Inversi.id – Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa penanganan bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera saat ini telah menjadi perhatian nasional. Hal itu ia sampaikan dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Dalam Negeri Jakarta pada hari Senin. Menurutnya, meskipun status bencana nasional belum ditetapkan, seluruh langkah yang diambil pemerintah pusat sejak hari pertama telah mengikuti standar penanganan nasional.
“Kalau untuk penetapan bencana nasional sementara belum, tetapi perlakuannya sudah nasional. Dari hari pertama, pemerintah pusat menilai sendiri bahwa harus turun, dan kemudian dari hari pertama sudah dilakukan dengan prosedur nasional, jadi semua sudah all out,” ujar Tito.
Ia menekankan bahwa fokus utama pemerintah adalah tindakan cepat untuk menyelamatkan warga, membuka akses, serta memastikan distribusi logistik mencapai seluruh titik pengungsian.
“Jadi masalah status itu menurut saya penting, tetapi yang paling utama itu kan perlakuan. Tindakannya itu yang lebih penting, tindakan nasional,” ucapnya.
Baca Juga : https://inversi.id/dari-ibu-kota-untuk-sumatera-bantuan-melaju-lawan-bencana/
Tito menjelaskan bahwa sejak bencana melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pemerintah telah mengerahkan seluruh komponen nasional, baik personel maupun sarana pendukung. Bantuan logistik dikirim langsung dari Jakarta menggunakan jalur udara untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi karena akses darat terputus. Kementerian Dalam Negeri bersama pemerintah daerah juga melakukan pemetaan terhadap kebutuhan logistik harian para pengungsi, termasuk kebutuhan air bersih, makanan, serta perlengkapan dasar lainnya.
Selain itu, pemerintah sedang mendata rumah rumah yang roboh akibat banjir dan longsor. Data tersebut menjadi dasar untuk pembangunan hunian sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Tito menjelaskan bahwa pembangunan hunian sementara belum dimulai karena proses pendataan masih berlangsung.
“Seingat saya sampai hari ini belum ada hunian sementara yang dibangun. Nah ini sedang dijalankan pendataan, siapa saja yang rumahnya betul betul roboh untuk bisa dibuatkan hunian sementara,” kata Mendagri.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah telah meninjau lokasi bersama pemerintah provinsi untuk memastikan ketersediaan stok pangan dan bantuan bagi para pengungsi. Pemerintah sedang memeriksa jalur jalur logistik serta titik yang terdampak kerusakan jembatan.
Baca Juga : https://inversi.id/presiden-prabowo-tinjau-langsung-penanganan-banjir-dan-longsor-di-sumatera/
Dalam penjelasannya, Tito mengungkapkan bahwa banyak jembatan besar di berbagai titik mengalami kerusakan berat. Menurut data yang ia sampaikan, terdapat sekitar tiga puluh jembatan yang rusak atau roboh sehingga menyebabkan sejumlah daerah terkunci dan sulit diakses.
“Jadi memang jembatan jembatan yang roboh cukup banyak, setidaknya tiga puluh yang kalau saya ingat agak besar, sehingga memang terputus. Termasuk di antaranya selain Aceh Utara, Lhokseumawe, itu jembatan putus. Jembatan nasional dari Bireuen menuju ke Pidie Jaya yang menembus Medan Banda Aceh juga putus, sehingga otomatis terkunci daerah itu,” jelasnya.
Kerusakan akses tersebut menyebabkan proses distribusi bantuan membutuhkan dukungan udara yang lebih besar. Pemerintah pusat terus menambah armada pesawat serta helikopter untuk memastikan bantuan tidak terhambat.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf memastikan seluruh bantuan Kementerian Sosial telah menjangkau titik titik pengungsian di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menyebut bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah bekerja bersama untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, terutama kebutuhan makanan, perlengkapan keluarga, serta pemenuhan layanan kesehatan.
Saifullah Yusuf mendampingi Presiden Prabowo Subianto saat meninjau lokasi banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah pada hari Senin. Dalam momen tersebut, ia memastikan bahwa bantuan sosial yang dikirim dari Jakarta tiba di lokasi terdampak sesuai kebutuhan.
Presiden Prabowo Subianto pada hari yang sama bertolak menuju Aceh setelah meninjau penanganan bencana di Tapanuli Tengah.
“Saya ke Aceh, ke Medan dan ke Aceh,” ujar Presiden sebelum keberangkatannya.
Presiden dijadwalkan terbang dari Bandara Raja Sisingamangaraja Dua Belas menuju Bandara Internasional Kualanamu. Dari Kualanamu, Presiden melanjutkan perjalanan menggunakan helikopter NAS tiga ratus tiga puluh dua Super Puma menuju Bandara Alas Leuser di Kutacane, Aceh Tenggara.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peninjauan lapangan untuk memastikan seluruh langkah penanganan bencana berjalan efektif. Pemerintah menegaskan bahwa kehadiran Presiden dan para menteri adalah bentuk komitmen negara dalam menjamin keselamatan dan pemulihan warga terdampak di berbagai wilayah Sumatera.
Baca Juga : https://inversi.id/banjir-dan-longsor-melanda-inversi-dan-turunminum/