INVERSI.ID – Anime 90-an sering dianggap sebagai era emas dalam sejarah animasi Jepang. Banyak judul anime dari dekade tersebut yang melegenda, membentuk fondasi budaya pop hingga dikenal lintas generasi. Namun, seiring berkembangnya teknologi animasi dan hadirnya tren baru, generasi muda khususnya Gen Z cenderung tidak terlalu menghargai anime lawas. Mereka lebih dekat dengan karya-karya modern yang kaya visual, efek canggih, serta gaya penceritaan yang lebih relevan dengan zaman sekarang. Padahal, bagi generasi 90-an, anime seperti Dragon Ball Z, Sailor Moon, hingga Yu Yu Hakusho adalah tontonan wajib yang tidak tergantikan.
Meski begitu, perbedaan selera antara penggemar anime 90-an dan Gen Z cukup bisa dimaklumi. Kata kunci anime 90-an menjadi titik penting untuk memahami bagaimana sebuah karya bisa memiliki nilai nostalgia bagi generasi tertentu, sementara generasi berikutnya melihatnya dengan perspektif berbeda. Gen Z sering kali merasa jalan cerita anime lawas terlalu sederhana, animasi kaku, atau kurang dramatis dibandingkan karya terbaru seperti Demon Slayer dan Jujutsu Kaisen. Inilah yang membuat beberapa judul legendaris justru kurang diapresiasi oleh mereka.
Di sisi lain, membicarakan anime 90-an bukan hanya soal nostalgia, melainkan juga bagian dari perjalanan sejarah budaya pop global. Tanpa karya-karya klasik itu, mungkin tidak akan ada anime modern yang kita kenal sekarang. Mari kita lihat lima judul anime 90-an yang dianggap tidak akan pernah benar-benar dihargai oleh Gen Z, meski nilainya begitu bersejarah bagi penggemar lama.
5 Anime 90-an yang Sulit Dihargai Gen Z
1. Trigun Stampede
Aslinya berasal dari karya Yasuhiro Nightow, Trigun adalah anime yang digemari generasi 90-an karena menghadirkan kisah penuh aksi tentang Vash the Stampede, seorang penjahat legendaris dalam dunia pasca-apokaliptik. Versi aslinya memiliki gaya animasi khas 90-an yang bagi penggemar lama justru menjadi daya tarik. Namun, bagi Gen Z, anime ini baru dikenal lewat Trigun Stampede (2023), adaptasi ulang dengan visual modern. Sayangnya, pesona klasiknya sering kali tidak diapresiasi, dan generasi baru lebih fokus pada versi terbaru.
2. Dragon Ball Z
Siapa yang tak kenal Dragon Ball Z? Bagi generasi 90-an, anime ini adalah ikon sejati. Pertarungan epik Goku, Vegeta, hingga Cell dan Majin Buu menjadi memori tak tergantikan. Namun, di kalangan Gen Z, popularitas Dragon Ball Z tak sebesar Dragon Ball Super yang lebih modern dalam segi animasi. Padahal, meski kualitas visualnya tak bisa menyaingi era sekarang, jalan cerita Dragon Ball Z dianggap lebih kuat dan emosional, terutama dalam menggambarkan perjalanan karakter utama.
3. Sailor Moon
Sebagai salah satu anime yang pertama kali menembus arus utama di luar Jepang, Sailor Moon adalah ikon anime gadis penyihir. Generasi 90-an menyukai kisah Usagi Tsukino dan kawan-kawan dalam melawan kekuatan jahat. Namun, bagi Gen Z, anime ini dianggap terlalu jadul dan animasinya kalah jauh dengan seri modern bertema serupa. Meski begitu, Sailor Moon tetap memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan genre shoujo dan jadi salah satu pionir representasi tokoh perempuan kuat di anime.
4. Slayers
Anime bergenre fantasi-komedi ini menceritakan Lina Inverse, seorang penyihir muda yang melakukan perjalanan penuh kejenakaan dan bahaya. Slayers sangat digemari karena berhasil memadukan humor ringan dengan aksi seru. Generasi 90-an menjadikannya tontonan favorit berkat karakter yang ikonik. Sayangnya, di mata Gen Z, gaya cerita Slayers terasa lambat dan animasinya kurang memuaskan. Meski begitu, anime ini tetap diingat sebagai karya dengan pengaruh besar di masanya.
5. Yu Yu Hakusho
Bagi penggemar shonen klasik, Yu Yu Hakusho adalah salah satu karya paling berpengaruh. Kisah Yusuke Urameshi sebagai detektif spiritual penuh pertarungan seru menjadi acuan bagi banyak anime battle shonen modern. Tanpa Yu Yu Hakusho, mungkin kita tidak akan melihat karya besar seperti Jujutsu Kaisen. Namun, Gen Z cenderung tidak memberi perhatian lebih pada anime ini, karena gaya visualnya dianggap ketinggalan zaman. Padahal, seri ini memiliki narasi yang kuat dan karakter mendalam yang jarang ditemui di anime modern.
Nostalgia Vs Tren Baru, Menghargai Perbedaan Generasi
Jika dibandingkan, selera antara penggemar anime 90-an dan Gen Z memang berbeda. Generasi lama cenderung menilai karya berdasarkan cerita, karakter, dan nilai moral, sementara Gen Z lebih tertarik pada visual spektakuler, pacing cepat, dan konflik yang dramatis. Namun, perbedaan inilah yang justru memperkaya dunia anime.
Anime 90-an layak dihargai sebagai fondasi budaya pop modern. Tanpa Dragon Ball Z, Sailor Moon, atau Yu Yu Hakusho, mungkin anime tidak akan mencapai popularitas global seperti sekarang. Meskipun Gen Z kurang memberi perhatian pada anime lawas, setidaknya mereka menikmati hasil evolusi yang berasal dari karya klasik tersebut.
Bagi generasi muda, menonton anime lawas bisa menjadi cara memahami sejarah panjang industri ini. Sementara bagi penggemar lama, nostalgia yang hadir dari anime 90-an tetap tak tergantikan. Pada akhirnya, baik anime klasik maupun modern punya tempat masing-masing di hati penggemarnya. Yang terpenting adalah bagaimana setiap generasi bisa saling menghargai pilihan tontonan tanpa meremehkan karya dari masa lalu.