By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Soal Film Pesta Babi, Yusril Minta Publik Tonton dan Berdiskusi Secara Kritis
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Soal Film Pesta Babi, Yusril Minta Publik Tonton dan Berdiskusi Secara Kritis

Film

Soal Film Pesta Babi, Yusril Minta Publik Tonton dan Berdiskusi Secara Kritis

Jack
By
Jack
1 month ago
Share
4 Min Read
Tolong edit artikel ini di parafrase jangan mirip bangeett agar bebas indikai plagiat, jadikan artikel dengan gaya Bahasa news formal. Jangan ubah kutipannya, dan berikan 5 alternatif judul yang keren. Jangan lupa buat artikel ini jadi ramah SEO, asik dibaca oleh anak muda dan jangan ada kalimat atau kata yang di bold. di awal artikel tulis INVERSI.ID - di bold, 3 hastag diletakan paling baah stelah naskah, dipisah.. Paham bro? Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan pembubaran atau penghentian nonton bareng (nobar) film "Pesta Babi" bukan merupakan arahan dari pemerintah ataupun aparat penegak hukum secara terpusat. Sebab, kata dia, tidak semua kampus melarang pemutaran film dokumenter bertajuk Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tersebut. "Di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, nobar film itu dilarang karena persoalan prosedur administratif saja. Sementara di kampus lain di Bandung dan Sukabumi, nobar film itu berjalan tanpa halangan apa pun," ujar Yusril saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis. Yusril menjelaskan film dokumenter tersebut berisi kritik terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan yang dianggap mengganggu kelestarian alam, hak ulayat masyarakat Papua, dan lingkungan hidup. Dirinya pun menganggap kritik semacam itu wajar saja, walaupun memang terdapat narasi yang provokatif. Dikatakan bahwa judul film dokumenter itu sendiri memang kontroversial dan tampak bersifat provokatif. Namun demikian, dia mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing hanya karena judul film yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik. “Biarkan saja masyarakat menonton, lalu setelah itu silakan gelar diskusi dan debat. Dengan demikian publik menjadi kritis, pro dan kontra dapat terjadi,” katanya. Dia menilai pemerintah juga dapat mengambil pelajaran dari kritik yang disampaikan melalui film tersebut guna mengevaluasi apabila ada langkah di lapangan yang perlu diperbaiki. Terkait proyek di Papua Selatan, Menko menuturkan pembukaan lahan telah dimulai sejak tahun 2022 pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo bersamaan dengan pemekaran daerah di Papua. Proyek itu dilanjutkan oleh pemerintahan saat ini sebagai bagian dari proyek ketahanan pangan dan energi nasional. Dengan demikian, kata dia, sudah pasti proyek itu bukan merupakan kolonialisme modern di zaman sekarang karena Papua merupakan bagian integral dari NKRI. Ditegaskan bahwa pemerintah RI saat ini bukan pemerintah Belanda dulu yang menyebut Papua dengan Nederlands Nieuw Guinea sebagai daerah jajahan di masa lalu. "Pembukaan lahan seperti itu juga terjadi juga di Kalimantan dan pulau-pulau lain sebagai bagian integral dari NKRI," ucap Menko. Menurut Yusril, PSN dibangun berdasarkan kajian yang matang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Meskipun begitu, pemerintah tetap membuka diri terhadap kritik untuk melakukan evaluasi pelaksanaan di lapangan. Ia juga menyoroti penggunaan istilah "Pesta Babi” dalam judul film yang dapat menimbulkan beragam tafsir di tengah masyarakat. Oleh karenanya, mantan Menteri Sekretaris Negara itu berharap akan lebih baik jika penulis skenario, sutradara, dan produser bisa menjelaskan makna dari kata-kata tersebut. Dirinya menekankan keterbukaan tidak hanya dituntut dari pemerintah, tetapi juga dari kalangan seniman dan pembuat karya seni termasuk karya film. Apabila pemerintah sering dituntut untuk terbuka, sambung dia, maka saatnya juga seniman, penulis skenario film, dan produser bersikap terbuka serta bersedia memberikan penjelasan. "Pemerintah tidak bisa diam dengan berlindung di balik otoritas dan kekuasaan dan pada saat yang sama seniman juga tidak bisa diam dan berlindung di balik kebebasan berekspresi,” ujar Yusril. Pada akhirnya, Menko kembali menegaskan pemerintah menjamin kebebasan berekspresi dalam negara demokrasi, namun kebebasan tersebut tetap harus disertai tanggung jawab moral. (Foto: Antara)
SHARE

INVERSI.ID – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa pembubaran maupun penghentian kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bukan instruksi resmi pemerintah atau aparat penegak hukum secara terpusat.

Menurut Yusril, tidak semua kampus melarang pemutaran film dokumenter tersebut. Ia menyebut beberapa lokasi tetap menggelar acara nobar tanpa kendala.

“Di Universitas Mataram dan UIN Mataram, Lombok, nobar film itu dilarang karena persoalan prosedur administratif saja. Sementara di kampus lain di Bandung dan Sukabumi, nobar film itu berjalan tanpa halangan apa pun,” ujar Yusril saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Yusril menjelaskan film dokumenter tersebut berisi kritik terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan yang dinilai berdampak pada lingkungan hidup, hak ulayat masyarakat Papua, serta kelestarian alam.

Ia menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi, meskipun mengakui terdapat beberapa narasi yang dianggap provokatif di dalam film tersebut. Bahkan, menurutnya, judul film itu sendiri sudah memancing perhatian publik karena terkesan kontroversial.

Namun demikian, Yusril meminta masyarakat tidak langsung terpancing hanya karena penggunaan judul yang sengaja dibuat menarik perhatian.

“Biarkan saja masyarakat menonton, lalu setelah itu silakan gelar diskusi dan debat. Dengan demikian publik menjadi kritis, pro dan kontra dapat terjadi,” katanya.

Menurut dia, pemerintah juga bisa menjadikan kritik dalam film tersebut sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek di lapangan apabila memang ditemukan hal-hal yang perlu diperbaiki.

Terkait proyek di Papua Selatan, Yusril menjelaskan pembukaan lahan sebenarnya sudah dimulai sejak 2022 pada era pemerintahan Joko Widodo bersamaan dengan pemekaran wilayah di Papua.

Baca Juga :

Prabowo Subianto: Beasiswa untuk Anak Palestina Bukti Nyata Kepedulian Indonesia
PUBG, Program Sekolah Gratis yang Siap Mengubah Masa Depan Pelajar Kepulauan Nias

Program tersebut kemudian dilanjutkan pemerintahan saat ini sebagai bagian dari proyek ketahanan pangan dan energi nasional.

Karena itu, Yusril menegaskan proyek tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai kolonialisme modern sebab Papua merupakan bagian sah dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia juga menekankan bahwa pemerintah Indonesia saat ini berbeda dengan pemerintah kolonial Belanda di masa lalu yang pernah menyebut Papua sebagai Nederlands Nieuw Guinea.

“Pembukaan lahan seperti itu juga terjadi juga di Kalimantan dan pulau-pulau lain sebagai bagian integral dari NKRI,” ucap Menko.

Yusril mengatakan proyek strategis nasional dibangun berdasarkan berbagai kajian dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meski begitu, pemerintah tetap membuka ruang kritik sebagai bagian dari evaluasi kebijakan.

Selain itu, ia turut menyoroti penggunaan istilah “Pesta Babi” dalam judul film yang dinilai dapat memunculkan berbagai tafsir di tengah masyarakat.

Karena itu, Yusril berharap penulis skenario, sutradara, hingga produser film bersedia memberikan penjelasan mengenai makna penggunaan istilah tersebut agar tidak memunculkan kesalahpahaman publik.

Menurutnya, keterbukaan tidak hanya dituntut dari pemerintah, tetapi juga dari para pelaku seni dan pembuat karya kreatif.

“Apabila pemerintah sering dituntut untuk terbuka, sambung dia, maka saatnya juga seniman, penulis skenario film, dan produser bersikap terbuka serta bersedia memberikan penjelasan.”

“Pemerintah tidak bisa diam dengan berlindung di balik otoritas dan kekuasaan dan pada saat yang sama seniman juga tidak bisa diam dan berlindung di balik kebebasan berekspresi,” ujar Yusril.

Pada akhir pernyataannya, Yusril kembali menegaskan pemerintah tetap menjamin kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi. Namun, kebebasan tersebut menurutnya harus tetap dibarengi tanggung jawab moral.

You Might Also Like

Badut Gendong Perluas Semesta Qodrat, Hadirkan Teror Baru yang Lebih Gelap
‘Nobody Loves Kay’ Bukan Sekadar Film E-sports, Ini Cerita Tentang Ambisi dan Mental Anak Muda
Desta Mahendra Tulis Lagu “Ndokasin” untuk Film Warkop DKI: Viralin Dong!
Desta sampai Sariawan Demi Peran Dono di Film Warkop DKI: Viralin Dong!
Baim Wong Buka Suara soal Film Semua Akan Baik-Baik Saja Disebut Menipu Penonton
TAGGED:Film Pesta BabiNobar FilmYusril
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Persib Fokus Pertahankan Puncak Klasemen, Marc Klok Bicara Target Juara
Next Article Analisis Pengamat Internasional: Siapa Menang Dibalik Pertemuan Trump-Xi?
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Heboh Harga Pertamax, Padahal dari Awal Tak Pernah Disubsidi

Isyana Bagoes Oka Sebut Kunjungan Jokowi ke Daerah, Tak Terkait Safari Politik

Konflik AS-Iran Mereda, Menkeu Sebut APBN Berpeluang Lebih Longgar

Gaya Sultan, Mental Subsidi? Netizen Semprot Pengeluh Pertamax

Bahlil Usulkan Anggaran Rp815 Miliar untuk Program Kompor Listrik pada RAPBN 2027

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Film

Moving Season 2 Mulai Produksi, Kang Full Janji Lebih Spektakuler

4 weeks ago
Film

Isu Pelarangan Film Pesta Babi Disorot DPR, Puan Minta Penjelasan Resmi

1 month ago
Press Conference Film Dokumenter Timnas Garuda “The Longest Wait”. (Foto: Dok. NOC Indonesia)
FilmOlahraga

Menanti 9 Dekade: Kisah Balik Layar Perjuangan Timnas Garuda Diangkat ke Film Dokumenter “The Longest Wait”

2 months ago
Film

Ikatan Darah Tampilkan Laga Intens dan Drama Emosional di Tengah Teror Gangster

2 months ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index