INVERSI.ID – Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pemerintah melihat peluang berkurangnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dari sisi pengeluaran subsidi energi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah sebelumnya telah mengantisipasi kemungkinan lonjakan harga energi dunia dengan menyiapkan alokasi anggaran khusus untuk subsidi. Jika situasi global semakin kondusif dan harga energi bergerak lebih stabil, kebutuhan dana subsidi diperkirakan ikut menurun.
“Kan kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi,” kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin.
Menurut Purbaya, penurunan beban subsidi energi berpotensi menciptakan ruang fiskal yang lebih luas. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mendukung berbagai program prioritas yang menjadi agenda utama Presiden.
“Sehingga akan jauh berkurang (beban subsidi) dan ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh presiden. Jadi kita lihat seperti apa perkembangannya, kemudian baru kita sesuaikan,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah belum akan terburu-buru melakukan perubahan terhadap postur APBN. Evaluasi akan tetap dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyambut positif kabar mengenai tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah Indonesia berharap langkah tersebut dapat menjadi awal bagi deeskalasi konflik serta menciptakan stabilitas yang lebih baik di kawasan Timur Tengah.
“Hal tersebut merupakan perkembangan positif menuju penyelesaian konflik secara damai serta terciptanya perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan,” demikian pernyataan Kemlu RI melalui media sosial X, Senin.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan dengan Iran telah berhasil dicapai. Ia juga menyampaikan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka dan blokade angkatan laut AS dihentikan.
Di pihak lain, pemerintah Iran turut mengonfirmasi tercapainya kesepahaman dengan Amerika Serikat. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyebut nota kesepahaman antara kedua negara telah difinalisasi dan dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada 19 Juni mendatang.
Kesepakatan tersebut disebut mencakup penghentian berbagai operasi militer di sejumlah wilayah konflik, termasuk yang berkaitan dengan situasi di Lebanon.
Jika implementasi perjanjian berjalan sesuai rencana, stabilitas kawasan Timur Tengah berpotensi membaik. Kondisi ini juga dapat berpengaruh terhadap pergerakan harga energi global yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam perhitungan kebijakan fiskal berbagai negara, termasuk Indonesia.