INVERSI.ID – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Februari 2025 tercatat sebesar 4,76 persen. Angka ini menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,06 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data ini dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) terbaru. Penurunan ini menjadi sinyal positif bahwa pasar kerja Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik, namun tantangan pengangguran masih membayangi sejumlah provinsi.
BPS mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka di Papua menjadi yang tertinggi secara nasional, yakni 6,92 persen. Posisi kedua ditempati Kepulauan Riau dengan 6,89 persen, disusul Jawa Barat (6,74 persen), Banten (6,64 persen), dan Papua Barat Daya (6,61 persen). Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun tren nasional membaik, ada disparitas yang cukup lebar antarprovinsi.
Selain itu, Tingkat Pengangguran Terbuka juga masih menjadi tantangan besar di daerah dengan tingkat urbanisasi tinggi. BPS melaporkan jumlah angkatan kerja pada Februari 2025 mencapai 153,05 juta orang, naik 3,67 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pun meningkat 0,80 persen poin menjadi 69,52 persen. Dari total angkatan kerja tersebut, penduduk bekerja mencapai 145,77 juta orang, atau naik 3,59 juta dari tahun lalu.
Pertumbuhan Pekerjaan Terbesar di Sektor Perdagangan
Data BPS mengungkapkan bahwa sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi kendaraan bermotor, menjadi penyumbang pertumbuhan lapangan kerja terbesar. Tercatat ada tambahan 980 ribu pekerja di sektor ini. Sektor ini memang menjadi tulang punggung perekonomian di banyak daerah, terutama yang memiliki aktivitas komersial tinggi.
Rata-rata upah buruh pada Februari 2025 juga mengalami kenaikan, dari Rp3,04 juta pada Februari 2024 menjadi Rp3,09 juta atau naik 1,78 persen. Kenaikan ini memberi sinyal positif bagi daya beli masyarakat, meskipun inflasi dan biaya hidup tetap menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Jawa Barat: Tingkat Pengangguran Usia Muda Masih Mengkhawatirkan
Di level provinsi, Jawa Barat menjadi salah satu daerah dengan TPT tertinggi, yakni 6,74 persen. Yang mengkhawatirkan, BPS Jawa Barat mencatat tingkat pengangguran usia muda masih sangat tinggi. Berdasarkan Sakernas, pengangguran laki-laki mencapai 26,67 persen, sedangkan perempuan sebesar 19,42 persen.
Dari sisi wilayah, pengangguran di perkotaan tercatat sebesar 24,02 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan di perdesaan yang sebesar 22,04 persen. Perbedaan ini menggambarkan bahwa persaingan kerja di kota masih sangat ketat, meskipun peluang kerja relatif lebih banyak.
Yang menjadi sorotan adalah fakta bahwa mayoritas penganggur usia muda di Jawa Barat adalah lulusan SMA dan SMK. Data 2024 menunjukkan 72,36 persen penganggur berasal dari jenjang ini, dengan SMK menjadi penyumbang terbesar, yakni 40,71 persen. Hal ini menandakan adanya kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri.
10 Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Terbuka Tertinggi
Berdasarkan data BPS, berikut daftar 10 provinsi dengan TPT tertinggi pada Februari 2025:
- Papua – 6,92 persen
- Kepulauan Riau – 6,89 persen
- Jawa Barat – 6,74 persen
- Banten – 6,64 persen
- Papua Barat Daya – 6,61 persen
- DKI Jakarta – 6,18 persen
- Sulawesi Utara – 6,03 persen
- Maluku – 5,95 persen
- Sumatera Barat – 5,69 persen
- Kalimantan Timur – 5,33 persen
Daftar ini menunjukkan bahwa tingkat pengangguran masih menjadi tantangan besar, terutama di wilayah padat penduduk dan daerah dengan perekonomian yang sedang bertransformasi.
Tantangan Pasar Kerja dan Solusinya
Meski ada penurunan TPT secara nasional, pemerintah dan pemangku kebijakan perlu fokus pada beberapa tantangan utama:
- Kesenjangan Lapangan Kerja Antarwilayah – Beberapa daerah memiliki peluang kerja yang lebih besar, sementara daerah lain kekurangan industri dan investasi.
- Mismatch Keterampilan – Banyak lulusan pendidikan menengah belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, terutama di sektor teknologi dan industri kreatif.
- Pengangguran Usia Muda – Angka pengangguran di kelompok usia muda masih sangat tinggi, yang dapat berdampak pada produktivitas jangka panjang.
Solusi yang bisa diambil antara lain memperluas pelatihan vokasi berbasis kebutuhan industri, mendorong investasi di daerah dengan TPT tinggi, serta memberikan insentif bagi sektor usaha untuk menyerap tenaga kerja muda.
Peluang dari Ekonomi Digital
Ekonomi digital dapat menjadi salah satu jawaban untuk mengurangi pengangguran, khususnya di kalangan anak muda. Peluang kerja di sektor ini mencakup e-commerce, teknologi finansial, hingga industri kreatif digital. Dengan modal keterampilan digital yang tepat, anak muda bisa memiliki peluang kerja yang lebih luas, bahkan lintas wilayah.
Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi kabar baik, tetapi belum cukup untuk menutupi kesenjangan yang ada di beberapa daerah. Papua, Kepulauan Riau, dan Jawa Barat masih menjadi daerah dengan tantangan pengangguran terbesar. Untuk mengatasinya, dibutuhkan kebijakan yang lebih spesifik, mulai dari peningkatan keterampilan tenaga kerja hingga pemerataan investasi.
Masa depan pasar kerja Indonesia akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah, industri, dan dunia pendidikan bekerja sama dalam mempersiapkan angkatan kerja yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi global.