melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Kita bisa menggunakan teknologi untuk memiliki akses ke internet, kita bisa menggunakan teknologi, termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk menghilangkan kesenjangan antara pelajar yang tinggal di kota dan pelajar yang tinggal di pelosok negeri,” ujar Mu’ti.
Meski demikian, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam dunia pendidikan tidak boleh mengesampingkan kemampuan berpikir kritis maupun reflektif peserta didik. Ia menilai teknologi kecerdasan buatan tetap memiliki keterbatasan, terutama dalam memahami aspek budaya, bahasa, dan konteks lokal yang hanya dapat dipahami secara utuh oleh manusia.
“Kadang-kadang, AI bisa membantu mereka, untuk memiliki narasi atau deskripsi, tetapi jika berpikir refleksif, dan berpikir kritis, itu tidak banyak,” tegas Mu’ti.
Dalam pertemuan tersebut, Mendikdasmen juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan Temasek maupun perusahaan-perusahaan asal Singapura yang beroperasi di Indonesia. Kolaborasi itu diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di wilayah yang memiliki kedekatan geografis dengan Singapura seperti Sumatera.
Selain itu, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mengatasi dampak learning loss yang masih menjadi tantangan di sejumlah daerah pascapandemi.
Abdul Mu’ti juga berharap Indonesia dan Singapura dapat menemukan solusi terbaik agar layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Singapura tetap berjalan secara optimal.
Tak hanya membahas peserta didik, kedua menteri juga berdiskusi mengenai peningkatan kompetensi guru serta penguatan kapasitas pekerja migran Indonesia agar memiliki keterampilan yang lebih baik selama bekerja di Singapura.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee mengusulkan pembaruan nota kesepahaman (MoU) kerja sama pendidikan yang terakhir diperbarui pada 2017. Menurutnya, perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, hingga tantangan global menuntut adanya kerja sama yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Sejak 2017, banyak yang berubah. Teknologi, AI, fokus kita terhadap masalah di seluruh dunia, sehingga secara domestik, kita mengambil peluang, memperbaiki MoU-nya, menyesuaikan, dan membuatnya berorientasi ke masa depan, untuk kolaborasi Indonesia-Singapura,” kata Desmond Lee.
Pembaruan kerja sama tersebut dinilai semakin penting mengingat Indonesia dan Singapura akan memperingati 60 tahun hubungan diplomatik pada 2027.
Selain isu pemanfaatan AI dan peningkatan kualitas pendidikan, kedua negara juga membahas keberlanjutan operasional Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Masa penggunaan lokasi sekolah tersebut diketahui akan berakhir pada April 2027 sehingga diperlukan solusi bersama agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung tanpa hambatan.
Melalui penguatan kolaborasi ini, Indonesia dan Singapura berharap mampu menghadirkan sistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, serta siap menghadapi tantangan perkembangan teknologi di masa depan.