JAKARTA, INVERSI – Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan Republik Indonesia dikerahkan untuk membantu pemulihan akses air bersih pascabencana di Sumatera Utara. Keterlibatan mahasiswa ini menjadi bagian dari upaya terpadu antara unsur pendidikan, teknologi, dan pertahanan dalam mendukung penanganan dampak bencana alam di wilayah terdampak.
Berdasarkan keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu, para mahasiswa diberangkatkan menggunakan pesawat Hercules A 1331 milik TNI Angkatan Udara pada Sabtu, 20 Desember, sekitar pukul 12.00 WIB. Pesawat tersebut lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Lanud Soewondo di Medan. Setelah tiba di Medan, para mahasiswa bersama perlengkapan logistik melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi terdampak bencana.
Salah satu mahasiswa perempuan dari Program Studi Rekayasa Sumber Daya Air Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan menjelaskan bahwa misi utama mereka adalah membantu pemeriksaan serta pendampingan teknis instalasi air bersih.
“Kami berangkat ke Sumatera Utara untuk membantu pemeriksaan instalasi air,” ujarnya.
Menurutnya, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat setelah bencana, terutama di wilayah yang infrastruktur dasarnya mengalami kerusakan.
Keterlibatan mahasiswa ini tidak terlepas dari kerja sama sebelumnya antara TNI dan Universitas Pertahanan dalam membentuk Satuan Tugas Pengembangan dan Penerapan Teknologi Penjernihan Air. Satgas tersebut telah lebih dulu diterjunkan untuk mendukung penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan fokus utama pada penyediaan air bersih yang layak bagi masyarakat terdampak.
Satgas ini bertugas mengembangkan dan menerapkan teknologi penjernihan air yang mampu mengolah air kotor menjadi air bersih siap konsumsi. Koordinator satgas dijabat oleh Kolonel Infanteri Musthofa, sementara ketua tim adalah Diyan Parwatiningtyas, dosen Program Studi Fisika FMIPA Universitas Pertahanan. Anggota satgas terdiri dari dosen dan kadet Universitas Pertahanan lintas program studi, termasuk Rekayasa Sumber Daya Air, Fisika, dan Teknik Sipil.
Dalam pelaksanaannya, tim mengembangkan sistem pengolahan air berbasis teknologi reverse osmosis. Teknologi ini dirancang mampu menghasilkan hingga 20.000 liter air bersih per hari untuk kebutuhan mandi dan mencuci, serta sekitar 4.000 hingga 5.000 liter air siap minum setiap harinya. Kapasitas tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di lokasi pengungsian maupun desa terdampak.
Mesin penjernihan air yang digunakan dirancang dengan tabung filtrasi berbahan Fiber Reinforced Plastic yang dilengkapi berbagai lapisan media penyaring. Media tersebut meliputi manganese ferrolite, manganese zeolit, karbon aktif, dan silika. Setelah melalui tahap filtrasi, air diproses kembali menggunakan teknologi reverse osmosis dan penyinaran ultraviolet untuk memastikan air bebas dari garam terlarut, kontaminan mikro, serta bakteri dan virus berbahaya.
Dengan biaya produksi sekitar Rp 65 hingga 70 juta per unit, teknologi ini dinilai relatif efisien dan efektif untuk digunakan dalam situasi darurat bencana. Kehadiran mahasiswa Universitas Pertahanan di lapangan diharapkan tidak hanya membantu pemulihan akses air bersih, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi dunia pendidikan dalam mendukung penanganan bencana secara berkelanjutan dan berbasis teknologi.