INVERSI.ID – Langit Cibubur tampak lebih berwarna dari biasanya. Di Living World Kota Wisata, Bogor, ratusan siswa madrasah datang dengan semangat menyala. Bukan untuk lomba pidato atau hafalan ayat, tapi untuk ajang yang sedikit berbeda—Madrasah Robotic Competition (MRC) 2025.
Suara servo, mesin kecil, dan tawa anak-anak muda berpadu jadi satu dalam suasana penuh antusiasme. Setelah dua tahun vakum, kompetisi robotik terbesar bagi siswa madrasah ini akhirnya kembali digelar, membawa semangat baru untuk dunia pendidikan berbasis teknologi.
Ajang ini diinisiasi oleh Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama. MRC 2025 bukan sekadar lomba adu robot, tapi simbol perubahan wajah pendidikan madrasah yang semakin modern dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Madrasah Bukan Sekadar Tempat Belajar Agama
Menteri Agama Nasaruddin Umar yang membuka langsung babak final MRC 2025 menyampaikan pesan kuat: madrasah hari ini bukan lagi hanya tempat mencetak ahli agama, tapi juga pusat lahirnya inovator masa depan.
“Madrasah bukan hanya mencetak ahli agama, tetapi juga pelopor teknologi yang menggerakkan peradaban Islam modern. Robot hebat diciptakan dengan perhitungan dan konsentrasi, dan kecerdasan tidak sempurna tanpa kontemplasi,” ujar Menag Nasaruddin di hadapan peserta dan tamu undangan, Sabtu (01/11/25).
Kata-kata itu bukan sekadar sambutan formal. Di tengah derasnya arus teknologi dan globalisasi, pesan tersebut terasa seperti arah baru bagi dunia pendidikan madrasah. Bahwa ilmu agama dan sains seharusnya tidak dipisahkan keduanya bisa berjalan beriringan untuk menciptakan peradaban yang lebih maju.
Menag juga menegaskan, penguasaan teknologi seperti robotika adalah bagian dari ajaran Islam untuk berkreasi dan berpikir jauh ke depan.
“Islam mengajarkan kita untuk berinovasi, merancang, dan memikirkan masa depan umat. Maka penguasaan teknologi menjadi bagian dari ibadah intelektual,” tambahnya.
Dalam suasana yang hangat dan inspiratif itu, Menag Nasaruddin terlihat berbaur dengan peserta, melihat langsung karya-karya robot buatan siswa madrasah dari berbagai daerah. Ada yang merancang robot penyapu otomatis, robot pengantar makanan, sampai robot yang bisa mengenali arah kiblat. Semua dirancang dengan ide sederhana tapi penuh makna—mewakili semangat bahwa teknologi bisa selaras dengan nilai-nilai keislaman.
Kreativitas Anak Madrasah Tak Kalah dari Sekolah Umum
Bagi banyak orang, madrasah identik dengan pendidikan berbasis agama. Tapi MRC 2025 membuktikan hal lain. Para siswa madrasah kini tak hanya piawai membaca kitab kuning, tapi juga mampu menyusun kode program dan mengoperasikan sensor ultrasonik.
Kompetisi ini jadi ruang pembuktian bahwa madrasah punya potensi besar untuk melahirkan generasi yang tangguh secara spiritual sekaligus unggul secara intelektual.
Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, mengatakan bahwa ajang seperti MRC merupakan bagian dari transformasi madrasah di era digital. Menurutnya, kompetisi ini tidak hanya melatih kemampuan teknis, tapi juga mengasah kreativitas, kerja sama, dan cara berpikir logis.
“Kami ingin siswa madrasah percaya diri bersaing secara global. Robotika hanyalah salah satu jalan untuk menunjukkan bahwa mereka mampu,” katanya.
Kehadiran pejabat Kemenag seperti Irjen Kemenag Khoirunnas, Dirjen Pendis Amien Suyitno, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, Stafsus Menag Bidang Media dan Pengembangan SDM Ismail Cawidu, serta jajaran lainnya menunjukkan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Mereka ingin memastikan bahwa madrasah tidak tertinggal dalam revolusi digital yang sedang terjadi.
Salah satu peserta dari Madrasah Aliyah di Yogyakarta mengaku bangga bisa ikut serta.
“Awalnya kami pikir robotika itu dunia yang jauh dari kami. Tapi setelah ikut pelatihan dan kompetisi, ternyata seru banget. Kami bisa belajar coding, fisika, dan logika dalam satu kegiatan,” katanya sambil tersenyum.
Tak sedikit peserta yang datang bersama guru pembimbing yang telah mendampingi mereka berbulan-bulan. Ada yang belajar secara otodidak dari YouTube, ada pula yang mengikuti pelatihan daring dari Kemenag. Semua datang dengan semangat yang sama: ingin membuktikan bahwa siswa madrasah juga bisa menguasai dunia teknologi.
Melangkah Menuju Generasi Madrasah 5.0
Gelaran MRC 2025 tidak hanya tentang siapa yang menang. Lebih dari itu, ajang ini adalah refleksi tentang arah masa depan pendidikan di Indonesia. Ketika teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan, madrasah tidak boleh hanya jadi penonton.
Kementerian Agama ingin memastikan bahwa siswa madrasah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas spiritualnya. MRC menjadi salah satu bentuk nyata dari cita-cita itu menggabungkan kecerdasan buatan dengan kecerdasan spiritual.
Di balik gemuruh mesin dan deru roda robot, ada semangat besar yang menyala di hati para peserta. Mereka bukan sekadar pelajar, tapi calon pionir yang akan membawa wajah baru bagi pendidikan Islam di Indonesia.
Jika dulu madrasah dikenal dengan pelajaran tafsir, hadis, dan fiqih, kini mereka juga mulai dikenal dengan istilah sensor, mikrokontroler, dan coding. Perpaduan yang unik, tapi justru menjadi kekuatan tersendiri.
MRC 2025 menjadi bukti bahwa pendidikan madrasah sudah menembus batas-batas lama. Tidak hanya fokus pada sisi spiritual, tapi juga mengasah kemampuan sains dan teknologi. Kombinasi ini diharapkan bisa melahirkan generasi Madrasah 5.0 generasi yang beriman, berilmu, dan berdaya saing global.
Menutup acara, Menag Nasaruddin mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan nilai.
“Robot hebat lahir dari pikiran yang cerdas, tapi peradaban besar hanya bisa berdiri di atas jiwa yang bersih,” ucapnya dengan penuh makna.
Pesan itu menjadi penutup yang manis dari hari penuh inspirasi di MRC 2025. Dari Cibubur, semangat itu menyebar ke seluruh penjuru negeri menginspirasi madrasah lain untuk terus berinovasi dan tidak takut melangkah ke masa depan. Karena di tangan generasi muda inilah, masa depan pendidikan Islam modern akan ditulis ulang.