Inversi Aktivitas belajar mengajar di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, kembali dimulai pada Senin (5/1/2026), bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah semester genap tahun ajaran 2025/2026.
Namun, suasana awal sekolah tahun ini berlangsung jauh dari kondisi normal. Sejumlah pelajar terpaksa mengikuti kegiatan pembelajaran di tenda darurat akibat sekolah mereka rusak parah setelah dilanda banjir dan tanah longsor pada akhir November 2025.
Bencana alam tersebut meninggalkan dampak signifikan terhadap infrastruktur pendidikan di wilayah pegunungan Aceh itu. Sejumlah bangunan sekolah tertimbun lumpur, mengalami kerusakan struktural, bahkan tidak dapat difungsikan sama sekali.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues melalui Dinas Pendidikan tetap memastikan bahwa proses belajar mengajar tidak terhenti, meskipun harus berlangsung dalam kondisi darurat.
Kepala Dinas Pendidikan Gayo Lues, Salid, menyampaikan bahwa terdapat total 11 satuan pendidikan yang hingga kini belum dapat digunakan. Sekolah-sekolah tersebut terdiri atas satu taman kanak-kanak (TK), lima sekolah dasar (SD), empat sekolah menengah pertama (SMP), serta satu madrasah ibtidaiyah swasta (MIS).
Kerusakan yang terjadi membuat pihak sekolah terpaksa memindahkan kegiatan pembelajaran ke tenda darurat yang disiapkan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah kecamatan.
“Pembelajaran belum bisa sepenuhnya berjalan normal. Pada tahap awal, kami menyesuaikan metode belajar dengan kondisi psikologis anak-anak. Pendekatan bermain sambil belajar menjadi prioritas sebagai bagian dari trauma healing, terutama bagi siswa yang terdampak langsung bencana,” ujar Salid.
Selain pendekatan psikososial, jam belajar juga disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Durasi pembelajaran dipersingkat untuk menghindari kelelahan siswa, mengingat fasilitas pendukung seperti meja, kursi, serta ruang kelas permanen belum tersedia secara memadai. Guru-guru juga diminta untuk lebih fleksibel dalam menyampaikan materi agar siswa tetap merasa nyaman dan aman selama proses belajar.
Tenda-tenda sekolah darurat saat ini tersebar di beberapa kecamatan terdampak. Di Kecamatan Tripe Jaya, tenda digunakan oleh siswa SD Negeri 3 serta SMPIT Askaril Ikhlas. Sementara itu, di Kecamatan Pantan Cuaca, tenda belajar didirikan untuk SD Negeri 4 dan SD Negeri 5 di Kampung Remukut dan Kampung Tetingi.
Selain itu, fasilitas serupa juga tersedia di Kecamatan Pepelah Pining untuk SD Negeri 5, serta di Kecamatan Agusen, khususnya bagi warga terdampak di Kampung Palok. Salid menjelaskan bahwa pada umumnya tenda-tenda belajar didirikan berdekatan dengan posko pengungsian agar mudah diakses oleh siswa dan guru.
Meski demikian, pihaknya berupaya memisahkan lokasi tenda sekolah dengan area hunian pengungsi guna menjaga kenyamanan dan konsentrasi belajar. Pengecualian terjadi di SD Negeri 10 Palok, di mana bangunan sekolah sementara digunakan sebagai tempat pengungsian, sehingga siswa harus mengikuti pembelajaran di tenda yang didirikan di luar area sekolah.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh tenaga pendidik. Sebanyak 85 rumah guru dilaporkan hanyut atau rusak berat akibat banjir dan longsor. Kondisi ini membuat sebagian guru juga harus tinggal di tempat penampungan sementara. Untuk membantu meringankan beban tersebut, keluarga besar Dinas Pendidikan Gayo Lues bersama pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan darurat kepada para guru terdampak.
Pemerintah daerah juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan bagi siswa dan guru. Koordinasi terus dilakukan dengan Bupati Gayo Lues dan BPBD untuk menyiapkan bantuan berupa seragam sekolah, seragam guru, alat tulis, serta perlengkapan belajar lainnya. Bantuan tersebut mulai disalurkan sejak hari pertama masuk sekolah, dengan prioritas kepada siswa yang kehilangan perlengkapan akibat bencana.
“Kami ingin memastikan anak-anak tetap bisa belajar meskipun dalam keterbatasan. Pendidikan harus terus berjalan, karena sekolah juga menjadi ruang pemulihan bagi anak-anak setelah mengalami bencana,” kata Salid.
Ia menambahkan, penggunaan tenda darurat bersifat sementara hingga proses pembersihan lumpur dan perbaikan bangunan sekolah selesai dilakukan. Pemerintah daerah berharap dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat dapat mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas pendidikan di Gayo Lues.
Meski harus belajar di bawah tenda dengan fasilitas terbatas, semangat siswa dan guru tetap terlihat. Kehadiran sekolah, meski dalam kondisi darurat, menjadi simbol kebangkitan dan harapan bagi masyarakat Gayo Lues untuk bangkit dari dampak bencana.