JAKARTA- Dalam hitungan hari, dua founder brand lokal terkemuka kehilangan segalanya. Bukan karena strategi bisnis yang gagal, melainkan pilihan personal yang tak bisa ditawar. Ini adalah cerita tentang bagaimana satu keputusan bisa meruntuhkan empire yang dibangun bertahun-tahun.
Ketika Anda memiliki brand yang terkenal, jutaan followers, dan posisi sebagai figur industri, ada satu hal yang sering dilupakan: tanggung jawab personal adalah aset paling berharga, dan sekaligus yang paling rapuh.
Dua skandal yang meledak dalam waktu bersamaan pada Februari 2026 ini membuktikan bahwa tidak ada “zona aman” bagi siapa pun—sebesar apa pun bisnis mereka. Mohan Hazian, founder Thanksinsomnia, dan Bagus Alezar, founder Localmadness, adalah dua nama yang seminggu lalu masih menjadi inspirasi industri. Kini, mereka menjadi peringatan keras tentang konsekuensi pilihan personal yang melanggar etika.
Pada 8 Februari 2026, seorang perempuan yang bekerja sebagai model membagikan pengalamannya yang menggemparkan melalui media sosial. Ia menceritakan bagaimana pada Mei 2025, saat melakukan sesi fotografi untuk sebuah brand lokal dengan owner inisial “M”, ia mengalami pelecehan seksual. Modus operandinya sederhana namun terencana: setelah sesi foto selesai, korban diajak makan bersama tim, namun talent scouter tiba-tiba pergi, meninggalkannya berdua dengan owner. Di studio, dugaan pelecehan terjadi.
Utas itu viral. Dalam hitungan jam, korban lain bermunculan dengan pola serupa. Beberapa di antaranya masih di bawah umur—berusia 17 tahun.
Mohan Hazian awalnya merilis video klarifikasi yang membantah tuduhan. Namun video tersebut justru dikecam keras publik karena dinilai tidak empatik—lebih fokus pada kerugian yang dialami dirinya dan keluarganya, bukan pada korban. Ini adalah kesalahan fatal dalam manajemen krisis, yakni ketika korban berbicara, pihak yang dituduh harus mendengarkan, bukan membela diri.
Setelah tekanan publik yang masif, pada 11-12 Februari 2026, Mohan akhirnya merilis pernyataan tertulis yang mengakui telah melakukan “tindakan tidak pantas” yang melanggar batas profesional dan pribadi. Ia menyatakan siap menghadapi proses hukum jika dilaporkan.
Namun, konsekuensi yang dihadapi Mohan berat. Manajemen Thanksinsomnia secara resmi menonaktifkan dan memutus semua hubungan profesional dengannya. USS (platform konten) menghapus semua konten yang melibatkannya, lalu penerbit buku Shira Media menarik semua buku karya Mohan dari peredaran. Puncaknya, dua Brand Ambassador (BA) Thanksinsomnia kompak mengundurkan diri. Dalam hitungan hari, karier yang dibangun bertahun-tahun hancur total.
Kasus kurang lebih sama dialami, Bagus Alezar. Sekitar 9-10 Februari 2026, sebuah video berjudul “one fine date” muncul di akun X @beckoisback, yang diidentifikasi milik Bagus Alezar, founder Localmadness. Video dimulai dengan klip kencan biasa, namun diakhiri dengan adegan hubungan intim yang eksplisit dan berdurasi cukup panjang.
Yang membuat heboh: video tersebut diduga kuat diunggah sendiri oleh Bagus ke akun media sosialnya. Bahkan ada dugaan pacarnya juga ikut mengunggah.
Bagus Alezar adalah founder sebuah platform yang seharusnya memajukan UMKM dan brand lokal. Justru, tindakan pribadi yang sembrono ini menciptakan paradoks: seorang figur yang seharusnya menjadi panutan industri malah melakukan sesuatu yang dianggap “norak” dan merusak citra industri kreatif lokal.
Setelah video viral, akun X @beckoisback dan akun Instagram Bagus Alezar mendadak hilang atau dinonaktifkan. Warganet dengan cepat mengidentifikasi identitasnya, dan kasus ini semakin membesar setelah diunggah ulang oleh berbagai akun dan menjadi sorotan publik.
Seorang netizen menangkap esensi dari keterkejutan publik dengan kalimat yang kemudian viral: “Ngeri orang gede juga ternyata”.
Dr. Tirta, melalui akun X @tirta_cipeng, memberikan perspektif penting tentang dinamika di balik skandal Mohan Hazian. Pada Rabu 11 Februari 2026, Dr. Tirta mengkritik lingkungan pertemanan Mohan yang dianggap menjadi enabler (pembiarkan).
“Intinya circle Mohan bawa-bawa kasus Gofar sebagai alasan mereka netral. Udah kujelasin, kena stay with victim dulu. Ya tetap ngeyel. Circle dia rata-rata ya owner brand lokal dan influencer skena fasyun,” kata Dr. Tirta.
Ini adalah kritik mendalam tentang bagaimana ekosistem industri kreatif lokal sering kali melindungi sesama founder dengan alasan “netralitas” atau “tidak ingin terlibat”. Padahal, dalam kasus pelecehan, netralitas adalah bentuk dukungan terhadap pelaku. Dr. Tirta menekankan pentingnya “stay with victim”—berdiri bersama korban—sebagai posisi etis yang seharusnya diambil.
Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari dua kasus ini. Ada banyak. Pertama, posisi tidak memberikan impunitas. Mohan Hazian adalah owner brand besar. Bagus Alezar adalah founder platform yang berpengaruh. Namun posisi mereka tidak melindungi mereka dari konsekuensi pilihan personal yang buruk. Faktanya, posisi justru membuat tanggung jawab mereka lebih besar, bukan lebih kecil.
Kedua, tindakan personal merupakan tanggung jawab bisnis. Ketika seorang founder melakukan sesuatu yang melanggar etika, itu bukan hanya masalah pribadi. Itu adalah masalah brand. Thanksinsomnia dan Localmadness kini harus menanggung beban reputasi dari tindakan personal founder mereka. Ini adalah harga yang harus dibayar industri kreatif lokal.
Ketiga, speak-up culture mengubah permainan. Ulir dari satu korban berani yang memicu pengakuan korban-korban lain menunjukkan perubahan dinamika kekuatan. Era di mana korban diam sudah berakhir. Di era media sosial, satu suara bisa menjadi gerakan dalam hitungan jam.
Keempat, circle dan enabler culture harus berakhir. Kritik Dr. Tirta tentang “circle” Mohan yang menjadi enabler menunjukkan masalah sistemik dalam industri. Ketika teman-teman dan kolega memilih netralitas, mereka sebenarnya sedang memilih pihak pelaku. Industri kreatif lokal perlu mengubah budaya ini.
Kelima, reputasi bertahun-tahun, hancur dalam sekejap. Kedua founder ini adalah bukti hidup dari prinsip ini. Mohan Hazian membangun Thanksinsomnia selama bertahun-tahun, menciptakan brand yang dikenal luas. Dalam hitungan hari, semuanya hilang. Bagus Alezar memiliki platform yang berpengaruh. Satu keputusan buruk mengubah semuanya.