JAKARTA, INVERSI – Tentara Nasional Indonesia mendirikan posko trauma healing di Posko Pengungsian Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh, sebagai bagian dari upaya pemulihan psikososial bagi warga terdampak banjir. Kegiatan ini difokuskan untuk membantu anak-anak pengungsi yang mengalami tekanan psikologis akibat bencana, sekaligus memperkuat pendampingan kemanusiaan pada fase pascabencana.
Staf Personalia Kodam Iskandar Muda, Letnan Kolonel Infanteri Dekki Sujatmiko, menyampaikan bahwa pelaksanaan trauma healing merupakan tindak lanjut dari arahan pimpinan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Menurutnya, kegiatan tersebut dijalankan atas perintah langsung Kepala Staf TNI Angkatan Darat Maruli Simanjuntak, dengan dukungan arahan dari Ketua Umum Persit Kartika Chandra Kirana.
“Kegiatan hari ini adalah trauma healing. Ini merupakan perintah langsung dari Bapak KSAD dengan adanya bencana, khususnya di wilayah Kodam Iskandar Muda. Kami juga mendapat arahan dari Ibu Ketua Umum Ibu KSAD agar melaksanakan trauma healing,” ujar Dekki dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Pelaksanaan posko trauma healing dilakukan secara kolaboratif dengan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, dan unsur masyarakat setempat. Sinergi lintas pihak ini ditujukan agar pendampingan yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek psikologis, tetapi juga terintegrasi dengan layanan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.
Dekki menjelaskan bahwa fokus utama kegiatan adalah anak-anak yang terdampak secara psikologis. Pada fase pascabencana, anak-anak dinilai rentan mengalami kecemasan, ketakutan, dan stres, terutama karena kehilangan tempat tinggal atau anggota keluarga.
“Mereka masih ada kecemasan dan stres karena rumahnya rusak berat, hilang, atau mungkin ada saudara yang menjadi korban. Kegiatan ini bertujuan mengembalikan kondisi psikis mereka agar kembali gembira,” katanya.
Untuk mendukung proses pemulihan tersebut, TNI menyediakan berbagai sarana permainan dan aktivitas yang bersifat rekreatif dan edukatif. Peralatan bermain seperti ayunan, perosotan, rubik, hula hoop, bola, hingga mainan dapur diserahkan langsung kepada anak-anak di pengungsian. Aktivitas bernyanyi, bermain bersama, dan interaksi kelompok dirancang untuk menciptakan rasa aman dan kegembiraan, sekaligus mengalihkan ingatan anak dari pengalaman traumatis.
Dampak kegiatan ini dirasakan langsung oleh warga pengungsian. Mariani, salah satu pengungsi di Balee Panah, menyampaikan bahwa kehadiran posko trauma healing membantu memulihkan suasana hati anak-anak.
“Dari TNI Kodam Iskandar Muda datang kemari untuk healing, menghibur anak-anak supaya bahagia dan ceria seperti semula. Ada mainan, ada jajanan, ada minum. Anak-anak nyanyi-nyanyi, senang, sudah tidak murung lagi,” tuturnya.
Mariani juga mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang terus mengalir sejak dirinya mengungsi. Selain pendampingan psikososial, kebutuhan logistik dan pangan turut terpenuhi melalui dukungan aparat desa, masyarakat, dan program bantuan.
“Bapak-bapak TNI membantu kami. Ada bantuan beras, telur, mie instan, sarden. Ada juga bantuan Makan Bergizi Gratis. Anak-anak mendapat jajanan dan pakaian, serta bantuan dari masyarakat,” katanya.
Layanan kesehatan di posko pengungsian pun berjalan rutin dan lengkap. Menurut Mariani, pemeriksaan kesehatan dilakukan setiap hari dengan kehadiran dokter dari berbagai bidang. “Ada layanan kesehatan setiap hari. Dokter kulit ada, dokter jantung ada, dokter umum ada,” ujarnya.
Pendirian posko trauma healing di Balee Panah menegaskan peran TNI dalam penanganan bencana yang tidak hanya berfokus pada evakuasi dan logistik, tetapi juga pada pemulihan psikologis masyarakat. Pendekatan komprehensif ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan sosial, khususnya bagi anak-anak, sehingga mereka dapat kembali beraktivitas dan belajar dengan kondisi mental yang lebih stabil.
Ke depan, TNI bersama pemerintah daerah dan mitra kemanusiaan berkomitmen melanjutkan pendampingan hingga kondisi pengungsi benar-benar pulih. Upaya ini menjadi bagian dari strategi pemulihan berkelanjutan pascabencana di Aceh, dengan menempatkan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan psikologis warga sebagai prioritas utama.