JAKARTA — Meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat menjadi momentum yang menunjukkan kuatnya ketahanan energi nasional. Di tengah gejolak geopolitik yang sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia, Indonesia berhasil melewati masa-masa kritis tanpa mengalami kelangkaan BBM maupun gangguan pasokan energi yang berarti.
Keberhasilan tersebut dinilai tidak lepas dari langkah cepat pemerintah melalui strategi diversifikasi pasokan migas yang digerakkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Saat risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah meningkat, pemerintah langsung mencari sumber energi alternatif dari berbagai negara untuk menjaga ketersediaan energi dalam negeri.
Bahlil mengungkapkan sekitar 20 persen kebutuhan energi Indonesia masih bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah mengamankan pasokan dari wilayah lain.
“Pemerintah mencari sumber-sumber pasokan lain untuk mengganti yang dari Middle East. Untuk penggantinya sudah kita dapat,” ujar Bahlil di bulan Maret lalu saat kritis geopolitik tengah meradang.
Menurut Bahlil, diversifikasi difokuskan pada pengadaan LPG dan minyak mentah (crude). Untuk LPG, pemerintah mulai mengalihkan sumber impor dari negara-negara non-Timur Tengah, terutama Amerika Serikat. Sementara kebutuhan BBM diperkuat melalui impor dari negara-negara Asia Tenggara dan peningkatan produksi dalam negeri.
Pemerintah juga mengandalkan produksi dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang mulai beroperasi awal tahun ini. Kilang tersebut diproyeksikan menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin dan 4,5 juta kiloliter Solar, sehingga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor BBM jadi.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, menjelaskan pengalihan kuota impor sekitar 20 persen melibatkan kerja sama dengan Amerika Serikat, Australia, Brunei Darussalam, hingga sejumlah negara di Afrika.
Selain diversifikasi pasokan, pemerintah juga memperkuat ketahanan energi melalui peningkatan kapasitas penyimpanan BBM nasional dari 28 hari menjadi 100 hari, pembangunan jaringan gas rumah tangga, serta program efisiensi energi.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memastikan pasokan energi tetap tersedia bagi masyarakat.
“Darurat energi itu terjadi jika suplainya berhenti. Saat ini suplainya masih ada, jadi kita tidak dalam status darurat, namun harus terus bersiap-siap,” kata Purbaya.
Tetap amannya pasokan energi selama periode konflik hingga munculnya momentum perdamaian Iran-AS menjadi bukti bahwa strategi diversifikasi migas yang dijalankan pemerintah berhasil menjaga stabilitas energi nasional di tengah gejolak global.