INVERSI.ID – Lomba Melamun di Yogyakarta menjadi fenomena unik dalam rangkaian perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia. Alih-alih mengikuti lomba tradisional seperti panjat pinang atau balap karung, warga dan komunitas kreatif di Kotagede memilih cara berbeda: merayakan kemerdekaan lewat aktivitas sederhana, yaitu melamun.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Lokanusa bersama Tamasya Karsa dan Life at Kotagede ini sukses menarik perhatian publik. Tidak hanya warga lokal Yogyakarta, acara ini juga diikuti oleh peserta dari luar kota, termasuk Jakarta, Solo, dan Semarang. Lomba Melamun di Yogyakarta pun ramai dibicarakan karena menyajikan konsep yang fresh dan relevan dengan kondisi anak muda saat ini yang kerap dilanda tekanan hidup.
Antusiasme masyarakat membuktikan bahwa Lomba Melamun di Yogyakarta tidak sekadar hiburan, melainkan juga wadah refleksi diri. Melalui ajang ini, peserta diajak untuk berhenti sejenak, memberi ruang pada pikiran, dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih kontemplatif.
Terinspirasi dari Jepang, Diadaptasi untuk 17 Agustusan
Primas Tri Jati, panitia penyelenggara, menjelaskan bahwa ide lomba melamun ini terinspirasi dari kompetisi serupa di Jepang. Bedanya, di Indonesia lomba melamun ini dikemas dengan nuansa lokal dan momentum perayaan kemerdekaan.
“Ada tiga kategori yang dilombakan, yaitu Si Paling Ekspresionis, Si Paling Bertahan Lama, dan Si Paling Macak,” ungkap Primas saat ditemui di sela acara, Senin (18/8/2025).
Menurutnya, melamun sering dianggap negatif atau tanda kemalasan. Namun, di era modern yang penuh tekanan, melamun justru bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap ritme hidup yang serba cepat.
“Di era yang serba cepat ini, melamun bisa jadi ruang jeda untuk memproses pikiran, menenangkan hati, dan mengisi ulang energi,” tambahnya.
Dengan pesan itu, lomba ini ingin menunjukkan bahwa melambat bukan berarti lemah. Justru kemampuan untuk tetap tenang di tengah hiruk pikuk dunia adalah bentuk kekuatan.
Peminat Membeludak, dari 20 Kuota Menjadi 120 Peserta
Antusiasme masyarakat benar-benar di luar dugaan. Awalnya, panitia hanya menyiapkan 20 slot peserta. Namun, minat yang tinggi membuat jumlah pendaftar membengkak hingga 120 orang sebelum akhirnya ditutup.
“Melamun, melambat, dan tidak melakukan apa pun itu bukan kemalasan. Itu bagian dari menjaga kesadaran,” jelas Primas.
Peserta datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja muda, hingga orang dewasa yang ingin sekadar “menepi” sejenak dari rutinitas. Lomba ini menjadi ruang aman bagi mereka yang ingin menyalurkan energi dengan cara berbeda.
Teknis Lomba: Bertahan di Tengah Distraksi
Berbeda dengan versi Jepang yang menggunakan alat pendeteksi detak jantung, lomba di Kotagede ini dilakukan dengan penilaian manual. Peserta duduk diam sambil “melamun”, sementara juri menilai ekspresi, fokus, dan kemampuan bertahan dari distraksi.
Distraksi yang diberikan pun beragam, mulai dari suara, gerakan, hingga humor ringan. Para juri terdiri dari penggiat slow living, psikolog, serta juri bayangan yang ikut menilai dari kejauhan.
“Juara ditentukan berdasarkan siapa yang paling lama bertahan, tetap tenang, dan mampu mengekspresikan diri meski ada distraksi,” kata panitia.
Hal ini membuat suasana lomba penuh tawa, namun tetap sarat makna. Peserta belajar untuk fokus pada diri sendiri di tengah godaan untuk bereaksi.
Melamun Sebagai Terapi Psikologis
Lebih dari sekadar kompetisi, lomba ini membawa pesan kesehatan mental. Banyak peserta mengaku mendapatkan manfaat positif dari kegiatan tersebut.
Salah satunya, Alfina Tri (25), peserta asal Jakarta yang sedang menghadapi tekanan quarter life crisis.
“Saya penat banget di umur 25, seperti quarter life crisis. Akhirnya ada lomba ini, jadi ikutan deh,” ungkapnya.
Alfina mengaku sering melamun di sela pekerjaannya.
“Sering banget, ngelamunin kerjaan, orang tua, pacar, UMR Jogja, sampai kapan saya bisa keluar dari Jogja,” katanya sambil tertawa.
Bagi Alfina, lomba ini bukan hanya hiburan, tapi juga ruang refleksi untuk menerima kenyataan hidup.
“Melamun itu ternyata bisa bikin pikiran lebih ringan,” tambahnya.
Senada dengan Alfina, Intan (31) peserta lain, menyebut lomba ini menjadi wadah untuk melepaskan beban pikiran.
“Aku terima kasih sama penyelenggara karena dikasih wadah untuk overthinking,” ujarnya.
Ia menilai melamun sudah menjadi rutinitas yang membantu menjaga kesehatan mental. Dengan adanya lomba ini, ia merasa kebiasaan yang sering dianggap sepele justru mendapat tempat yang dihargai.
Psikolog yang terlibat dalam acara ini pun menegaskan bahwa melamun bisa menjadi bentuk coping mechanism. Aktivitas sederhana ini dapat membantu otak menyusun ulang memori, mengolah perasaan, hingga mengurangi stres.
Rencana Lomba Melamun Berlanjut ke Kota Lain
Melihat respon yang luar biasa, panitia berencana menggelar lomba serupa di berbagai kota. “Kalau antusiasmenya setinggi ini, kami ingin membawa Lomba Melamun ke berbagai spot yang asik. Agar orang-orang bisa menikmati pengalaman ini di suasana berbeda,” ungkap Primas.
Dengan konsep yang unik dan manfaat nyata bagi mental, bukan tidak mungkin lomba ini menjadi agenda tahunan setiap perayaan 17 Agustus. Bahkan, bisa saja berkembang menjadi festival kreatif yang mendukung gerakan slow living di Indonesia.
Makna Kemerdekaan Lewat Melamun
Lomba Melamun di Yogyakarta mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak selalu dirayakan dengan keriuhan. Terkadang, merdeka justru berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak.
Bagi generasi muda, lomba ini menjadi simbol bahwa melamun bukan sekadar “kosong”, melainkan cara untuk merawat kesehatan mental di tengah kesibukan. Bahwa melamun bisa jadi bagian dari perjuangan hidup, sama halnya dengan berlari mengejar mimpi.
Melalui Lomba Melamun di Yogyakarta, kita melihat bagaimana kreativitas masyarakat mampu menghadirkan cara baru merayakan kemerdekaan. Acara ini tidak hanya unik, tetapi juga relevan dengan kondisi anak muda yang rentan stres dan overthinking.
Dengan sambutan positif dari publik, lomba ini bisa menjadi inspirasi bahwa kemerdekaan dapat dirayakan bukan hanya dengan pesta meriah, tapi juga dengan jeda yang tenang. Karena pada akhirnya, merdeka bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kebebasan batin untuk hidup lebih selaras dengan diri sendiri.