INVERSI.ID – Kepala SMA Mutual Kota Magelang, Icuk Salabiyati, menjadi salah satu pembicara terhormat dalam ajang bergengsi International Conference on Cohesive Societies (ICCS) 2025 yang digelar di Hotel Fairmont, Singapura, pada 24–26 Juni 2025.
Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Universitas Teknologi Nanyang (NTU), dan didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda Singapura. Acara bertema “Cohesive Societies, Resilient Future” tersebut dihadiri oleh sekitar 1.200 peserta dari berbagai negara dan dibuka secara resmi oleh Presiden Republik Singapura, Tharman Shanmugaratnam.
Pendidikan dan Kohesi Sosial Jadi Sorotan
Dalam paparannya, Icuk menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang inklusif dan tangguh. Ia berbagi pengalaman praktik baik dalam menerapkan literasi keagamaan lintas budaya (LKLB) di lingkungan SMA Mutual, baik di dalam maupun luar kelas.
“Perlu kolaborasi harmonis antara kepala sekolah, guru, dan seluruh staf untuk menciptakan suasana belajar yang inklusif dan berdaya saing. Pelayanan prima dan relasi yang sehat di sekolah menjadi kunci terbentuknya masyarakat kohesif dan resilien,” ujar Icuk dalam forum tersebut.
SMA Mutual Tampil di Panggung Dunia
Meski baru dilantik sebagai kepala sekolah untuk periode 2024–2028, Icuk Salabiyati sudah menunjukkan komitmen kuat dalam menghadirkan pendidikan yang inovatif dan berkarakter. Partisipasinya di ICCS 2025 menegaskan peran aktif SMA Mutual dalam jaringan pendidikan global yang berorientasi pada pembangunan sosial dan kemanusiaan.
Selain Icuk, pembicara dari Indonesia lainnya adalah Direktur Utama Institut Leimena, Matius Ho, dan Kepala SMA Tritunggal Semarang, Yonathan Djalimun. Ketiganya membuktikan bahwa kontribusi Indonesia dalam isu-isu strategis global terus diperhitungkan.
Komitmen untuk Pendidikan Kelas Dunia
Melalui ajang ini, Icuk berharap SMA Mutual Kota Magelang bisa terus tumbuh menjadi sekolah unggulan yang tak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial.
“Semoga pengalaman ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus belajar, berjejaring, dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia,” ujarnya.***