NEW BRUNSWICK – Senegal datang ke Piala Dunia 2026 dengan mimpi besar melampaui pencapaian bersejarah mereka pada 2002 ketika berhasil menembus perempat final. Namun kenyataannya jauh dari harapan.
Setelah menelan dua kekalahan beruntun, masing-masing 1-3 dari Prancis dan 2-3 dari Norwegia, Senegal kini belum meraih satu poin pun dan berada di ambang eliminasi. Mereka wajib mengalahkan Irak pada Jumat mendatang untuk menjaga peluang lolos ke babak gugur.
Situasi semakin rumit karena perjalanan Senegal di Amerika Serikat justru diwarnai berbagai persoalan di luar lapangan.
Isu pembayaran bonus yang terlambat, pergantian koki tim secara mendadak, keluhan terkait makanan, hingga polemik kontrak pelatih Pape Thiaw menjadi sorotan utama sepanjang turnamen.
Skuad Senegal saat ini bermarkas di Hotel Hyatt Regency, New Brunswick, New Jersey. Berbeda dengan Piala Afrika 2025 di Maroko, ketika mereka menginap di hotel mewah Fairmont Palace di Tangier.
Spekulasi sempat berkembang mengenai kualitas makanan yang disajikan kepada pemain. Namun laporan BBC menyebut para pemain tidak memiliki masalah dengan katering tim. Keluhan justru datang dari sejumlah anggota delegasi di luar pemain dan staf pelatih yang kecewa karena makanan khas Senegal tidak tersedia.
Masalah lain muncul terkait bonus yang belum dibayarkan. Dana tersebut akhirnya dilunasi pemerintah Senegal beberapa hari lalu.
“Memang benar ada beberapa masalah, tetapi dari sisi pemain, staf, dan federasi, kami fokus pada pertandingan besok dan itu yang paling penting,” kata Pape Thiaw dikutip dari BBC.
Persoalan terbesar terjadi pada kontrak sang pelatih. Setelah membawa Senegal melaju hingga final Piala Afrika 2025, posisi tawar Thiaw meningkat. Namun negosiasi perpanjangan kontrak berjalan berlarut-larut hingga ia berangkat ke Amerika Serikat tanpa menandatangani kesepakatan baru.
Situasi tersebut bahkan membuat orang-orang dekat Thiaw mengisyaratkan bahwa sang pelatih bisa saja menolak terbang ke Amerika Serikat jika masalah tidak segera diselesaikan.
Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye akhirnya turun tangan langsung. Ia menghubungi Thiaw dan menjamin persoalan tersebut akan segera dibereskan.
Kesepakatan akhirnya tercapai dengan nilai kontrak sekitar 480.000 poundsterling per tahun ditambah bonus tahunan 80.000 poundsterling.
“Memang benar prosesnya terlalu lama, tetapi ini bukan soal uang. Ini lebih kepada prinsip dan rasa hormat. Namun semuanya sudah selesai. Kontrak sudah ditandatangani,” ujar Thiaw.
Kiper Senegal Mory Diaw juga menegaskan bahwa seluruh persoalan internal telah diselesaikan.
“Semua itu adalah masalah yang diselesaikan secara internal. Kami adalah pemain profesional. Kami berada di sini untuk mewakili negara kami,” tegas Diaw.
Di tengah badai persoalan tersebut, Senegal kini menghadapi satu misi sederhana namun berat: mengalahkan Irak. Jika gagal, impian mereka untuk berbicara banyak di Piala Dunia 2026 akan berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan.