JAKARTA
Hasil gemilang kontingen Indonesia di SEA Games 2025 menjadi momentum penting bagi Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir untuk memperkuat pembinaan atlet perempuan dan remaja. Dominasi atlet putri dalam perolehan medali dinilai sebagai bukti bahwa olahraga perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung prestasi nasional ke depan.
Erick menegaskan perlunya perubahan cara pandang masyarakat terhadap profesi atlet, khususnya atlet perempuan. Menurutnya, capaian luar biasa atlet muda Indonesia di SEA Games 2025 menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi jalan masa depan yang menjanjikan.
Ia menyoroti kontribusi signifikan atlet perempuan dan remaja dalam menyumbangkan medali bagi Indonesia. Bahkan, salah satu atlet perempuan mampu menyabet lima medali emas dan dua perak dalam satu cabang olahraga.
“Kita harus melihat bagaimana peran perempuan di olahraga itu luar biasa. Kemarin salah satu penyumbang emas terbanyak adalah Saudari Martina Ayu Pratiwi, atlet triathlon yang baru berusia 21 tahun, dengan lima medali emas,” ujar Erick di Jakarta, Senin (22/12/2025)
Selain triathlon, peran atlet perempuan juga terlihat di cabang tenis, Ketika pasangan ganda putri Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen Chen berhasil menyumbangkan medali emas bagi kontingen Merah Putih.
“Banyak sekali medali emas yang disumbangkan atlet perempuan. Ini menunjukkan bahwa olahraga perempuan di Indonesia punya potensi besar dan harus terus didorong,” kata Erick.
Berkaca dari hasil SEA Games 2025 tersebut, Erick menegaskan komitmen Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk memperkuat pembinaan atlet perempuan, anak-anak, dan remaja secara berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah pembangunan Akademi Olahraga, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Akademi olahraga ini akan menjadi pusat pelatihan anak-anak muda sejak dini, mulai usia SMP hingga SMA,” ujar Erick.
Tak hanya fokus pada prestasi, pemerintah juga menyiapkan jaminan masa depan bagi atlet berprestasi. Erick menyebut para lulusan akademi olahraga akan mendapatkan beasiswa pendidikan melalui LPDP, dengan kuota hampir 100 atlet yang telah disiapkan.
“Artinya, mereka bukan hanya dididik menjadi atlet, tetapi juga masa depannya terjamin secara pendidikan,” katanya.
Ia menambahkan, kebijakan pemberian bonus Rp1 miliar bagi atlet peraih medali emas dari Presiden Prabowo menjadi bentuk nyata keberpihakan negara, khususnya kepada atlet muda dan perempuan.
“Banyak atlet Gen Z kita yang usianya masih 17–18 tahun, terutama di cabang renang, sudah mendapatkan bonus Rp1 miliar. Itu bisa menjadi tabungan masa depan mereka,” ujar Erick.
Karena itu, Erick menegaskan pentingnya menghapus stigma lama bahwa atlet identik dengan kemiskinan.
“Persepsi orang tua bahwa atlet itu miskin harus berubah. Atlet juga bisa mendapatkan hasil yang luar biasa, tinggal bagaimana pengelolaan dananya,” kata Erick.
Hasil SEA Games 2025 pun menjadi refleksi sekaligus pijakan bagi pemerintah untuk menjadikan atlet perempuan sebagai salah satu fokus utama pembinaan olahraga nasional menuju level Asia dan dunia.