By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Saat Anak Muda Ikut Lomba Melamun di Yogyakarta, dari Overthinking Hingga Quarter Life Crisis
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Saat Anak Muda Ikut Lomba Melamun di Yogyakarta, dari Overthinking Hingga Quarter Life Crisis

Event

Saat Anak Muda Ikut Lomba Melamun di Yogyakarta, dari Overthinking Hingga Quarter Life Crisis

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
7 Min Read
Lomba melamun di Yogyakarta.
SHARE

INVERSI.ID – Lomba Melamun di Yogyakarta menjadi fenomena unik dalam rangkaian perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia. Alih-alih mengikuti lomba tradisional seperti panjat pinang atau balap karung, warga dan komunitas kreatif di Kotagede memilih cara berbeda: merayakan kemerdekaan lewat aktivitas sederhana, yaitu melamun.

Contents
Terinspirasi dari Jepang, Diadaptasi untuk 17 AgustusanPeminat Membeludak, dari 20 Kuota Menjadi 120 PesertaTeknis Lomba: Bertahan di Tengah DistraksiMelamun Sebagai Terapi PsikologisRencana Lomba Melamun Berlanjut ke Kota LainMakna Kemerdekaan Lewat Melamun

Kegiatan yang diinisiasi oleh Lokanusa bersama Tamasya Karsa dan Life at Kotagede ini sukses menarik perhatian publik. Tidak hanya warga lokal Yogyakarta, acara ini juga diikuti oleh peserta dari luar kota, termasuk Jakarta, Solo, dan Semarang. Lomba Melamun di Yogyakarta pun ramai dibicarakan karena menyajikan konsep yang fresh dan relevan dengan kondisi anak muda saat ini yang kerap dilanda tekanan hidup.

Antusiasme masyarakat membuktikan bahwa Lomba Melamun di Yogyakarta tidak sekadar hiburan, melainkan juga wadah refleksi diri. Melalui ajang ini, peserta diajak untuk berhenti sejenak, memberi ruang pada pikiran, dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih kontemplatif.

Terinspirasi dari Jepang, Diadaptasi untuk 17 Agustusan

Primas Tri Jati, panitia penyelenggara, menjelaskan bahwa ide lomba melamun ini terinspirasi dari kompetisi serupa di Jepang. Bedanya, di Indonesia lomba melamun ini dikemas dengan nuansa lokal dan momentum perayaan kemerdekaan.

“Ada tiga kategori yang dilombakan, yaitu Si Paling Ekspresionis, Si Paling Bertahan Lama, dan Si Paling Macak,” ungkap Primas saat ditemui di sela acara, Senin (18/8/2025).

Menurutnya, melamun sering dianggap negatif atau tanda kemalasan. Namun, di era modern yang penuh tekanan, melamun justru bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap ritme hidup yang serba cepat.

“Di era yang serba cepat ini, melamun bisa jadi ruang jeda untuk memproses pikiran, menenangkan hati, dan mengisi ulang energi,” tambahnya.

Dengan pesan itu, lomba ini ingin menunjukkan bahwa melambat bukan berarti lemah. Justru kemampuan untuk tetap tenang di tengah hiruk pikuk dunia adalah bentuk kekuatan.

Peminat Membeludak, dari 20 Kuota Menjadi 120 Peserta

Antusiasme masyarakat benar-benar di luar dugaan. Awalnya, panitia hanya menyiapkan 20 slot peserta. Namun, minat yang tinggi membuat jumlah pendaftar membengkak hingga 120 orang sebelum akhirnya ditutup.

Baca Juga :

Direktur TMII: Study Tour Penting untuk Kemandirian dan Wawasan Siswa
Kemendikdasmen Wajibkan Pagi Ceria dan Upacara Bendera pada Hari Pertama Sekolah 2026

“Melamun, melambat, dan tidak melakukan apa pun itu bukan kemalasan. Itu bagian dari menjaga kesadaran,” jelas Primas.

Peserta datang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja muda, hingga orang dewasa yang ingin sekadar “menepi” sejenak dari rutinitas. Lomba ini menjadi ruang aman bagi mereka yang ingin menyalurkan energi dengan cara berbeda.


Teknis Lomba: Bertahan di Tengah Distraksi

Berbeda dengan versi Jepang yang menggunakan alat pendeteksi detak jantung, lomba di Kotagede ini dilakukan dengan penilaian manual. Peserta duduk diam sambil “melamun”, sementara juri menilai ekspresi, fokus, dan kemampuan bertahan dari distraksi.

Distraksi yang diberikan pun beragam, mulai dari suara, gerakan, hingga humor ringan. Para juri terdiri dari penggiat slow living, psikolog, serta juri bayangan yang ikut menilai dari kejauhan.

“Juara ditentukan berdasarkan siapa yang paling lama bertahan, tetap tenang, dan mampu mengekspresikan diri meski ada distraksi,” kata panitia.

Hal ini membuat suasana lomba penuh tawa, namun tetap sarat makna. Peserta belajar untuk fokus pada diri sendiri di tengah godaan untuk bereaksi.

Melamun Sebagai Terapi Psikologis

Lebih dari sekadar kompetisi, lomba ini membawa pesan kesehatan mental. Banyak peserta mengaku mendapatkan manfaat positif dari kegiatan tersebut.

Salah satunya, Alfina Tri (25), peserta asal Jakarta yang sedang menghadapi tekanan quarter life crisis.

“Saya penat banget di umur 25, seperti quarter life crisis. Akhirnya ada lomba ini, jadi ikutan deh,” ungkapnya.

Alfina mengaku sering melamun di sela pekerjaannya.

“Sering banget, ngelamunin kerjaan, orang tua, pacar, UMR Jogja, sampai kapan saya bisa keluar dari Jogja,” katanya sambil tertawa.

Bagi Alfina, lomba ini bukan hanya hiburan, tapi juga ruang refleksi untuk menerima kenyataan hidup.

“Melamun itu ternyata bisa bikin pikiran lebih ringan,” tambahnya.

Senada dengan Alfina, Intan (31) peserta lain, menyebut lomba ini menjadi wadah untuk melepaskan beban pikiran.

“Aku terima kasih sama penyelenggara karena dikasih wadah untuk overthinking,” ujarnya.

Ia menilai melamun sudah menjadi rutinitas yang membantu menjaga kesehatan mental. Dengan adanya lomba ini, ia merasa kebiasaan yang sering dianggap sepele justru mendapat tempat yang dihargai.

Psikolog yang terlibat dalam acara ini pun menegaskan bahwa melamun bisa menjadi bentuk coping mechanism. Aktivitas sederhana ini dapat membantu otak menyusun ulang memori, mengolah perasaan, hingga mengurangi stres.


Rencana Lomba Melamun Berlanjut ke Kota Lain

Melihat respon yang luar biasa, panitia berencana menggelar lomba serupa di berbagai kota. “Kalau antusiasmenya setinggi ini, kami ingin membawa Lomba Melamun ke berbagai spot yang asik. Agar orang-orang bisa menikmati pengalaman ini di suasana berbeda,” ungkap Primas.

Dengan konsep yang unik dan manfaat nyata bagi mental, bukan tidak mungkin lomba ini menjadi agenda tahunan setiap perayaan 17 Agustus. Bahkan, bisa saja berkembang menjadi festival kreatif yang mendukung gerakan slow living di Indonesia.

Makna Kemerdekaan Lewat Melamun

Lomba Melamun di Yogyakarta mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak selalu dirayakan dengan keriuhan. Terkadang, merdeka justru berarti memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak.

Bagi generasi muda, lomba ini menjadi simbol bahwa melamun bukan sekadar “kosong”, melainkan cara untuk merawat kesehatan mental di tengah kesibukan. Bahwa melamun bisa jadi bagian dari perjuangan hidup, sama halnya dengan berlari mengejar mimpi.

Melalui Lomba Melamun di Yogyakarta, kita melihat bagaimana kreativitas masyarakat mampu menghadirkan cara baru merayakan kemerdekaan. Acara ini tidak hanya unik, tetapi juga relevan dengan kondisi anak muda yang rentan stres dan overthinking.

Dengan sambutan positif dari publik, lomba ini bisa menjadi inspirasi bahwa kemerdekaan dapat dirayakan bukan hanya dengan pesta meriah, tapi juga dengan jeda yang tenang. Karena pada akhirnya, merdeka bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kebebasan batin untuk hidup lebih selaras dengan diri sendiri.

You Might Also Like

Jakarta Fair 2026 Diserbu Pengunjung, Tembus 1,5 Juta Orang dalam Sepekan
Garut Jadi Tuan Rumah Festival Layang-Layang Internasional, 13 Negara Siap Ambil Bagian
D’Youth Fest 6.0 Diramaikan Operet Princess Panda yang Angkat Makna Kehidupan
Kemenpar Dukung Jazz Gunung 2026, Perpaduan Musik, Alam, dan Budaya Indonesia
Kirab Budaya Tresna Pancasila Meriahkan Malioboro, Gaungkan Semangat Kebangsaan di Yogyakarta
TAGGED:Anak MudaLomba MelamunYogyakarta
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Tim Dance SMAN 3 Padang Tampil Inspiratif di Azarine DBL Dance Competition 2025
Next Article Fenomena Healing di Kalangan Gen Z: Self-Love atau Konsumtif?
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EventOlahraga

PSSI Klarifikasi Salah Tulis Nama Pencetak Dua Gol pada Laga Timnas Indonesia U-19 vs Myanmar

3 weeks ago
Antusias supporter Indonesia saat melihat laga Timnas Garuda Muda melawan Myanmar di Piala AFF U-19 Boys' Bank Sumut Championship 2026, 1 Juni 2026. (Foto: Dok/TWH)
EventOlahraga

Main di Stadion Utama Sumatera Utara, Harga Tiket Laga Timor Leste Vs Indonesia di Piala AFF U-19 2026 Mulai dari Rp 100 Ribu

3 weeks ago
Event

Bali & Beyond Travel Fair 2026 Raup Rp6,9 Triliun, Pasar Asia dan Australia Mendominasi

4 weeks ago
Event

Borobudur Peace & Prosperity Festival 2026 Gaungkan Persatuan untuk Dunia

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index