By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Pengamat: Penyesuaian BBM Non-Subsidi Wajar Mengikuti Pasar, APBN Fokus Lindungi Rakyat Kecil
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Pengamat: Penyesuaian BBM Non-Subsidi Wajar Mengikuti Pasar, APBN Fokus Lindungi Rakyat Kecil

Ekonomi

Pengamat: Penyesuaian BBM Non-Subsidi Wajar Mengikuti Pasar, APBN Fokus Lindungi Rakyat Kecil

Nicholas
By
Nicholas
2 months ago
Share
4 Min Read
(Ilustrasi) Di tengah tantangan ekonomi global, prinsip keadilan sosial harus menjadi dasar bersama. Negara hadir melindungi yang lemah, sementara kelompok mampu ikut berbagi beban demi menjaga stabilitas ekonomi nasional secara berkelanjutan. (Foto, generateAI/Dede).
SHARE

JAKARTA — Penyesuaian harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis dari dinamika pasar minyak dunia dan bukan semata-mata keputusan politik pemerintah. Di tengah tekanan global akibat fluktuasi harga minyak mentah dan nilai tukar rupiah, pengamat menilai pemerintah justru perlu memprioritaskan kekuatan fiskal negara untuk menjaga perlindungan terhadap masyarakat kecil melalui subsidi yang tepat sasaran.

Dalam beberapa waktu terakhir, polemik mengenai kenaikan harga BBM non-subsidi kembali mengemuka. Sebagian pihak mendesak pemerintah memberikan penjelasan politik atas kenaikan harga Pertamax Series dan produk komersial lainnya. Namun, sejumlah pengamat menilai tuntutan tersebut justru menunjukkan masih kaburnya pemahaman publik mengenai perbedaan antara BBM subsidi dan BBM non-subsidi.

BBM non-subsidi sejak awal memang dirancang mengikuti mekanisme pasar internasional. Penentuan harganya dipengaruhi berbagai variabel ekonomi seperti harga minyak mentah dunia, kurs rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, hingga margin badan usaha. Karena itu, perubahan harga dianggap sebagai konsekuensi normal dari sistem ekonomi yang telah ditetapkan pemerintah.

Dari kacamata kebijakan publik, negara tidak mungkin terus-menerus menjadi bantalan fiskal bagi seluruh kelompok masyarakat, terutama untuk konsumsi energi kendaraan pribadi kelas menengah ke atas. Dalam situasi global yang belum stabil, APBN harus diarahkan secara hati-hati untuk menjaga daya beli rakyat kecil seperti nelayan, petani, pengemudi ojek, sopir angkutan umum, dan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada subsidi energi.

“Kalau pemerintah memaksakan harga BBM non-subsidi jauh di bawah harga pasar dunia, beban APBN akan semakin berat. Padahal fokus utama negara saat ini adalah memastikan subsidi tepat sasaran bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” ujar Mohammad Aliman Shahmi, Dosen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Rabu (20/5).

Narasi mengenai keadilan sosial dalam tata kelola energi dinilai penting untuk terus diedukasi kepada publik. Kesadaran berbagi beban secara proporsional dianggap menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Di tengah tekanan global, pemerintah di bawah kepemimpinan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sejauh ini tetap menegaskan komitmen menjaga harga BBM subsidi agar tidak memberatkan masyarakat bawah. Kebijakan tersebut dipandang sebagai bentuk keberpihakan negara kepada kelompok rentan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Karena itu, masyarakat kelas menengah atas dinilai sudah sewajarnya menggunakan BBM non-subsidi tanpa menuntut negara terus melakukan intervensi harga demi kenyamanan konsumsi pribadi. Penggunaan BBM berkualitas tinggi seperti Pertamax Series juga dianggap selaras dengan kemampuan ekonomi kelompok pengguna kendaraan pribadi modern dan komersial.

Mohammad Aliman Shahmi juga mengingatkan bahwa kegemaran menyeret setiap kenaikan harga BBM non-subsidi ke ruang politik justru berpotensi menciptakan ekspektasi yang keliru di masyarakat. Publik bisa terbiasa menganggap semua gejolak harga sebagai kesalahan pemerintah, padahal sebagian besar dipengaruhi mekanisme ekonomi global yang berada di luar kendali langsung negara.

Baca Juga :

Destinasi Staycation di Tengah Syahdunya Hutan Pinus Subang
Deretan Menteri Merapat ke Istana Sore Ini, Bahas Apa dengan Prabowo?

“Kalau konsep non-subsidi sudah diterima, maka publik juga harus siap menerima konsekuensi fluktuasi harga. Harga bisa naik, bisa turun, tergantung pasar dunia. Ini bukan soal pemerintah abai, tapi soal disiplin kebijakan,” katanya.

Dalam perspektif fiskal, menjaga kesehatan APBN disebut jauh lebih penting dibanding memberikan subsidi luas kepada kelompok masyarakat yang sebenarnya mampu membeli BBM dengan harga pasar. Sebab, ketahanan fiskal negara menjadi fondasi utama untuk membiayai program perlindungan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur nasional.

Di tengah tantangan ekonomi global saat ini, para pengamat mengajak masyarakat untuk melihat persoalan energi secara lebih jernih dan proporsional. Prinsip keadilan sosial dinilai harus menjadi dasar bersama: negara hadir melindungi yang lemah, sementara kelompok mampu ikut berbagi beban demi menjaga stabilitas ekonomi nasional secara berkelanjutan.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih
TAGGED:Bahlil LahadaliaBBM Non SubsidiMenteri ESDMMohammad Aliman Shahmi
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Kemenpar Siapkan 136 Mooring Buoy demi Jaga Status UNESCO Raja Ampat
Next Article Pakar UGM Dukung Impor Tabung CNG: “Kalau Nunggu Produksi Lokal, Bikin Untung Mafia LPG”
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

Janji Tinggal Janji? Kepercayaan Warga Karo Tergerus di Tengah Sengketa RSUD Kabanjahe

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

InternasionalTerkini

Bahlil Pasang Rem! Ekspor Listrik ke Singapura Belum Deal, RI Tak Mau Jual Murah

6 days ago
EkonomiTerkini

Gas CNG Merah Putih Hadir! Hemat 40%, Kompor Lama Tetap Bisa Dipakai

7 days ago
EkonomiTerkini

Bahlil Desak PLN Gerak Cepat Atasi Kegelapan Warga Kalimantan dan Sumatera

7 days ago
PolitikTerkini

Moncer di Ruang Digital! Riset SSI Sebut Bahlil Jadi Penopang Terkuat Citra Positif Prabowo

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index