Halo Inversi! Kabar gembira datang dari Kota Batik. Dua kuliner khas Pekalongan, nasi megono dan lopis, akhirnya resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Nasional 2025 oleh Kementerian RI.
Buat warga Pekalongan, ini jelas bukan cuma soal makanan, tapi juga tentang identitas, kebanggaan, dan pelestarian budaya. Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid alias Aaf, enggak bisa menyembunyikan rasa syukur dan bangganya.
“Alhamdulillah, akhirnya diakui juga, ya, nasi megono dan lopis,” ucap Aaf saat ditemui di Ruang Buketan Setda Kota Pekalongan, Kamis (16/10/2025).
Menurut Aaf, pengakuan ini adalah hasil kerja keras bersama masyarakat, pelaku kuliner, hingga pemerintah daerah yang terus melestarikan kuliner warisan leluhur. Tapi, ia menegaskan, status WBTb bukan berarti bikin megono dan lopis jadi kuliner eksklusif milik Pekalongan. “Bukan berarti kita keep buat kita aja. Justru makin banyak yang kenal, makin baik buat Pekalongan,” tambahnya.
Strategi Promosi All Out
Enggak mau berhenti di pengakuan, Pemkot Pekalongan langsung tancap gas dengan berbagai strategi promosi. Mulai dari festival kuliner, kolaborasi dengan UMKM, sampai promosi lintas daerah, semuanya dipersiapkan biar megono dan lopis makin dikenal nasional.
“Kita pengen Megono dan Lopis tersebar di seluruh Indonesia. Supaya orang tahu, oh ini rasanya Megono Pekalongan, oh ini Lopis Pekalongan,” jelas Aaf.
Bahkan, Pemkot juga berencana mengajukan kuliner lain khas Pekalongan seperti soto tauto dan bubur Suro agar bisa menyusul jejak megono dan lopis. Keduanya punya kekhasan bahan, filosofi, dan tradisi yang enggak kalah kuat.
Filosofi Rasa dan Nilai Budaya
Buat yang belum akrab, nasi megono adalah nasi dengan topping cacahan nangka muda berbumbu kelapa dan rempah khas. Sementara lopis adalah ketan manis legit dengan balutan kelapa parut dan gula merah cair yang identik banget dengan suasana kebersamaan.
“Nasi megono dan lopis ini enggak cuma soal rasa, tapi simbol kehangatan, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakat Pekalongan,” terang Aaf.
Senada, Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono, bilang kalau pengakuan WBTb ini adalah bukti bahwa kuliner bisa jadi jembatan antara pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif. “Kuliner itu identitas, tapi juga punya potensi ekonomi gede. Dengan WBTb ini, branding Pekalongan sebagai kota kreatif berbasis budaya dan kuliner bakal makin kuat,” katanya.
Tugas Generasi Muda
Namun, pengakuan ini bukan titik akhir. Justru jadi awal tanggung jawab baru. Pemerintah berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tetap menjaga orisinalitas resep dan cara masak agar nilai tradisional enggak hilang digerus zaman.
Sabaryo menegaskan, pelaku kuliner juga didorong pakai bahan lokal dan teknik tradisional warisan leluhur. “Pengakuan ini bukan akhir, tapi awal. Tugas kita adalah jaga dan kenalin ke dunia. Semoga anak muda makin bangga sama kuliner daerahnya sendiri,” pungkasnya.
Dengan status baru sebagai WBTb Nasional, megono dan lopis kini enggak cuma sekadar makanan enak, tapi ikon kebudayaan. Jadi, kalau lagi ke Pekalongan, jangan lupa cobain dua kuliner ini karena setiap suapnya bukan cuma soal rasa, tapi juga cerita dan kebanggaan.