Halo Inversi! Semangat olahraga pelajar di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali mencuri perhatian. Ketua Komisi X DPR RI yang juga anggota DPR RI asal Dapil Kaltim, Hetifah Sjaifudian, menyerukan agar kompetisi olahraga pelajar di Kaltim diadakan secara rutin dan berjenjang, bukan sekadar event musiman.
Hal itu disampaikan Hetifah usai menghadiri penutupan lomba futsal dan voli antar pelajar se-Kaltim di GOR Kadrie Oening, Samarinda. Menurutnya, regenerasi atlet muda tidak akan tumbuh maksimal tanpa sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Banyak anak Kaltim punya talenta luar biasa, tapi kesempatan bertanding mereka masih terbatas. Kalau tidak ada kompetisi yang berjenjang, bakat-bakat ini akan tenggelam sebelum sempat bersinar,” ujar Hetifah.
Dari Liga RT sampai Level Nasional
Hetifah menegaskan, pembinaan atlet muda tidak harus dimulai dari ajang besar. Justru kompetisi kecil seperti liga tingkat RT atau sekolah bisa menjadi fondasi penting untuk menemukan bibit unggul sejak dini. “Kunci pembinaan itu kontinuitas. Dari liga kecil sampai turnamen regional, semua penting untuk melatih mental dan daya saing atlet muda,” tambahnya.
Ia juga menilai bahwa Kemenpora di bawah kepemimpinan Erick Thohir kini lebih fokus dalam mendukung jenjang pembinaan atlet muda. Dukungan tersebut memungkinkan talenta lokal menembus level nasional, bahkan internasional.
“Sekarang arahnya jelas. Kalau pembinaan dilakukan sejak awal, kita bisa punya atlet yang siap bersaing di tingkat dunia,” ujarnya penuh optimisme.
Perlu Kolaborasi Serius dari Daerah
Politisi yang dikenal aktif memperjuangkan isu pendidikan dan olahraga ini berharap pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, ikut memperkuat gerakan pembinaan ini. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas olahraga agar kompetisi bisa menjangkau lebih banyak pelajar di seluruh wilayah Kaltim.
“Kalau ada kolaborasi yang lebih gencar, kompetisi olahraga bisa terus hidup dan berkelanjutan. Kami di DPR siap mendukung kebijakan yang berpihak pada pengembangan atlet muda,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Guru Olahraga Nasional (IGORNAS) Kaltim, Syahruddin, menyoroti efek positif dari penyelenggaraan event olahraga pelajar ini. Menurutnya, kompetisi olahraga bukan hanya soal pembinaan atlet, tapi juga memiliki dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
“Setiap kali event seperti ini digelar, pedagang kecil di sekitar lokasi ikut merasakan berkah. Homestay ramai, warung makan laris, dan ratusan orang datang menonton. Jadi, efeknya tidak cuma di bidang olahraga, tapi juga ekonomi daerah,” ungkap Syahruddin.
Olahraga Jadi Gaya Hidup dan Identitas Anak Muda
Lebih dari sekadar pertandingan, Hetifah menilai olahraga kini harus menjadi bagian dari gaya hidup anak muda Kaltim. Ia berharap pelajar tidak hanya fokus akademik, tapi juga aktif di bidang olahraga untuk membangun karakter tangguh dan sportif.
“Olahraga itu bukan cuma soal medali, tapi soal semangat, kerja sama, dan mental pantang menyerah. Anak muda Kaltim harus terus bergerak dan menunjukkan potensi terbaiknya,” tutup Hetifah.
Dengan dorongan dari berbagai pihak, semangat olahraga di Kaltim diharapkan tidak hanya berhenti di lapangan, tapi terus tumbuh menjadi gerakan besar membangun generasi sehat, tangguh, dan berprestasi dari Bumi Etam untuk Indonesia.