INVERSI.ID – Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam BEM Bersatu mengungkap dugaan adanya keterlibatan pihak tertentu di balik gerakan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menilai terdapat indikasi hubungan antara sejumlah aktivis aksi dengan jaringan politik yang berkaitan dengan mantan petinggi militer.
Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, menyampaikan dugaan tersebut dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Selasa. Menurutnya, salah satu petunjuk yang menjadi perhatian adalah kendaraan yang digunakan oleh mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, yang belakangan aktif menyuarakan kritik terhadap program MBG.
“Kami melihat indikasi kuat keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan ini. Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakan diduga terdaftar atas nama SN, adik Letjen TNI Purnawirawan SS, yang merupakan besan Jenderal TNI Purnawirawan AP, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan AW, di tengah massa aksi,” kata Rahmat.
Rahmat mengatakan dugaan tersebut semakin menguat setelah Tiyo diketahui hadir dalam sebuah forum kebangsaan yang juga diikuti sejumlah tokoh nasional serta purnawirawan militer yang dimaksud.
“Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam dialog nasional kebangsaan di Bandung pada tanggal 18 Juni 2026 bersama sejumlah tokoh, seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa. Dalam forum yang sama, Letjen TNI Purnawirawan SS juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati,” ucap Rahmat.
Dalam kesempatan yang sama, BEM Bersatu menegaskan sikap mereka yang menolak segala bentuk intervensi politik praktis dalam gerakan mahasiswa. Mereka menilai independensi mahasiswa harus tetap dijaga agar tidak kehilangan fungsi sebagai representasi suara masyarakat.
“Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan,” kata Rahmat.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas sejumlah aksi mahasiswa yang muncul dalam beberapa waktu terakhir. Menurut Rahmat, sebagian gerakan mahasiswa dinilai mulai kehilangan fokus terhadap substansi perjuangan yang seharusnya diusung.
“Kami menilai sejumlah aksi mahasiswa belakangan ini mulai kehilangan arah, ditandai minim kajian, lemahnya argumentasi, dan ketidakjelasan substansi tuntutan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah gerakan masih berpihak kepada rakyat atau telah disusupi agenda tertentu,” katanya.
BEM Bersatu juga menyoroti isu yang menjadi fokus dalam berbagai aksi. Mereka mempertanyakan alasan penolakan terhadap program yang dinilai memiliki dampak langsung bagi pemenuhan gizi masyarakat.
“Sementara itu, program makan bergizi gratis yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan,” ujar Rahmat.
Selain itu, aliansi mahasiswa tersebut menilai narasi mengenai krisis yang berkembang di ruang publik perlu disikapi secara hati-hati dan harus didasarkan pada data yang komprehensif. Mereka khawatir isu tersebut dapat menggeser perhatian masyarakat dari agenda penting lainnya, termasuk upaya pemberantasan korupsi.
“Kami menyayangkan dugaan pemanfaatan aksi mahasiswa oleh pihak luar sebagaimana telah diklarifikasi sejumlah BEM, termasuk Universitas Negeri Jakarta dan Unindra (Universitas Indraprasta PGRI),” ujarnya.
Lebih lanjut, Rahmat meminta agar gerakan mahasiswa tetap steril dari berbagai bentuk intervensi, baik berupa dukungan pendanaan, fasilitas, maupun kepentingan politik tertentu.
BEM Bersatu juga menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis dengan tetap mendorong perbaikan tata kelola. Selain itu, mereka mendukung penegakan hukum terhadap kasus dugaan korupsi secara adil tanpa pandang bulu serta mengajak mahasiswa untuk mengawasi proses tersebut secara kritis dan objektif.
“BEM Bersatu akan terus mengawal kemurnian gerakan mahasiswa agar tetap independen, berpihak kepada rakyat, serta bebas dari intervensi elite politik,” kata dia.