INVERSI.ID – Sustainable fashion menjadi kata kunci dalam kegiatan Sustainable Fashion Festival (SFF) 2025 yang melibatkan youth volunteers dari 10 negara ASEAN bersama siswa-siswi SMPN 5 Abiansemal, Badung, Bali. Mereka menggelar aksi sosial di Sungai Watch Community Center, Tabanan, pada Rabu (30/7/2025), yang sekaligus menjadi ajang edukasi tentang pentingnya fashion berkelanjutan.
Kegiatan ini diikuti 1.050 generasi muda yang diperkenalkan pada konsep fashion berkelanjutan sejak dini. Sustainable Fashion Festival 2025 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 2-3 Agustus 2025 di The Ambengan Tenten, Denpasar. Acara ini mengusung semangat kolaborasi lintas negara untuk mendorong kesadaran lingkungan melalui mode.
Edukasi Fashion Berkelanjutan untuk Anak Muda
Sustainable fashion menjadi sorotan utama dalam sesi edukasi. Para pelajar diajarkan cara memilih pakaian berdasarkan jenis bahan, mulai dari kain alami seperti katun dan linen, hingga kain sintetis seperti polyester. Mereka juga belajar memahami dampak produksi tekstil terhadap lingkungan, termasuk limbah mikroplastik dan emisi karbon dari industri fashion.
Selain itu, peserta dikenalkan dengan proses penyortiran dan pengolahan pakaian bekas agar bisa digunakan kembali. Hal ini diharapkan dapat mengurangi jumlah pakaian yang langsung berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Kami menginisiasi acara ini karena percaya bahwa pakaian layak pakai seharusnya bisa diakses oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Ini adalah langkah kecil menuju fashion yang lebih adil dan berkelanjutan,” kata Lucia Mira, Co-Founder Rekynd, Kamis (31/7).
Lucia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari edukasi sosial untuk mendorong masyarakat agar mulai memandang pakaian bekas sebagai sesuatu yang bernilai.
“Harapannya, kegiatan ini tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga menginspirasi masyarakat luas untuk mulai melihat pakaian bekas sebagai sesuatu yang penuh cerita dan bernilai. Daripada ke TPA, lebih baik kita berikan kepada yang membutuhkan,” ujarnya.
Sustainable fashion tidak hanya soal gaya, tapi juga tentang keadilan sosial. Dalam kegiatan ini, youth volunteers ASEAN bekerja sama dengan komunitas lokal untuk mendistribusikan pakaian bekas yang masih layak pakai kepada masyarakat sekitar. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana fashion bisa menjadi alat untuk pemberdayaan sosial.
Selain mengedukasi generasi muda, kegiatan ini juga berhasil menyelamatkan ratusan pakaian dari potensi menjadi limbah. Pakaian-pakaian tersebut disortir, dicuci, dan dipamerkan dalam bazar sosial. Seluruh hasil penjualan dari bazar disalurkan kembali untuk mendukung program keberlanjutan dan inisiatif sosial dari Rekynd dan TRI Cycle.
Sustainable Fashion Festival 2025 di Denpasar
Festival tahun ini akan menampilkan pameran mode berkelanjutan, workshop daur ulang pakaian, hingga fashion show yang melibatkan desainer muda Indonesia dan ASEAN. Setiap karya yang ditampilkan akan menonjolkan kreativitas dalam memanfaatkan bahan bekas, sisa kain, dan serat ramah lingkungan.
Tak hanya itu, akan ada sesi talkshow yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, seperti aktivis lingkungan, desainer sustainable fashion, dan influencer yang peduli isu lingkungan. Mereka akan membahas dampak industri fashion terhadap bumi, serta bagaimana generasi muda bisa menjadi agen perubahan.
Banyak siswa yang merasa terinspirasi setelah mengikuti kegiatan ini. Misalnya, Made Ayu, siswi SMPN 5 Abiansemal, mengaku kini lebih peduli terhadap pakaian yang ia kenakan.
“Dulu saya tidak terlalu memikirkan asal-usul baju yang saya beli. Sekarang saya ingin lebih bijak dan bahkan mencoba mendaur ulang pakaian lama,” ujarnya.
Sementara itu, Arif Rahman, youth volunteer asal Malaysia, mengatakan kegiatan ini memberinya pengalaman berharga untuk berkolaborasi lintas negara. “Kita belajar bahwa fashion bisa menjadi bahasa universal untuk menyampaikan pesan lingkungan dan sosial,” katanya.
Dampak Positif untuk Lingkungan dan Sosial
Melalui kegiatan ini, Sustainable Fashion Festival 2025 tidak hanya mencetak generasi muda yang sadar lingkungan, tetapi juga menciptakan dampak nyata. Ratusan pakaian berhasil didaur ulang atau didistribusikan ulang kepada mereka yang membutuhkan. Ini berarti pengurangan limbah tekstil dan penundaan penumpukan sampah di TPA.
Selain itu, keterlibatan 10 negara ASEAN menunjukkan bahwa isu sustainable fashion adalah perhatian bersama di kawasan ini. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa generasi muda mampu bergerak lintas batas untuk menciptakan perubahan positif bagi bumi.
Sustainable Fashion Festival 2025 menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai fashion berkelanjutan sejak dini kepada generasi muda Indonesia dan ASEAN. Melalui edukasi, kolaborasi sosial, dan aksi nyata, festival ini mengajak masyarakat untuk melihat pakaian bekas sebagai sumber daya yang bernilai, bukan sekadar limbah. Denpasar pun kini menjadi panggung bagi gerakan fashion yang lebih adil, ramah lingkungan, dan inspiratif.