JAKARTA — Kekhawatiran bahwa penggunaan kompor listrik akan membuat tagihan rumah tangga membengkak mulai terpatahkan oleh data terbaru. Perbandingan biaya operasional tahun 2026 justru menunjukkan bahwa kompor listrik merupakan pilihan yang lebih hemat dibandingkan penggunaan LPG, terutama untuk gas non-subsidi.
Data komparasi biaya penggunaan energi rumah tangga memperlihatkan bahwa dengan tarif listrik Rp1.444 per kWh, biaya memasak menggunakan kompor listrik hanya berkisar Rp1.400 hingga Rp1.800 per hari. Dalam sebulan, pengeluaran yang dibutuhkan berada di rentang Rp43.000 hingga Rp56.000.
Sebagai pembanding, pengguna LPG 3 kilogram bersubsidi mengeluarkan biaya sekitar Rp1.600 hingga Rp2.500 per hari atau Rp48.000 hingga Rp76.000 per bulan. Sementara pengguna LPG non-subsidi kemasan 5 kg hingga 12 kg harus merogoh kocek jauh lebih besar, yakni Rp6.000 hingga Rp7.500 per hari atau sekitar Rp180.000 hingga Rp220.000 per bulan.
Artinya, penggunaan kompor listrik mampu menghemat sekitar 10–20 persen dibandingkan LPG 3 kg bersubsidi. Bahkan jika dibandingkan dengan LPG non-subsidi, tingkat penghematan bisa mencapai 70–75 persen.
Temuan tersebut sejalan dengan berbagai kajian efisiensi energi yang menunjukkan bahwa kompor listrik, khususnya kompor induksi, memiliki tingkat efisiensi panas jauh lebih tinggi dibandingkan kompor gas. Efisiensi panas kompor induksi dapat mencapai 85–90 persen, sedangkan kompor LPG umumnya hanya berada di kisaran 40–50 persen. Akibatnya, energi yang terbuang selama proses memasak menjadi jauh lebih sedikit.
Kompor listrik mampu memanaskan peralatan masak lebih cepat karena panas dihasilkan langsung pada dasar panci melalui teknologi elektromagnetik. Sebaliknya, kompor LPG masih kehilangan sebagian panas ke udara sehingga efisiensinya lebih rendah.
Selain faktor efisiensi, stabilitas biaya juga menjadi nilai tambah. Harga LPG, terutama non-subsidi, sangat dipengaruhi kondisi pasar energi global dan biaya impor. Sebaliknya, tarif listrik rumah tangga cenderung lebih stabil sehingga memudahkan keluarga dalam mengatur pengeluaran bulanan.
Pengguna kompor induksi Andi Arif mengaku peralihan dari LPG ke listrik tidak berdampak signifikan terhadap pengeluaran rumah tangganya. Bahkan, kenaikan tagihan listrik yang ia rasakan hanya sekitar Rp30.000 per bulan.
“Kalau dibandingkan dengan biaya isi ulang gas yang harganya sering naik, tambahan listrik itu masih jauh lebih ringan,” ujar Andi Arif di Jakarta, akhir pekan lalu.
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno juga menilai transisi menuju kompor listrik lebih ekonomis dibandingkan ketergantungan pada LPG impor yang selama ini membebani anggaran negara.
“Kami sudah hitung, masih akan lebih murah (transisi ke kompor listrik) daripada mengimpor LPG,” kata Eddy Soeparno.
Dengan perbandingan biaya tersebut, narasi kompor listrik selalu lebih mahal dibandingkan LPG semakin sulit dipertahankan. Bagi rumah tangga yang selama ini menggunakan LPG non-subsidi, perpindahan ke kompor listrik berpotensi memangkas pengeluaran energi bulanan secara signifikan. Bahkan bagi pengguna LPG subsidi sekalipun, potensi penghematan tetap tersedia berkat efisiensi energi yang lebih tinggi dan biaya operasional yang lebih terkendali.
Di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat transisi energi rumah tangga, data tahun 2026 menunjukkan bahwa manfaat penggunaan kompor listrik tidak hanya berkaitan dengan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan keuntungan finansial langsung bagi konsumen.