INVERSI.ID – Kementerian Pariwisata berencana memasang sebanyak 136 mooring buoy atau pelampung tambat di kawasan Raja Ampat sebagai langkah menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mempertahankan status UNESCO Global Geopark.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pemasangan pelampung tambat dilakukan untuk melindungi ekosistem terumbu karang yang selama ini rentan rusak akibat aktivitas kapal wisata, khususnya kapal penyelam.
“Itu untuk menjaga sistem ekonomi dari terumbu karang di sana, karena sekarang itu banyak sekali kapal berlayar di sana untuk diving tapi jangkarnya di mana-mana,” kata Widiyanti usai mengikuti Rakornas Pariwisata 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut Widiyanti, hasil peninjauan yang dilakukan sebelumnya menunjukkan masih ada sejumlah persoalan yang perlu dibenahi bersama oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian/lembaga terkait, hingga pelaku industri pariwisata setempat.
Salah satu fokus utama yakni penguatan daya dukung destinasi wisata perairan di Raja Ampat, terutama karena tingginya aktivitas wisata diving dan lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Selain masalah jangkar kapal, isu sampah juga menjadi perhatian serius pemerintah dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata unggulan Indonesia itu.
Widiyanti menyebut pemerintah tengah berupaya mencegah kapal-kapal yang singgah di Raja Ampat membuang sampah sembarangan ke laut. Ia juga mendorong pengelola kawasan dan pemerintah daerah memasang jaring di area sungai guna mengurangi sampah yang masuk ke wilayah daratan dan pesisir.
“Itu butuh usaha yang luar biasa dan pasti biaya juga operasionalnya. Jadi perlu distrategikan bersama, ini karena sampah kan isu nasional sekarang. Jadi kita mendata dan mudah-mudahan ke depan kita bisa membangun pariwisata di Raja Ampat secara bertanggung jawab,” kata dia.
Sebelumnya, Widiyanti juga menegaskan bahwa status UNESCO Global Geopark bukan sekadar pengakuan internasional, melainkan bentuk komitmen jangka panjang terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Karena itu, menurutnya, sinergi antara perlindungan alam, penguatan tata kelola kawasan, dan pemberdayaan masyarakat lokal menjadi kunci agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Dia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga masa depan Raja Ampat sebagai salah satu destinasi wisata terbaik dunia.
“Tugas kita bersama untuk Raja Ampat adalah memastikan keindahan ini tetap hidup, lestari, dan memberi manfaat bagi generasi hari ini maupun masa depan,” katanya.
Sementara itu, tim asesor dari UNESCO dijadwalkan datang ke Indonesia pada Agustus 2026 untuk melakukan validasi ulang terhadap status geopark Raja Ampat.
Proses tersebut dinilai sangat penting guna memastikan Raja Ampat tetap mempertahankan status UNESCO Global Geopark sebagai destinasi wisata kelas dunia.