JAKARTA, INVERSI – Ratusan warga etnis Rohingya yang bermukim di Kota Pekanbaru menggelar aksi unjuk rasa damai untuk menyuarakan tuntutan peningkatan kualitas hidup.
Aksi tersebut berlangsung di depan kantor International Organization for Migration pada Senin 19 Januari 2026 sebagai bentuk protes atas berkurangnya bantuan biaya kebutuhan hidup yang mereka terima dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak pagi hari, massa pengungsi berkumpul di Jalan M Jamil, tepat di sekitar kawasan MTQ Bandar Serai. Mereka membawa dan membentangkan sejumlah spanduk berisi tuntutan yang diarahkan kepada IOM dan pihak terkait. Spanduk tersebut diposisikan menghadap ke jalan raya, sementara peserta aksi berada di balik pagar kantor IOM dengan pengawalan aparat keamanan. Aksi berlangsung tertib tanpa adanya insiden.
Dalam spanduk yang dibentangkan, para pengungsi menyampaikan berbagai tuntutan mendasar. Di antaranya adalah kebutuhan akan bantuan medis yang memadai, dukungan tunai yang mencukupi biaya hidup, akses pendidikan bagi anak anak, tempat tinggal yang layak, serta kemudahan akses transportasi menuju layanan publik.
Salah satu pesan yang tertulis mencerminkan harapan mereka untuk memperoleh bantuan dan pelayanan yang bermartabat sebagai manusia.
Nuramin, salah seorang pengungsi Rohingya yang telah tinggal di Pekanbaru sejak tahun 2020, menyampaikan aspirasi para peserta aksi. Dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih, ia menegaskan bahwa unjuk rasa tersebut dilakukan karena kondisi kehidupan yang semakin sulit.
“Kami datang untuk menuntut kehidupan yang layak. Saat ini bantuan yang kami terima sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari hari,” ujar Nuramin saat ditemui di lokasi aksi.
Menurutnya, sejak tahun 2023 bantuan yang diberikan kepada warga Rohingya di Pekanbaru terus mengalami penurunan. Tidak hanya bantuan tunai, tetapi juga dukungan untuk biaya tempat tinggal dan layanan kesehatan, termasuk rumah sakit, yang sebelumnya lebih banyak ditanggung oleh IOM. Kondisi tersebut membuat beban hidup para pengungsi semakin berat.
Nuramin menjelaskan bahwa saat ini pengungsi yang hidup sendiri menerima bantuan sebesar Rp1.050.000 per bulan. Sementara keluarga menerima Rp1.700.000, dan keluarga dengan satu anak memperoleh Rp2.300.000 per bulan. Ia menilai jumlah tersebut tidak sebanding dengan kebutuhan riil di lapangan, terutama di tengah meningkatnya biaya sewa tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya.
“Sebagian besar uang habis untuk membayar kontrakan, biaya kesehatan, dan kebutuhan pokok. Dengan jumlah itu, sangat sulit bagi kami untuk bertahan,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa banyak pengungsi merasa berada dalam situasi yang semakin terjepit. Selain keterbatasan ekonomi, mereka juga merasakan adanya perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan pengungsi dari negara lain. Hal ini menimbulkan rasa ketidakadilan di kalangan warga Rohingya yang telah bertahun tahun tinggal di Indonesia.
Baca Juga:
- Duel Tim Medioker Berakhir Tragis! Pantai Gading Pulangkan Curacao
- Kontrak Batu Bara 134 Juta Ton Sudah Aman, Kok PLN Malah Kekurangan? Bahlil Gandeng APH
Melalui aksi damai ini, para pengungsi berharap suara mereka dapat didengar oleh pihak terkait. Mereka meminta adanya peninjauan kembali terhadap kebijakan bantuan agar disesuaikan dengan kondisi aktual dan kebutuhan dasar para pengungsi. Mereka juga berharap solusi yang lebih manusiawi dapat diberikan demi menjaga kelangsungan hidup mereka.
Aksi unjuk rasa tersebut menjadi potret nyata tantangan yang masih dihadapi pengungsi Rohingya di Pekanbaru. Meski telah lama menetap di Indonesia, keterbatasan akses dan dukungan hidup layak masih menjadi persoalan utama yang menuntut perhatian serius dari berbagai pihak.