INVERSI.ID – Setelah hampir tiga dekade berlayar di dunia musik Indonesia, Padi Reborn kembali bersuara lewat karya terbaru berjudul “Ego”. Lagu ini akan resmi dirilis pada 7 November 2025—menjadi pembuka dari babak baru perjalanan panjang band yang dikenal dengan lirik mendalam dan melodi yang menyentuh.
“Setiap karya baru adalah perjalanan. Di lagu Ego, kami mencoba menghadirkan sisi lain Padi Reborn, tapi tanpa kehilangan roh yang membuat kami menjadi kami,” kata Vokalis Padi Reborn, Fadly, dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu.
Kalimat itu terasa seperti refleksi diri. Setelah 28 tahun berkarya dan delapan tahun sejak “reborn”-nya mereka di 2017, Padi Reborn membuktikan bahwa musik bukan sekadar nostalgia. Mereka masih punya banyak hal untuk diceritakan — dengan cara yang lebih dewasa, tapi tetap jujur dan emosional.
“Dua Delapan”: Usia, Makna, dan Kelahiran Kembali
Single “Ego” jadi pembuka untuk album terbaru mereka yang berjudul “Dua Delapan”. Judul ini bukan tanpa arti. Angka 28 melambangkan usia Padi sejak pertama kali berdiri pada 1997, sekaligus menandai delapan tahun perjalanan mereka setelah bereinkarnasi sebagai Padi Reborn.
Album ini menjadi full album ke-8 dalam diskografi mereka sebuah simbol kematangan musikal yang tetap relevan di era streaming dan media sosial. Lagu “Ego” didapuk sebagai track pertama, bukan sekadar karena kekuatannya, tapi karena pesan emosional yang kuat di baliknya.
Lagu ini bercerita tentang cinta yang diuji oleh kesombongan dan keras kepala. Dua hal yang sering kali membuat hubungan berakhir bukan karena hilangnya rasa, tapi karena gengsi yang terlalu tinggi untuk diturunkan. Liriknya menggambarkan perjalanan sepasang kekasih yang lama bersama, namun terseret ke dalam siklus pertengkaran tanpa ujung. Hingga akhirnya, salah satu memilih pergi—bukan karena tak cinta, tapi karena lelah menghadapi ego masing-masing.
Di balik keputusan untuk berpisah, tersimpan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Tema ini mungkin sederhana, tapi terasa universal, terutama bagi generasi muda yang sering dihadapkan pada hubungan yang rumit di tengah ego dan ekspektasi.
Secara musikal, “Ego” memadukan aransemen pop-rock modern dengan harmoni khas Padi yang kuat dan emosional. Ada sentuhan megah dari Budapest Scoring Orchestra, yang memberi nuansa sinematik dan dalam pada lagu ini. Kolaborasi tersebut membuat “Ego” terasa seperti perjalanan emosi naik turun, halus tapi menyayat.
Antara Gengsi, Cinta, dan Perenungan Diri
Drummer Padi Reborn, Yoyo, menyebut “Ego” sebagai salah satu lagu paling emosional yang pernah mereka buat.
“Lagu ini terasa sangat personal. Kami semua pernah berada di posisi di mana cinta diuji oleh gengsi. Lewat Ego, kami ingin mengajak pendengar untuk sedikit menundukkan kepala, mengingat lagi siapa yang sebenarnya paling berharga,” ujarnya.
Ucapan itu menggambarkan esensi Padi Reborn: band yang selalu berhasil menyentuh sisi reflektif pendengarnya. Dari masa “Sobat” hingga “Kasih Tak Sampai”, mereka selalu tahu bagaimana mengemas emosi manusia dengan cara yang tulus dan relevan. “Ego” pun menjadi penerus tradisi itu, hanya kali ini dikemas dengan aransemen yang lebih modern dan produksi yang lebih megah.
Tak hanya soal cinta, lagu ini juga bisa dimaknai sebagai perjalanan introspeksi—sebuah ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri. Dalam konteks yang lebih luas, “Ego” bisa jadi metafora untuk hubungan manusia dengan waktu, karier, bahkan diri sendiri yang sering kali berperang antara idealisme dan kenyataan.
Momen Spesial di Sarinah dan Konser “Dua Delapan”
Peluncuran single “Ego” akan menjadi momen istimewa bagi Padi Reborn. Pada 7 November 2025, mereka akan tampil di Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat, membawakan lagu tersebut untuk pertama kalinya di depan publik.
Bagi para Sobat Padi—sebutan penggemar setia mereka—ini jelas bukan sekadar rilis lagu baru, tapi juga selebrasi perjalanan panjang sebuah band yang pernah menjadi ikon era 2000-an dan kini terus beradaptasi di era digital.
Namun, “Ego” hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Padi Reborn telah menyiapkan konser tunggal bertajuk “Konser Dua Delapan” yang akan digelar pada 31 Januari 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.
Konser tersebut akan menjadi puncak perayaan 28 tahun perjalanan mereka di industri musik, sekaligus ajang nostalgia dan apresiasi bagi para penggemar lama maupun pendengar baru yang baru mengenal Padi lewat karya-karya reborn mereka. Di panggung itu, Padi Reborn akan memperlihatkan bagaimana mereka berevolusi tanpa kehilangan jati diri—sebuah momen yang akan mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam harmoni yang sama indahnya.
Warisan Musik yang Tak Lekang Waktu
Padi Reborn bukan hanya sekadar band legendaris yang kembali ke panggung setelah lama vakum. Mereka adalah contoh nyata bagaimana musik bisa menjadi ruang penyembuhan, refleksi, dan kontinuitas. Setelah hampir tiga dekade, mereka tetap menulis lagu dengan hati, bukan sekadar mengejar tren.
“Ego” adalah cerminan dari kematangan itu, sebuah karya yang tidak mencoba menjadi muda kembali, tapi justru mengajak pendengarnya untuk tumbuh bersama. Lagu ini membuktikan bahwa Padi Reborn masih punya sesuatu untuk dikatakan, dan suara mereka tetap relevan di telinga generasi yang lebih muda.
Dengan rilis “Ego” dan album “Dua Delapan”, Padi Reborn tidak hanya merayakan usia, tapi juga konsistensi, loyalitas, dan perjalanan spiritual mereka dalam musik.
Dan bagi kita, pendengar setia yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka, karya ini adalah undangan untuk kembali merasa karena di balik setiap nada dan lirik, selalu ada kisah tentang manusia dan egonya.