JAKARTA – Ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM fosil dinilai tidak boleh terus dibiarkan menjadi titik lemah ekonomi nasional. Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan ancaman gangguan pasokan energi dunia, pakar transisi energi Institut Teknologi Bandung (ITB), Retno Gumilang Dewi, menegaskan bahwa implementasi Biodiesel B50 menjadi kunci strategis untuk memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Menurut Retno, kebijakan mandatori B50 tidak bisa lagi dipandang sekadar program lingkungan atau agenda pengurangan emisi semata. Lebih dari itu, B50 kini menjadi instrumen geopolitik yang sangat vital untuk melindungi Indonesia dari guncangan eksternal akibat konflik global dan volatilitas harga minyak dunia.
“Aspek yang akan menjadikan pasokan energi kita stabil adalah memanfaatkan kekayaan milik kita sendiri. Dengan kita bisa memanfaatkannya, kita tidak akan terdampak dengan yang namanya krisis geopolitik seperti sekarang,” ujar Retno dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi counter-narrative terhadap pesimisme pasar yang meragukan efektivitas program biodiesel nasional. Retno menilai justru di tengah situasi global yang tidak menentu, Indonesia harus memperkuat pemanfaatan energi domestik berbasis sumber daya alam sendiri agar tidak terus bergantung pada impor BBM luar negeri.
Ia menegaskan bahwa isu energi kini telah berubah menjadi arena pertarungan geopolitik global. Negara-negara dunia berlomba mengamankan stok energi nasional masing-masing demi menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Karena itu, Indonesia disebut tidak memiliki banyak pilihan selain mempercepat transformasi energi nasional berbasis kekuatan dalam negeri, terutama melalui optimalisasi biodiesel berbahan baku sawit.
“Agar aman dari dampak geopolitik tersebut, Indonesia harus lebih mandiri dalam mengelola potensi energi dalam negeri,” tegasnya.
Retno menjelaskan bahwa roadmap transisi energi Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060 sudah menempatkan implementasi bertahap B40 menuju B50 sebagai salah satu fondasi utama penguatan ketahanan energi nasional pada fase 2025–2030.
Langkah tersebut dinilai sangat penting karena sektor transportasi masih menjadi penyerap BBM terbesar di Indonesia. Dengan peningkatan kadar biodiesel domestik, kebutuhan impor solar nasional diyakini dapat ditekan secara signifikan.
Di sisi lain, penggunaan biodiesel juga dinilai memberi manfaat ganda bagi ekonomi nasional karena mampu memperkuat industri sawit domestik, menjaga neraca perdagangan, sekaligus mengurangi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah akibat tingginya impor energi.
Meski demikian, Retno mengingatkan bahwa proses transisi energi tetap harus dilakukan secara bertahap dan realistis agar tidak menimbulkan guncangan ekonomi baru.
“Kalau perpindahan energi dilakukan secara mendadak, dampaknya akan sangat besar terhadap ekonomi dan masyarakat. Karena itu, transisi energi Indonesia harus dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan ketahanan energi,” katanya.
Di tengah ancaman krisis geopolitik global yang semakin kompleks, implementasi Biodiesel B50 kini dipandang bukan lagi sekadar opsi kebijakan, melainkan benteng pertahanan nasional yang mutlak diperlukan demi mewujudkan kemandirian energi sejati Indonesia.