INVERSI.ID – Healing belakangan menjadi salah satu kata paling populer di kalangan anak muda Indonesia. Istilah yang sering muncul di media sosial ini diartikan sebagai aktivitas untuk menenangkan diri, baik melalui jalan-jalan, nongkrong bersama teman, traveling, hingga sekadar me-time. Bagi generasi muda, healing tidak hanya dianggap sebagai bentuk hiburan, tetapi juga sebagai cara menjaga kesehatan mental di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks.
Healing bahkan bisa dipahami sebagai “pelarian emosional sekaligus bentuk kesadaran akan kesehatan mental.” Hal ini menunjukkan bahwa healing bukan sekadar tren sesaat, melainkan juga kebutuhan jiwa yang penting untuk keseimbangan hidup.
Tidak bisa dipungkiri, healing kini menjadi fenomena budaya yang meresap dalam keseharian anak muda. Di tengah padatnya aktivitas sekolah, kuliah, maupun pekerjaan, healing dipandang sebagai solusi cepat untuk mengurangi rasa stres. Namun, perdebatan muncul: apakah healing benar-benar kebutuhan yang harus dipenuhi setiap orang, ataukah hanya tren gaya hidup yang didorong oleh media sosial?
Tekanan Hidup Membuat Healing Dibutuhkan
Tekanan hidup di era digital memang cukup besar. Generasi muda saat ini menghadapi tuntutan akademik, dunia kerja yang kompetitif, hingga ekspektasi sosial yang terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan RI (2022) mengungkapkan bahwa 1 dari 20 remaja di Indonesia mengalami gangguan mental. Angka tersebut tentu mengkhawatirkan dan menjadi bukti nyata bahwa kebutuhan healing semakin mendesak.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Riska Andriani, M.Psi, juga menegaskan bahwa generasi Y dan Z lebih rentan mengalami tekanan dibanding generasi sebelumnya.
“Generasi Y dan Z lebih sering butuh healing karena mereka menghadapi banyak tekanan yang sebelumnya jarang dialami generasi sebelumnya,” jelas Riska.
Bagi sebagian besar anak muda, healing bukan lagi sekadar kegiatan tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan untuk menjaga keseimbangan mental. Aktivitas sederhana seperti journaling, meditasi, atau sekadar berjalan santai di alam terbuka terbukti mampu membantu menenangkan pikiran. Dengan kata lain, healing bisa menjadi ruang jeda untuk kembali memulihkan energi sebelum kembali menghadapi rutinitas sehari-hari.
Healing: Kebutuhan Jiwa atau Gaya Hidup?
Meski begitu, fenomena healing seringkali menimbulkan perdebatan. Sebagian orang menganggap healing adalah kebutuhan jiwa yang harus dipenuhi. Dalam konteks ini, healing membantu individu mengatur emosi, menenangkan pikiran, dan menjaga kesehatan mental. Misalnya, melakukan meditasi, beribadah dengan lebih khusyuk, menulis catatan harian (journaling), atau melakukan aktivitas ringan yang menenangkan.
Namun, di sisi lain, healing juga berubah menjadi tren gaya hidup. Di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, tagar #healing sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas liburan mewah, staycation di hotel berbintang, atau belanja barang-barang konsumtif. Media Dosen (2023) bahkan menyoroti bahwa fenomena ini membuat healing hanya dipahami sebagai simbol gaya hidup kelas menengah ke atas, bukan sebagai sarana penyelesaian masalah.
Menurut riset Snapcart (2023), Gen Z di Indonesia rela mengalokasikan anggaran khusus untuk healing. Traveling, kuliner, hingga perawatan diri dianggap sebagai bagian dari self-love sekaligus kesejahteraan hidup. Dari sinilah muncul paradoks: healing di satu sisi penting untuk kesehatan mental, tetapi di sisi lain bisa menjerumuskan ke perilaku konsumtif jika hanya dijadikan ajang mengikuti tren.
Perspektif Psikolog: Healing Harus Disertai Refleksi
Psikolog sekaligus konselor keluarga, Ratih Ibrahim, memberikan pandangan kritis soal tren healing yang berkembang di kalangan anak muda. Menurutnya, healing tidak boleh hanya dijadikan pelarian instan dari masalah.
“Proses healing sebaiknya melibatkan kesadaran penuh. Mulai dari menyadari masalah, menerima kondisi yang ada, lalu mencari jalan penyelesaian. Kalau hanya liburan tanpa refleksi, itu hanya sementara,” tegas Ratih (Kumparan, 2023).
Dengan kata lain, healing seharusnya lebih dari sekadar traveling atau berbelanja. Esensi dari healing adalah memperbaiki hubungan dengan diri sendiri, memulihkan energi, dan menyiapkan langkah konkret dalam menghadapi tantangan hidup. Jika tidak, healing hanya akan menjadi aktivitas sesaat tanpa manfaat jangka panjang.
Fenomena healing juga tidak bisa dipisahkan dari budaya self-love yang banyak digaungkan anak muda di media sosial. Generasi Z, khususnya, tumbuh di era digital yang penuh distraksi. Notifikasi media sosial, berita yang mengalir tanpa henti, hingga persaingan akademik dan karier membuat mereka lebih cepat merasa lelah secara emosional.
Dalam konteks ini, healing menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya hustle culture yang menuntut produktivitas tanpa henti. Dengan melakukan healing, anak muda berusaha menegaskan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan pencapaian akademik atau karier.
Ragam Bentuk Healing yang Sehat dan Terjangkau
Tidak semua bentuk healing harus mahal. Ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan tanpa menguras kantong, misalnya:
- Meditasi dan pernapasan sadar – membantu menenangkan sistem saraf dan mengurangi stres.
- Menulis jurnal pribadi – menuangkan emosi lewat tulisan bisa menjadi terapi yang ampuh.
- Berjalan santai di alam terbuka – berinteraksi dengan alam terbukti meningkatkan hormon kebahagiaan.
- Menghabiskan waktu bersama orang terdekat – dukungan sosial menjadi salah satu faktor utama kesehatan mental.
- Mengurangi screen time – memberi jeda dari gawai bisa membantu pikiran lebih jernih.
Dengan demikian, healing tidak harus selalu identik dengan liburan mahal. Justru, aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten lebih mampu memberikan manfaat nyata bagi kesehatan mental.
Healing sebagai Investasi Jangka Panjang
Healing seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam menjaga kualitas hidup. Sama seperti tubuh yang membutuhkan olahraga dan makanan sehat, jiwa juga membutuhkan ruang untuk istirahat dan pemulihan.
Generasi muda perlu memahami bahwa healing bukan sekadar mengikuti tren media sosial, melainkan bagian penting dari perawatan diri. Jika dilakukan dengan kesadaran penuh, healing bisa membantu seseorang lebih mengenal dirinya, memperkuat daya tahan mental, serta membuat hidup lebih seimbang.
Fenomena healing di kalangan anak muda Indonesia menunjukkan adanya kebutuhan nyata akan kesehatan mental di tengah tekanan hidup modern. Namun, pemahaman terhadap healing perlu diluruskan. Healing bukan hanya liburan mewah atau ajang pamer di media sosial, melainkan proses reflektif untuk menenangkan diri, menyadari masalah, dan mencari solusi.
Kuncinya adalah keseimbangan: menggunakan healing sebagai ruang jeda untuk memulihkan diri, sekaligus menghindari jebakan perilaku konsumtif. Dengan begitu, healing bisa menjadi sarana yang benar-benar bermanfaat, bukan sekadar tren sesaat.